Senin, 17 Desember 2007

CHO: MONSTER KAMPUS DENGAN JIWA RETAK

CHO: MONSTER KAMPUS DENGAN JIWA RETAK
Oleh Akhmad Kusaeni

Jakarta, 19/4 (ANTARA) – Cho Seung-hui, orang yang oleh polisi dinyatakan sebagai pembantai massal terkeji sepanjang sejarah Amerika, menyimpan misteri untuk dirinya sendiri. Ia seorang pendiam yang penyendiri.
Media memberitakan jatidirinya sebagai berusia 23 tahun, keturunan Korea Selatan, dan mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Universitas Virginia Tech. Tapi pers samakali tidak mampu menjelaskan apa motif dia membunuh 32 orang secara membabi buta di pagi hari itu.
Cho membunuh dirinya sendiri sehingga tertutup kemungkinan aparat penyidik mengorek keterangan mengenai alasan mengapa dia sampai berbuat kekerasan yang menghebohkan dunia itu.
Para wartawan yang meliput tragedi itu mencoba mencari jawaban dan berspekulasi. Koran Daily Mail menulis bahwa penembakan yang membabi buta itu disebabkan Cho ribut dengan pacarnya. Ada saksi mata yang melihat sang pembantai bertengkar dengan pacarnya di asrama. Bapak asrama dipanggil dan mencoba melerai, namun Cho menembak lekaki itu dan juga sang pacar.
Washington Post menulis cerita yang lain dan rada kontradiktif dengan koran terbitan Inggris itu. Setelah diidentifikasi, jenazah mahasiswi yang ditembak Cho ternyata bukan pacar si pembantai.
Jadi, motivasi pembantaian masih kabur. Tidak jelas pada awal mulanya.
Ketika polisi menggeladah kamar tempat tinggal Cho di asrama, mereka menemukan catatan-catatan si pembantai yang menggambarkan betapa hidupnya kacau bagai neraka sehingga ia memutuskan untuk bunuh diri saja. Anehnya, teman-teman se asrama mengatakan Cho bersikap biasa, normal-normal saja, dua jam sebelum penembakan maut terjadi.
Dalam secarik kertas yang ditinggalkannya di asrama, Cho menuliskan sejumlah kekecewaannya terhadap “mahasiswa kaya”, “pesta pora berlebihan”, dan “para pendusta” di kampus. Mereka itu yang dianggap sebagai “penyebab saya melakukan semua ini”. Polisi juga menemukan di jenazah Cho tulisan “Kampak Ismail” berwarna merah di lengan. Tidak jelas betul apa makna tulisan itu. Hanya Cho sendiri yang tahu.

Perilaku yang mengganggu
Lucinda Roy, seorang guru dalam penulisan kreatif, mengaku terganggu dengan perilaku Cho dan menulis peringatan kepada polisi kampus dan pejabat lain, tapi mereka tidak bisa berbuat apapun karena tidak ada ancaman langsung dan tidak bisa melanggar kebebasan berbicara dan berekspresi sebagai hak asasi manusia.
Roy kepada jaringan televisi ABC mengatakan Cho tampaknya “luar biasa kesepian”. Bahkan sang guru berani mengatakan bahwa Cho adalah orang paling kesepian yang pernah dia temui selama hidupnya. Cho selalu mengenakan kacamata hitam dan topi, bahkan ketika di dalam kelas. Kalau bicara seperti berbisik dan sering kedapatan memotret si guru dengan telepon genggamnya.
Yang lebih mencengangkan Roy adalah hasil karya Cho dalam matakuliah penulisan kreatif. Naskah scenario yang dibuat Cho dengan judul “Richard McBeef” sungguh mendirikan bulu roma. Cho seorang pemuja kekerasan yang liar. Dalam scenario itu diceritakan adegan-adegan kekerasan, gergaji mesin, pedophilia dan di akhir cerita ditutup dengan “pukulan maut yang mematikan” dari seorang ayah tiri kepada anak berusia 13 tahun.
Naskah yang lain berjudul “Mr. Brownstone” juga tak kalah kejinya. Mr. Brownstone, nama itu diambil dari lirik lagu band Guns N’ Roses, adalah seorang guru yang dibenci oleh mahasiswa. Para mahasiswa itu bersumpah untuk membunuh sang guru saat berjudi di sebuah casino.
Saking horrornya, Roy mengusulkan agar Cho berkonsultasi kepada ahli jiwa. Namun, Roy tidak peduli dengan usulan itu. Ia malah menulis di forum online kampus bahwa “Aku akan membunuh orang-orang di Virginia Tech”. Tapi, lagi-lagi orang tak percaya. Dikira Cho hanya ‘melantur’ atau “mengingau”.
Profesor Caroline Rude, pengajar jurusan Sastra Inggris, mengakui bahwa Cho adalah “anak yang tidak normal” dari hasil-hasil karyanya.
“Orang yang menulis cerita kekerasan bisa saja seorang yang kreatif dengan imajinasi liar, tapi bisa juga orang yang membayangkan untuk melakukan kekerasan sesuai dengan karyanya,” kata Rude seperti dikutip Chicago Tribune.
Begitu polisi mengumumkan Cho adalah pelaku pembantaian, maka Rude dan para guru di Virginia Tech baru sadar bahwa hasil karya Cho bukanlah imajinasi kreatif, melainkan imajinasi jahat dan destruktif.
“Saya tidak heran kalau dia pelakunya,” ujar Abdul Shash, rekan satu asrama Cho.

