Kamis, 05 Juni 2008

ABG GENERASI "CLICK FIVE"

Oleh Akhmad Kusaeni

Jakarta, 5/6 (ANTARA) – Generasi apakah gerangan para remaja belasan tahun yang berjingkrak histeris menonton konser ”The Click Five” di Istora Senayan, Jakarta, Rabu malam, 4 Juni 2008?
Mereka adalah anak-anak baru gede yang biasa disebut ABG. Mungkin duduk di bangku SMP, atau SMA. Nonton pun masih harus didampingi orang tua. Tapi mereka, kebanyakan cewek, punya hasrat dan energi yang luar biasa.
Mereka menyanyi, mereka berjingkrak, mereka berteriak, mengelu-elukan grup band asal Boston, Amerika Serikat, yang lima personil nya muda usia. Kece-kece pula. Sahutan “Kyle, I love you!” untuk si vokalis imut-imut (juga “I love you, Joey” untuk si drumer keren) seakan tak pernah berhenti berkumandang selama dua jam pertunjukan.
Siapakah gerangan para ABG yang malam itu, sambil bernyanyi dan berjingkrak, masih sempat memotret, menelepon di tengah kebisingan musik pop-rock, dan ber-SMS ria dalam kerumunan penonton?
Mereka adalah anak-anak kelas menengah kota yang membeli tiket seharga Rp250.000 sampai Rp350.000 lewat Internet atau online banking. Lalu datang ke tempat konser, umumnya dengan sejumlah kawan, dengan membawa sendiri mobil macam Honda Jazz, Suzuki Swift, atau sejenis city car lainnya. Yang lain diantar orang tua, atau sopir, dengan mobil yang lebih mewah lagi.
Mereka adalah generasi post-modern yang sekolah di International School yang berpengantar Bahasa Inggris dan tumbuh menjamur di seantero Ibukota. Paling tidak, mereka belajar di sekolah favorite mahal, mengambil kursus bahasa asing, atau pernah tinggal di luar negeri, sehingga gaya mereka bicara persis Cinta Laura. Artis remaja blasteran Indo-Jerman itu dikenal suka bicara ”campur sari” Indonesia-Inggris. Kalimat Cinta Laura yang terkenal adalah “Mana hujan, becek, gak ada ojek... So, I call my parent untuk menjemput”.

Anak-anak global
Mereka, meminjam istilah Thomas L.Friedman dalam buku “The Lexus and the Olive Tree”, adalah anak-anak masa depan yang dibentuk oleh budaya global yang didominasi oleh tiga M, yaitu Mc Donald, MTV, dan Macintosh.
Anak-anak global diwarnai gaya hidup dan budaya massa global. Mereka menggemari rantai makanan fast food waralaba internasional, memiliki perilaku dan gaya hidup yang dipengaruhi idolanya di MTV, serta terbiasa menggunakan teknologi komunikasi canggih seperti Internet, blogs, dan friendster.
Oleh Steven D.Zink dari Universitas Nevada, Amerika Serikat, anak-anak global tersebut disebut “Net Generation”. Mereka lahir dan besar pada saat meruaknya teknologi Internet dengan world wide web (WWW)-nya. Net Generation hanya memerlukan satu alat, sebut saja hand phone, untuk melakukan apa saja yang diinginkannya: menelepon, menonton, chatting, browsing, downloading, main game, memotret, memesan dan membeli barang.
Dira, siswi kelas 2 SMP Labschool, Rawamangun, Jakarta Timur, termasuk ”Net Generation”. Setiap hari merasa harus ”nginternet” satu atau dua jam. Di depan komputer, ia melakukan berbagai aktivitas sekaligus. Mendengarkan musik, mengirim dan membalas email, chatting, searching, downloading lagu, posting foto, dan updating blogs miliknya: dirasblogandlyrics.multiply.com.
Ia memiliki 500-an teman di friendster dari berbagai negara, menjadi anggota fans The Click Five bersama jutaan remaja di seluruh dunia lainnya, membeli ticket konser di Detik.Com atau memesan buku lewat Amazon.com. Ia juga mencari data untuk karya tulis dan PR sekolah di Google dan menganggap Wikipedia sebagai guru yang bisa menjawab apapun yang ingin diketahuinya.

Dunia yang berbeda
Anak-anak global atau Net Generation jelas sangat berbeda dengan generasi orang tuanya. Menurut Thomas Friedman, kebanyakan orang tua sekarang hidup dalam era Perang Dingin, sedangkan Net Generation lahir dan besar dalam era pasca Perang Dingin atau era globalisasi.
Pola pikir orang tua adalah pola pikir Perang Dingin. Yang kuat adalah yang memiliki senjata dan bom lebih banyak. Dunia terbelah menjadi Barat dan Timur, komunis dan kapitalis, kawan dan musuh. Presiden pertama Indonesia Soekarno pernah melarang musik ”ngak-ngik-ngok” dimainkan di Tanah Air, hanya karena musik itu berasal dari Barat. Soekarno pulalah yang pernah menyatakan ”Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”.
Sedangkan pola pikir Net Generation adalah pola pikir globalisasi. Kalau masa Perang Dingin pertanyaannya adalah seberapa banyak rudal anda, maka pada era globalisasi pertanyaannya adalah seberapa banyak bandwith anda? Seberapa kuat sinyal ponsel anda?
Kalau pada Perang Dingin dunia ditandai keterpisahan (NATO versus Pakta Warsawa), maka era globalisasi ditandai ketersatuan dan integrasi (WTO, Organisasi Perdagangan Dunia). Tidak ada lagi Barat-Timur, Komunis-Kapitalis, tapi satu dunia.
Dalam kampung dunia (global village) semua memiliki peluang dan hak yang sama. Anak-anak di Indonesia, asal memiliki akses ke tiga M (McDonald, MTV dan Macintosh), akan tumbuh sama dan sebangun dengan anak-anak di belahan dunia lain, di benua Amerika, Eropa atau Afrika.
Anak-anak global bisa menyukai jenis makanan yang sama, memiliki idola yang sama, dan gaya hidup yang sama. Fenomena inilah yang tampak pada konser The Click Five di mana saja: di Amerika, Jepang, Cina, Malaysia, atau Indonesia. Anak-anak kulit putih, kuning, hitam, dan sawo matang bisa bernyanyi bersama, jingkrak-jingkrak bersama, dan memuja idola yang sama.
Mereka adalah generasi ”Click Five” (Click atau klik adalah bunyi tombol komputer ketika ditekan). Mereka adalah Net Generation yang hidup dalam ”alam pikiran modern dan masa-masa menyenangkan”, sebagaimana bunyi tajuk tur The Click Five 2008: "Modern Minds and Great Times”.