Kirim video
Tapi soal motif, masih saja menjadi misteri sampai jaringan televisi NBC News menerima paket video kiriman “monster kampus Virginia Tech” itu hari Rabu atau Kamis waktu Indonesia. Dari video yang kemudian ditayangkan NBC News bisa dilihat bagaimana Cho menjelaskan “motivasi jihad”-nya. Ia memakai topi yang dipasang terbalik, rompi militer, dan dua pistol di tangan kanan dan kirinya yang siap menyalak.
Dengan tatapan mata penuh amarah dan dendam, Cho mengungkapkan hatinya yang retak, koyak, remuk redam.
“Kalian telah mencabik hatiku, memperkosa jiwaku dan melukai nuraniku,” katanya menghadap kamera sambil matanya sesekali melirik ke bawah untuk membaca manifesto yang dibuatnya.
“Kalian fikir telah mengenyahkan seorang anak muda yang menyebalkan. Namun tidak, (kematiannya) itu seperti Yesus Kristus. Akan menjadi inspirasi bagi generasi lemah dan tak berdaya di masa datang”.
Saat ia merekam pesan bunuh dirinya itu sudah barang tentu ia tahu pasti bahwa itu akan sampai kepada seluruh negeri, bahkan seluruh bangsa di dunia.
“Saya tidak perlu melakukan semua ini. Saya bisa saja kabur,” katanya. “Tapi tidak, saya tidak akan lagi melarikan diri”.
“Ini bukan untuk saya. Untuk anak-anak, saudara, saudariku…Saya melakukannya untuk mereka”.
Yang menjadi pertanyaan adalah Cho ingin kabur melarikan diri dari siapa? Kepada siapa pesan itu ditujukan? Mengapa dia menyamakan dirinya dengan Yesus Kristus?
“Kalian punya cara untuk menghindari apa yang terjadi hari ini,” katanya lagi. “Tapi kalian sendiri yang memutuskan untuk menumpahkan darahku. Kalian mendorongku pada sebuah pojok dan memberiku hanya satu pilihan. Keputusan ada pada kalian. Kini kalian belepotan darah di tangan yang tak bisa dibersihkan”.
Ternyata yang disebut “Kalian” oleh Cho adalah rekan-rekan mahasiswa sekampusnya di Virginia Tech University, yang dibantainya tiga hari lalu. Ini terbukti dari apa yang disampaikan Cho di akhir manifesto bunuh dirinya.
“Mercedes kalian tidak pernah cukup, bajingan!” katanya.
“Kalung-kalung emas kalian tidak pernah cukup, hai tukang pamer!”
“Saham-saham kalian tidak pernah cukup. Vodka dan minuman keras kalian juga tidak pernah cukup. Pesta pora kalian tidak pernah cukup. Semua itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hedonis. Kalian memiliki semuanya”.
Cho, seperti dikutip kantor berita AP, tampaknya tak memiliki apa-apa.
Ia tak punya teman, tak memiliki kehidupan kampus yang normal seperti mahasiswa lain yang diwarnai “buku, pesta dan cinta”.
Lebih dari itu, ia tak memiliki alasan untuk hidup.
Hanya hasrat untuk mati.
Dan sebuah keinginan untuk menunjukkan kepada dunia betapa hatinya retak dan koyak.

Tidak ada komentar: