Rabu, 30 September 2009

Mobil Balap dengan Dua Busi

Oleh : Akhmad Kusaeni

Serba salah bagi Presiden. Mendiamkan saja kekosongan pimpinan KPK dianggap lepas tangan. Berinisiatif mencari pelaksana tugas untuk mengganti tiga pimpinan KPK non-aktif juga dituding sebagai intervensi. Bahkan ada yang tega mengatakan Presiden berusaha melemahkan KPK.

Niat baik saja ternyata tidak cukup. Barangkali pikiran presiden sederhana saja. Ini ada kekosongan menyusul non-aktifnya Wakil Ketua KPK Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto serta Ketua KPK Antasari Azhar yang sudah ditetapkan jadi tersangka jauh-jauh hari sebelumnya. Praktis pimpinan KPK yang tersisa tinggal dua, yakni M Jasin dan Haryono Umar.

Supaya pemberantasan korupsi tetap "kenceng", pemerintah menganggap perlu segera ada pengganti Antasari, Chandra dan Bibit. Apa salahnya?

"Ibaratnya KPK itu seperti kereta yang ditarik lima ekor kuda. Lha, kalau kuda yang nariknya tinggal dua, apa kereta bisa jalan dengan kecepatan yang sama? Apa tidak ngos-ngosan?" kata mantan Ketua KPK Taufiequrahman Ruki.

Tamsil yang sama juga disampaikan Adnan Buyung Nasution, anggota Dewan Pertimbangan Presiden untuk masalah hukum. KPK itu ibarat mobil balap yang bisa melaju sangat cepat karena dilengkapi mesin ber-CC besar dengan lima busi yang bekerja prima.

"Apa jadinya kalau mobil balap itu businya tinggal dua?" tanya Buyung seusai pertemuan dengan para pemimpin redaksi di Hotel Borobudur, Jumat lalu (25/9).

Seorang wartawan sambil terkekeh menyahut: "Kayak Bajaj dong Bang".

Siapa yang tinggal di Jakarta paham betul perangai Bajaj di jalanan Ibu kota. Selain jalannya lelet, konon hanya Tuhan yang tahu kalau Bajaj itu mau belok ke kiri atau ke kanan.

Persoalannya, KPK itu mau tetap jadi mobil balap atau Bajaj yang sering dicap sebagai sandal jepit jalanan?

Bisa ngebut

Pemerintah, khususnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tentu menginginkan KPK itu seperti mobil balap yang bisa ngebut dalam memberantas korupsi. Bukankah salah satu pencapaian SBY dalam lima tahun kepresidenannya yang pertama adalah keberhasilan dalam pemberantasan korupsi?

Iklan kampanye SBY, yang menarik hati pemilih, adalah "Katakan Tidak Pada Korupsi". Mana mungkin SBY mengkhianati tekadnya sendiri dan pencapaiannya sendiri? Melemahkan KPK berarti melemahkan pemberantasan korupsi itu sendiri.

Dari kerangka pemikiran seperti itu, mestinya upaya mengisi kekosongan pimpinan KPK itu dinilai sebagai niat baik untuk menjaga stamina gerakan anti korupsi. Tak mungkin Haryono dan Jasin sendirian bisa memikul tugas berat KPK. Koruptor-koruptor masih bergentayangan untuk ditangkap. Yang sudah ditetapkan sebagai tersangka harus diperiksa. Mereka antri untuk di-BAP dan diserahkan ke pengadilan untuk diadili.

Dalam pertemuan dengan Tim Lima yang ditunjuk presiden untuk menjaring tiga pemimpin baru KPK, Haryono dan Jasin mengakui soal beratnya tugas mereka.

"Mereka berdua ikhlas jika ada pelaksana tugas pimpinan KPK," kata Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Widodo AS, yang menjadi semacam koordinator Tim Lima, yang anggotanya Menteri Hukum Andi Mattalata, Taufiequrahman Ruki, Adnan Buyung Nasution, dan pengacara senior Todung Mulya Lubis.

Meski ikhlas, ternyata mengisi kekosongan pimpinan KPK itu, bukan persoalan gampang karena begitu banyak seginya. Ini menyangkut masalah kewenangan, legalitas, dan yang lebih ramai adalah aspek politis dan politisasinya.

Supaya tidak dianggap sewenang-wenang, Presiden menugaskan Tim Lima untuk mencari orang-orang yang dianggap pas memimpin KPK. Mereka hanya diberi waktu satu pekan. Itu mirip tugas Bandung Bondowoso yang harus membangun 1.000 candi dalam waktu semalam. Berat namun menantang.

Tim Lima harus mendapatkan tiga nama sebelum tenggat 1 Oktober 2009. Siapa pun tiga nama itu, mereka harus bisa langsung bekerja, rekam jejak bagus dan tak punya cacat di mata publik, serta tak punya hambatan psikologis untuk bekerja sama dengan dua pimpinan KPK tersisa sekarang. Kriteria itu ditambah oleh Haryono dan Jasin: ketiga pendekar baru KPK itu harus independen.

Tak ada titipan

Artinya, Haryono dan Jasin ingin bahwa koleganya nanti bukan perpanjangan tangan presiden, apalagi itu nama "titipan".

"Di pundak kami tidak ada beban. Tidak ada titip-titipan," kata Koordinator Tim Lima Widodo AS saat bertemu dengan pimpinan media massa.

Di tangan Tim Lima lah nasib pemberantasan korupsi ke depan ditentukan. Polemik mengenai Perppu, tudingan intervensi dan pelemahan KPK, tarik menarik kepentingan, akan dengan sendirinya terkikis jika niat baik "menambah kuda pada kereta dan memberi busi pada mobil balap KPK" itu bisa dibuktikan pada kinerja lembaga superbody pemberantasan korupsi itu.

Kita tidak mau perdebatan mengenai Perppu, konflik cicak lawan buaya, justru menjadi moratorium bagi upaya pemberantasan korupsi. Tikus-tikus pencuri dan perampok uang negara akan bergembira, karena kucing yang mereka takuti sibuk ribut dan bertengkar dengan sesamanya.

Lebih baik kita menunggu dan memberi kesempatan kepada darah segar baru di KPK. Sebentar lagi akan diumumkan siapa-siapa pelaksana tugas pimpinan KPK itu. Tim Lima menjaring ratusan, mungkin ribuan nama yang masuk, lalu menyorongkan kepada presiden tiga nama yang terbaik.

Lalu tiga nama itu akan langsung tancap gas. Mobil balap pemberantasan korupsi, dengan full speed karena busi penggeraknya sudah kembali lima, segera unjuk gigi. Mungkin ada penangkapan-penangkapan koruptor baru, pengungkapan kasus baru, dan yang sudah pasti kasus Bank Century sudah menunggu. (***)

Jumat, 14 Agustus 2009

MENGAPA PENGEBOM BUNUH DIRI DISEBUT "PENGANTIN"

Oleh : Akhmad Kusaeni

(ANTARA)Jakarta (ANTARA News) - Selain Noordin M Top, gembong teroris yang paling dicari oleh aparat kepolisian adalah Saefudin Jaelani. Pedagang obat-obat herbal dan ahli pengobatan bekam ini ternyata orang yang bertugas merekrut calon pelaku bom bunuh diri.

Danni Dwi Permana, 18 tahun, bomber Hotel JW Marriott, adalah hasil rekrutan Jaelani. Polisi menduga keras ustadz asal Cirebon, Jawa Barat, itu juga merekrut 14 pemuda lain untuk dijadikan "pengantin". Pengantin adalah istilah yang digunakan oleh kelompok teroris bagi calon pengebom bunuh diri.

Mengapa pengebom bunuh diri disebut pengantin?

David Brooks menulis mengenai "The Culture of Martyrdom" (Majalah Atlantic edisi Juni 2002) dan mencoba mengkaitkan dengan sejarah pengebom bunuh diri di kalangan pejuang Palestina yang menentang pendudukan Israel.

Brooks mengutip laporan wartawan Pakistan Nasra Hassan yang mewawancarai 250 orang yang merekrut dan melatih para calon pelaku bom bunuh diri di Palestina selama kurun waktu dari tahun 1996 sampai 1999.

Kesimpulannya, pengebom bunuh diri umumnya sangat loyal kepada kelompoknya. Mereka melalui proses indoktrinasi dan cuci otak persis seperti yang dilakukan oleh Jim Jones pemimpin Sekte Matahari kepada para jemaahnya menjelang bunuh diri masal tahun 1977.

Calon pengebom dikelompokkan ke dalam sel-sel kecil dan diberikan ceramah agama serta melakukan ritual ibadah yang intensif. Mereka diajak untuk melakukan jihad (meski pemahaman akan jihadnya menyesatkan), dibakar kebenciannya terhadap musuh (biasanya simbol-simbol Barat dan pendukung Israel) dan diyakinkan akan masuk surga sebagai balasan tindakannya.

"Pengebom bunuh diri dicekoki bahwa surga terbentang dibalik detonator pemantik bom dan ajal kematian akan dirasakan tidak lebih dari sekedar cubitan (yang sama sekali tidak menyakitkan)," tulis Brooks.

Bahkan perekrut kadang meminta calon pengebom bunuh diri untuk terlentang di lubang kubur kosong, sehingga mereka bisa merasakan bagaimana tentramnya kematian yang akan tiba. Sebaliknya kepada mereka diingatkan secara terus menerus bahwa hidup di dunia itu fana, sementara, banyak penderitaan, cobaan dan penghianatan.

Yang abadi adalah di surga dimana ada 72 bidadari yang menunggu dengan penuh cinta.

Mungkin karena akan bertemu dan menikah dengan bidadari di surga itu, maka si calon pengebom bunuh diri disebut sebagai pengantin. Lalu saat bom meledak dan nyawa si pelaku melayang disebut sebagai "perkawinan", yakni pertemuan antara jiwa si pelaku dengan sang bidadari.


Tulis surat wasiat

Jika calon pengebom bunuh diri itu telah tamat dicuci otaknya dan siap menjalankan misinya, mereka diminta menulis surat wasiat dan menyampaikan pesan-pesan terakhirnya dalam rekaman video.

Salah satu pesan dari seorang pelaku bom bunuh diri yang dikutip dari laporan Nasra Hassan adalah "Aku akan membalas dendam atas anak-anak monyet dan babi, yaitu orang kafir, Yahudi, dan musuh-musuh manusia. Aku akan segera bertemu dengan saudaraku para syuhada yang lebih dulu masuk surga".

Ketika calon pengebom bunuh diri sudah membuat wasiat dan merekam pesan terakhirnya di rekaman video, maka tidak ada kata untuk mundur lagi. Membatalkan misi bunuh diri sangat memalukan. Ia tinggal mensucikan diri, berdoa dan membawa bom untuk diledakkan di tempat yang diperintahkan kepadanya: bisa di pasar, diskotik, bus, atau markas tentara.

Achyar Hanif, seorang ustadz dan alumnus dari New York University, Amerika Serikat, yang mengamati perilaku pengebom bunuh diri menyatakan anak-anak muda yang direkrut menjadi pengantin umumnya tidak tahu apa-apa. Anak-anak remaja itu dicekoki, diindoktrinasi, diprovokasi untuk membenci dengan dalih-dalih agama yang sesungguhnya menyesatkan.

Sebab, katanya, dalam ajaran Islam, bunuh diri itu dilarang, apalagi membunuh orang lain.(Quran 4: 29-30). Dalam Islam, mengambil nyawa orang itu hanya bisa dilakukan dalam kaitan dengan penegakan hukum, seperti hukuman mati untuk pembunuh. Tapi, dalam Quran 17:33 ditegaskan bahwa memaafkan (si pembunuh) itu lebih baik.

Bahkan pada saat dalam keadaan perang pun, menyakiti orang-orang tak berdosa dilarang oleh nabi Muhammad SAW. Masuk dalam kategori "noncombatant", ini adalah wanita, anak-anak, dan orang-orang uzur dan tua. Selain itu, dalam perang sekalipun tidak diperbolehkan untuk menghancurkan tanaman dan bahan pangan.

"Hal itu karena Tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang. Islam adalah perdamaian," kata Achyar Hanif.


Orang tanpa harapan

Mengenai semakin banyaknya anak-anak muda yang menjadi pelaku bom bunuh diri di Indonesia, Achyar menekankan pentingnya semua pihak mengatasi persoalan kemiskinan, pengangguran, dan persoalan sosial.

"Para teroris mengincar remaja yang putus sekolah, pemuda yang tidak punya pekerjaan, orang-orang yang punya pendapatan tapi sangat rendah. Orang-orang tanpa harapan inilah yang direkrut, dibina, dicuci otaknya untuk menjadi teroris," tegasnya.

Hasil penelitian Dr Yusef Yadgari menyebutkan bahwa sebagian pengebom bunuh diri dilandasi oleh keputusasaan dan mereka umumnya datang dari kelompok masyarakat yang miskin dan marjinal.

Di Afghanistan, menurut Yadgari, statistik menyebutkan bahwa 80 persen pelaku serangan bunuh diri memiliki cacat fisik dan persoalan mental.

Sebanyak 110 kasus serangan bunuh diri di Afghanistan pada tahun 2007 dilakukan oleh pelaku yang memiliki masalah kesehatan seperti kanker, lepra, atau penyakit akut lainnya.

Sebagian lagi tercatat memiliki persoalan kejiwaan seperti anti-sosial, trauma, penyimpangan perilaku, paranoid, kebencian yang berlebihan, kemarahan yang tak terkendali dan narsistis.

Profil penyerang bunuh diri di Timur Tengah menurut studi terakhir adalah 83 persen belum menikah, 64 persen berusia antara 18-23, dan 29 persen setidaknya lulus SMA.

Jika dilihat siapa yang melakukan pengeboman bunuh diri di Indonesia, angka statistik di Timur Tengah tersebut tidaklah jauh berbeda. Danni Dwi Permana, pelaku bom bunuh diri di hotel JW Marriott berumur 18 tahun. Ia baru saja lulus SMA Yadika 7 Bogor. Pekerjaannya adalah marbot atau penjaga masjid. Sementara Zulkifli Aroni, ayah Danni, sedang menjalankan pidananya di penjara. Tini Larantika, ibunya, bekerja di Kalimantan sehingga Danni harus hidup dan menghidupinya sendirian.

Sebagaimana pengakuan Tini, puteranya itu telah menjadi korban teroris yang merekrutnya dengan penerapan konsep jihad yang salah. Memang kepada Tini, Danni pernah mengatakan ingin berjihad. Namun, jihad yang ia katakan adalah berdakwah dari mesjid ke mesjid. Tini sangat terpukul jihad anaknya itu berubah menjadi jihad yang menyakiti orang.

Tini tetap yakin bahwa Danni itu bukan teroris, melainkan hanya korban. Berjihad itu, katanya, bukan dengan menjadi teroris. Tapi apa lacur, kelompok teroris telah merekrutnya dan telah mencuci otaknya. Dengan kenaifannya, Danni pun bersedia menjadi pengantin.

Oh, Danni yang malang.(*)
COPYRIGHT © 2009

Kamis, 13 Agustus 2009

Ditawari Jadi Pelaku Bom Bunuh Diri

Oleh : Akhmad Kusaeni

Jakarta (ANTARA News) - Ini kisah Ahmadi alias Ahmad Jenggot, 39 tahun. Lelaki miskin penjaga kandang ayam di sebuah desa di Cilacap Jawa Tengah, itu mengaku pernah ditawari oleh gembong teroris Noordin M Top untuk menjadi pelaku bom bunuh diri.

Ahmadi ketakutan. Ia lalu menyerahkan diri kepada aparat desa pada hari Rabu (22/7) dan langsung dijemput petugas dari pasukan Detasemen Khusus 88 Anti Teror Markas Besar Kepolisian RI. Begitu koran dan televisi memberitakan.

Masyarakat Indonesia lega. Kalau saja Ahmadi tidak menyerah, mungkin ada bom yang meledak lagi. Entah dimana dan membawa korban mati berapa. Untunglah tindakan teror biadab itu tidak terjadi.

Tapi, berapa banyak orang yang ditawari, dipersiapkan, dan dicuci otaknya, untuk menjadi pelaku bunuh diri kemudian menolak dan menyerah seperti Ahmadi?. Lumayan banyak jumlahnya.

Danni Dwi Permana (18) tahun dan Nana Maulana (25) adalah "pengantin" (istilah bagi calon pelaku bom bunuh diri) terakhir. Danni, warga Talaga Kahuripan Bogor, dipastikan oleh polisi sebagai pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott. Sedangkan Nana, warga Pandeglang, adalah pelaku bom, bunuh diri di Hotel Ritz-Carlton pada 17 Juli 2009.

Kalau saja Ibrohim, yang bekerja sebagai penata bunga, tidak disergap di Temanggung, lalu Air Setyawan dan Eko Joko Sarjono tidak ditembak mati Densus 88 di Jatiasih, Bekasi, kemungkinan teror bom yang lebih dahsyat bisa terjadi. Polisi menyatakan kelompok teroris menyiapkan bom mobil untuk menyerang iring-iringan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas dan Istana.

"Mereka menyiapkan serangan dua minggu ke depan," kata Kapolri Bambang Hendarso Danuri saat meninjau lokasi penyergapan di Perumahan Puri Nusaphala Blok D/12, Jatiasih, Bekasi.

Yang mengherankan banyak orang adalah mengapa ada orang yang mau direkrut menjadi pelaku bom bunuh diri? Mengapa ada orang yang mau melakukan tindakan teror dan kekerasan atas nama agama?

Tugas mulia?

Prof Bruce Hoffman, penulis buku "Inside Terrorism", mengatakan kekerasan dan terorisme sering dianggap oleh para pelakunya sebagai "tugas mulia" atau "perbuatan suci".

Inilah yang mengakibatkan daya hancur dan pertumpahan darah yang diakibatkan oleh teroris berlatar agama lebih dahsyat dari yang dilakukan oleh teroris sekuler, misalnya kelompok separatis yang menuntut kemerdekaan wilayahnya.

Menurut Hoffman, kaitan antara agama dan terorisme bukanlah barang baru. Itu sudah terjadi sepanjang sejarah. Lebih dari ribuan tahun lalu, perbuatan pertama dari apa yang disebut sebagai "terorisme" sekarang, justru dilakukan oleh kelompok fanatik agama dan bukan oleh kelompok teroris sekuler.

Buktinya, kata-kata dalam Bahasa Inggris yang digunakan untuk menggambarkan teroris dan sikap tindaknya berasal dari nama-nama kelompok teroris Yahudi, Hindu, Muslim, yang terkenal keganasannya ribuan tahun lalu.

Ambil contoh kata Zealot yang dalam kamus diartikan sebagai "orang yang fanatik" atau "pengikut yang setia sekali". Kata Zealot berasal dari nama Sekte Yahudi tahun 66-73 Masehi yang berperang melawan Kerajaan Romawi yang menduduki wilayah yang disebut Israel sekarang ini.

Para Zealot ini terkenal kejam bukan hanya karena mereka melakukan aksinya dengan pisau belati tradisional bernama "sica", tetapi juga pembunuhan yang dilakukannya selalu di depan umum, di tempat keramaian atau pasar.

Seorang Zealot bisa muncul tiba-tiba di tengah keramaian pasar, mencabut belati dari balik bajunya, lalu dengan dramatis disaksikan orang sepasar, ia menggorok leher pejabat Romawi atau orang Yahudi yang dianggap telah berkhianat atau bersekongkol dengan musuh.

Jadi, jauh sebelum era siaran langsung televisi CNN atau berita online internet, kekerasan sadis di muka publik yang dilakukan para Zealot itu dirancang untuk menyebarkan teror ke khalayak yang lebih luas, yaitu pejabat pemerintahan pendudukan Romawi dan orang Yahudi yang berkolaborasi dengan Romawi.

Penjahat yang kejam

Sama dengan Zealot, kata "Thug" yang dalam kamus berarti "penjahat yang kejam", juga berasal dari sekte agama Hindu abad ke-7 yang telah menteror India sampai diberantasnya keberadaan sekte itu pada pertengahan abad ke-19.

Para Thug terlibat dalam pembunuhan berlatar agama yang bertujuan untuk memuja "Kali", dewa penghancur agama Hindu. Pada hari-hari yang dianggap suci sepanjang tahun, kelompok fanatik ini mengincar calon korbannya untuk dibunuh guna dipersembahkan kepada Kali.

Menurut catatan sejarah, kelompok Thug telah membunuh jutaan orang selama 12 abad keberadaan sekte mereka atau 800 orang setiap tahunnya. Suatu angka pembunuhan yang sangat tinggi yang jarang bisa ditandingi oleh kelompok teroris modern sekarang ini yang bersenjatakan lebih canggih dan lebih mematikan.

Sementara kata Inggris Assassin (di kamus berarti orang yang mencabut nyawa orang lain dengan kekerasan) adalah nama dari sekte radikal Muslim "Syiah Mazhab Ismaili" yang berperang pada 1090 sampai 1272 untuk mengusir Pasukan Salib Kristen yang berusaha untuk menaklukkan wilayah Suriah dan Iran sekarang.

Secara harfiah, Assassin yang berasal dari bahasa Arab berarti "pemakan hashish" atau "mariyuana" atau mungkin istilah sekarang "shabu-shabu". Ini merujuk pada upacara ritual "nyabu" dari seorang anggota sekte sebelum melaksanakan tugas pembunuhan yang harus dilakukannya.

Si calon pembunuh atau sering disebut sebagai "pengantin" dibiarkan fly setelah diberi hashish dan selama "teler" itu pikirannya membayangkan serba yang indah-indah. Itulah bayangan surga dan keindahan yang bakal diterima seorang "Assassin" setelah melaksanakan tugas sucinya melaksanakan pembunuhan terhadap pasukan Salib.

Makin berkembang

Ternyata, anak pinak dari kaum Zealot, Thug dan Assassin masih berkembang sampai sekarang, bahkan makin banyak dan makin kejam. Kematian Dr. Azahari dan perburuan terus menerus terhadap Noordin M Top ternyata tidak mengendorkan kegiatan terorisme. Teroris-teroris baru bermunculan, bahkan bisa merekrut jaringan baru dan orang-orang yang lebih muda.

Sulit membayangkan sebelumnya bahwa ternyata pelaku bom bunuh diri di Tanah Air adalah anak-anak muda yang baru gede atau pemuda di bawah 30 tahunan. Mereka dikenal oleh para tetangga sebagai orang baik dan alim, pengurus atau aktivis tempat ibadah. Keluarga dan tetangga baru terkaget-kaget ketika polisi mengumumkan bahwa mereka terkait atau menjadi tersangka peledakan bom.

Sangat disayangkan bahwa agama dijadikan alasan untuk merekrut pelaku bom bunuh diri. Bagi teroris berlatar agama, kekerasan adalah tindakan suci yang didasarkan pada pemahaman atas kewajiban menjalankan ajaran agamanya dan penafsiran atas perintah Tuhan. Sungguh sesat dan menyesatkan. (*)
COPYRIGHT © 2009

Senin, 20 Juli 2009

MATI SYAHID ATAU MATI KONYOL?

Jakarta, (ANTARA News) - Ada sebuah lagu dari band kawula muda Amerika Serikat Panic at the Disco yang relevan dengan situasi sekarang, menyusul teror bom bunuh diri di Jakarta.

Judul lagu tersebut cukup panjang, yaitu "The only difference between martyrdom and suicide is the press coverage".

Lagu itu menggambarkan, hanya liputan media yang membedakan antara tindakan "jihad" dan "mati konyol bunuh diri" dalam sebuah serangan bom seperti yang meledak di JW Marriott dan Ritz Carlton baru-baru ini.

Media juga yang bisa mengangkat teroris itu sebagai pahlawan atau justeru sebaliknya menjatuhkannya menjadi makhluk biadad yang sangat terkutuk.

Lewat pemberitaannya, selama ini memang diakui, media bisa mempopulerkan kelompok atau tokoh-tokoh teroris sederajat dengan kaum selebritis. Siapa tak kenal dengan Osama bin Laden? Siapa pula yang tak kenal Noordin M Top yang benar-benar "top markotop" sebagai pelaku teror?

Media juga telah melambungkan nama organisasi teroris Al Qaeda atau Jemaah Islamiyah (JI). Setiap ada ledakan bom, laporan media selalu mengkaitkan dengan Al Qaeda atau JI.

Organisasi teroris itu digambarkan memiliki kemampuan beroperasi di seluruh penjuru dunia, sehingga siapa saja, di mana saja, akan bergidik bulu tengkuknya bila nama Al Qaeda atau JI disebut.

Secara sadar atau tidak, melalui pemberitaannya pula, media telah menjadi corong teroris untuk menyebarluaskan tindakan terornya atau mempopulerkan aktor-aktornya.

Di tangan para pemimpin redaksilah keputusan berada: apakah akan membuat tugas teroris untuk meneror menjadi lebih mudah dengan cara menyebarluaskan kekerasan dan menebar ketakutan? Atau, justeru sebaliknya memboikot pemberitaan teroris, sehingga tanpa liputan yang luas oleh media massa terorisme tidak akan berarti.

"Without media there can be no terrorism," kata Schmid & Graaf.

Tanpa liputan media diyakini tidak akan ada terorisme. Kekerasan teroris yang tidak diberitakan bisa diibaratkan dengan tumbangnya pohon di tengah hutan. Meskipun peristiwa terjadi, tidak semua orang sekampung tahu, jika tidak ada yang bercerita soal itu.

Simbiosis mutualisme

Hubungan media dan terorisme seperti simbiosis mutualisme. Masing-masing saling mengambil manfaat. Teroris memerlukan media massa untuk menyampaikan pesan dan tuntutannya, media massa memerlukan teroris untuk keperluan beritanya.

Teroris kuno sudah memperhitungkan pentingnya publikasi bagi tindakan teror yang dilakukannya. Kaum zealot yang melawan pendudukan Romawi di Palestina (66-70 M) lebih senang melakukan tindakan kekerasan pada hari libur dan di tempat keramaian dengan maksud berita mengenai teror itu bisa menyebar dengan cepat dan luas.

Di zaman modern dengan kemampuan televisi menyiarkan peristiwa secara langsung, teroris melipatgandakan kekuatan terornya dengan bantuan kamera.

Ahli terorisme Bowyer Bell mengungkapkan lelucon mengenai betapa teroris bergantung pada media. Syahdan, ketika sebuah pesawat dibajak, seorang pemimpin teroris memarahi anak buah yang berniat menghabisi sandera mereka.

"Jangan tembak, belum `prime time`," kata si pemimpin teroris yang rupanya sedang menunggu datangnya juru kamera CNN.

Jika diamati, pemboman di JW Marriott dan Ritz Carlton juga sudah diperhitungkan betul dari segi media dan publikasinya. Siapapun pelakunya dan dari manapun kelompoknya, teroris yang menteror Jakarta itu amat memahami bahwa terorisme adalah panggung teater yang selalu menjadi pusat sorotan dan pemberitaan media.

Sebagai panggung teater, menurut pakar terorisme Brian Michael Jenkins, serangan teroris selalu dirancang untuk menarik perhatian media elektronik dan pers internasional.

Teroris selalu menyerang simbol-simbol yang bisa menjadi fokus perhatian media.

Bom di Jakarta, Jumat (17/7), meledak tepat beberapa saat sebelum kesebelasan Manchester United (MU) datang untuk bertanding dengan tim Indonesian All Stars.

Tour MU ke Asia telah menjadi agenda pemberitaan internasional dan Rooney dkk direncanakan akan menginap di hotel JW Marriott.

Akibatnya, MU membatalkan kunjungan ke Jakarta, karena mereka menganggap kota itu kurang aman.

Dari segi waktu, teroris juga memperhitungkan waktu dengan amat cermat.

Ketika semua orang memuji pelaksanaan Pemilihan Presiden Indonesia yang berlangsung aman dan lancar, ledakan bom itu mencederainya. Seolah-olah bom itu ada kaitannya dengan kekecewaan terhadap pilpres dan menjadi polemik antar-elit politik dalam menyikapinya.

Dari segi pemilihan tempat dan waktu, teroris telah berhasil mencapai sasarannya dengan bantuan publikasi media.

Yang pertama, mereka berhasil memberi kesan bahwa Indonesia (setidaknya Jakarta) adalah tidak aman, sehingga sejumlah negara mengeluarkan travel warning.

Kedua, mereka sukses membuat para elit politik terlibat dalam polemik, saling tuding, dan saling memprovokasi.

Dimanfaatkan teroris

Secara tidak sadar, media tampaknya telah dimanfaatkan teroris seperti studi Schmid & Graaf mengenai penggunaan secara aktif dan pasif media oleh teroris.

Secara aktif, menurut studi itu, teroris menggunakan media antara lain untuk mempolarisasi pendapat umum, mengiklankan diri untuk menarik simpati dan anggota baru, membangkitkan keprihatinan publik terhadap korban untuk menekan agar pemerintah melakukan kompromi atau konsesi, membangkitkan kekecewaan publik terhadap pemerintah yang terkesan tidak berdaya, atau mengalihkan perhatian publik dari isu-isu yang tidak dikehendaki dengan harapan berita teror mereka mengisi halaman depan media.

Sementara secara pasif, teroris juga memanfaatkan media untuk mempelajari teknik-teknik penanganan terbaru terhadap terorisme dari laporan media, mendapatkan informasi tentang kegiatan terkini pasukan keamanan menghadapi teror yang sedang mereka lakukan, dan menikmati laporan media yang berlebihan tentang kekuatan teroris hingga menciptakan ketakutan pihak musuh dan mencegah keberanian aparat keamanan dan polisi secara individual untuk membasmi teroris.

Jika para pemimpin redaksi dan wartawan memahami studi Schmid & Graaf tersebut, mereka tentu akan sangat hati-hati dalam melakukan liputan dan pemberitaan mengenai terorisme. Salah salah media terjebak dalam kampanye "public relations" dan "branding" teroris yang semakin pintar memanfaatkan publikasi.

Mungkin sudah saatnya media memboikot pemberitaan tindak kekerasan teroris dan tidak memberikan oksigen publikasi bagi para pelaku teror. Kekerasan politik akan menurun drastis, atau mungkin bisa hilang sama sekali, kalau media tidak terlalu bersemangat untuk memberitakan tindak kekerasan teroris.

Di tangan media lah seorang teroris dicitrakan sebagai mati syahid atau mati konyol dalam pemberitaannya.

Selasa, 14 Juli 2009

"DUKUN POLITIK" SATU PUTARAN

Oleh Akhmad Kusaeni

Denny J.A., ahli jajak pendapat dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI), bukan hanya seorang pembuat berita (newsmaker), tapi sesungguhnya ia adalah pembuat raja (kingmaker).

Hasil survei LSI bahwa pemilihan presiden akan berlangsung satu putaran yang dimenangi pasangan SBY-Boediono ternyata terbukti. Meskipun KPU baru resmi akan mengumumkan hasil penghitungan pada 27 Juli 2009, boleh dibuktikan bahwa analisis Denny mengenai kemungkinan Pilpres satu putaran betul-betul tak terbantahkan.

Oleh karena presisi hasil surveinya dengan kenyataan yang terjadi, ada yang berkelakar bahwa LSI bukan melakukan survei, tetapi melakukan praktek paranormal.

"Denny adalah dukun politik satu putaran," gurau Ilham Bintang, pemilik tabloid dan program infotainment Cek&Recek, saat pemberian PWI Jaya Award kepada Denny yang dinobatkan sebagai "Newsmaker of the Election 2009" di Hotel Nikko Jakarta, Selasa (14/7).

Ilham yang duduk satu meja dengan Denny bercerita bahwa beberapa waktu lalu sejumlah pemimpin redaksi diundang ke rumah pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas. Saat para tokoh pers menyelamati SBY yang terpilih kembali, seseorang mengingatkan agar menunggu hasil penghitungan resmi KPU pada 27 Juli nanti.

"Sekarang baru menurut Denny J.A," cerita Ilham. Iklan "Pilpres Satu Putaran Saja" menampilkan wajah SBY-Boediono merebak di media massa menjelang Pilpres 8 Juli 2009. Iklan itu berasal dari Lembaga Studi Demokrasi (LSD) dan Konsultan Citra Indonesia.

Iklan ini muncul bersamaan dengan dipublikasikannya hasil survei LSI yang menyebutkan 63,1 persen suara di tangan SBY-Boediono.
Pengalaman membuktikan prediksi survei LSI pada sekitar 200 Pilkada di Tanah Air hampir tidak pernah meleset. Namun demikian, Denny mengakui, bahwa dirinya sempat harap-harap cemas saat hari pencontrengan 8 Juli lalu.

Apakah kali ini hasil surveinya akurat, sementara dia sudah memasang iklan Pilpres satu putaran dimana-mana.

Apalagi iklan satu putaran itu mengundang kontroversi. Bahkan saat debat Capres, Jusuf Kalla sempat menuding iklan Denny adalah ilegal dan tidak sesuai dengan demokrasi yang sedang dikembangkan di Indonesia.

"Kalau sampai meleset hasilnya, saya bisa digantung," cerita Denny yang didampingi isterinya.


Sempat deg-degan
Sang isteri yang memantau hasil penghitungan cepat di televisi, kata Denny, tampak sangat tegang dan deg-degan. Hari itu adalah hari pertaruhan bagi suaminya. Karier dan reputasi Denny akan sangat tergantung dari hasil penghitungan cepat saat itu.

Dua jam setelah penghitungan suara di TPS-TPS ditutup, sejumlah stasiun televisi mengumumkan hasil penghitungan cepat bahwa SBY-Boediono menang telak. Artinya, Pilpres ditengarai hanya berlangsung satu putaran. Denny pun mencium isterinya.

"Ilmu sosial telah memungkinkan semua ini terjadi. Dengan hanya sekitar 2000 responden, bisa merefleksikan suara 175 juta orang untuk sesuatu yang akan terjadi tiga bulan mendatang," kata Denny dengan wajah berbinar-binar.

Dengan demikian, Denny lebih senang disebut sebagai periset jajak pendapat atau "poll master", ketimbang dibilang sebagai "dukun politik". "Ini murni ilmiah, bukan dukun," katanya.

Metodologi survei yang dipakai, pemilihan responden yang digunakan, dan pengolahan data sampel yang masuk, bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Oleh karena itulah, LSI pernah menggugat ke Mahkamah Konstitusi sebuah undang-undang yang melarang publikasi jajak pendapat.

"Kalau paranormal menyatakan pada masa minggu tenang bahwa partai anu atau Capres anu yang bakal menang tidak dilarang, masak lembaga survei yang ilmiah tidak boleh mempublikasikan hasil jajak pendapat," katanya.

Denny merasa senang karena akhirnya MK memutuskan publikasi hasil jajak pendapat bisa dilakukan sebelum Pemilu dan penghitungan cepat ("quick count") bisa diumumkan setelah pencentangan ditutup.


Khawatir ditunggangi
Memang ada pihak-pihak yang mempertanyakan kredibilitas dan independensi lembaga-lembaga penyelenggara jajak pendapat semacam LSI. Ada kekhawatiran jika lembaga-lembaga survei tersebut tidak dijamin bebas. Publikasi hasil jajak pendapat bisa dimanipulasi oleh politisi dan partai-partai politik untuk kepentingan menggalang dukungan publik.

Menurut para pengkritiknya, hasil polling secara tidak fair telah memengaruhi orang untuk memilih calon presiden tertentu atau partai tertentu. Fenomena itu disebut sebagai mentalitas gerbong kereta ("bandwagon effect") dimana orang akan ikut pihak yang menang atau pihak yang populer.

Secara kejiwaan, orang cenderung ingin berada di pihak yang menang dan tidak ingin ikut tenggelam bersama yang kalah.

Dengan membiarkan publikasi jajak pendapat sebelum Pemilu, menurut para penentangnya, berarti rakyat melepaskan peranannya untuk memilih sendiri pemimpin mereka dan mereka memilih calon yang paling tinggi ratingnya dalam survei. Ini sama saja dengan menjadikan lembaga penyelenggara jajak pendapat sebagai "pembuat raja" (kingmaker).

Capres Megawati Soekarnoputri, misalnya, dengan keras menentang iklan Pilpres satu putaran yang digencarkan Denny.

"Pilpres satu putaran. Ini kesombongan yang luar biasa dari lembaga survei," tegas Megawati dalam suatu kampanye. Capres Jusuf Kalla juga menuding Pilpres satu putaran sebagai bentuk keangkuhan politik.

"Saya juga ingin menang satu putaran. Tapi itu menggambarkan kesombongan penguasa. Jadi biarkan rakyat yang menentukan satu putaran atau dua putaran," kata JK.

Kritikan juga datang dari para akademisi. Pengamat politik Irman Putra Sidin, misalnya, yakin tidak mudah mencapai pelaksanaan Pilpres satu putaran. Selain syarat yang tak gampang, pemilu presiden yang tercantum di konstitusi memiliki filosofi yang tidak sederhana.

"Pilpres satu putaran itu tidak gampang. Harus menang di 50 persen provinsi se-Indonesia dan meraih suara minimal 20 persen di masing-masing provinsi," tegasnya.

Menurut Irman, peraturan tentang Pilpres yang tertuang dalam pasal 6 ayat (3) UUD 1945 menjelaskan perihal Pilpres secara gamblang. Meskipun seorang Capres memperoleh 70 persen suara, tetapi kalau sebaran suaranya tidak lebih dari setengah jumlah total provinsi se-Indonesia (17 provinsi) dan mendapat 20 persen suara, maka akan ada putaran kedua.

"Kecuali saat pilpres putaran kedua, siapa yang paling banyak suaranya dialah yang menang," katanya.

Tapi kenyataannya, pasangan SBY-Boediono bisa menang satu putaran dengan memenuhi persyaratan konstitusi tersebut. Apakah itu terjadi karena adanya iklan dan kampanye satu putaran atau hal lainnya masih bisa diperdebatkan.


Pengaruh kuat
Akan tetapi, Denny tidak membantah bahwa hasil jajak pendapat dapat berpengaruh kuat pada pemilih, terutama mereka yang bingung dan tidak punya "party identification".

"Kami adalah pembuat opini publik," tegasnya tidak membantah kalau publikasi hasil surveinya telah mempengaruhi pilihan rakyat.

Tapi disitulah justru sumbangsih orang per orang macam Denny dalam proses demokratisasi. Sebab, kata Denny, demokrasi dan Pemilu itu bukan hanya milik politisi, bukan pula cuma mainan para jenderal. Demokrasi dan pemilu itu juga milik seluruh rakyat, termasuk orang per orang semacam dirinya.

"Penghargaan ini bukan untuk saya, tapi yang lebih penting adalah penghargaan buat tradisi demokrasi baru, dimana setiap orang dan setiap lembaga bisa berpartisipasi untuk mengembangkan kehidupan demokrasi yang sehat," kata Denny.

Ia mengatakan dengan Pilpres satu putaran akan banyak sekali manfaat yang didapat. Secara ekonomis, biaya Pilpres bisa dihemat Rp4 triliun. Secara politis, partai-partai yang terbelah bisa cepat rukun dan rekonsiliasi. Pemerintahan yang ada bisa melanjutkan kerjanya sampai akhir masa jabatannya pada bulan Oktober mendatang. Sementara masyarakat yang terbelah bisa bersatu kembali.

Kampanye Pilpres satu putaran adalah ijtihad dan ibadah Denny yang ternyata memang didukung oleh masyarakat. "Ini sumbangsih saya," katanya.

Siapapun Presiden Terpilih Rakyat Harus Menang

Oleh Akhmad Kusaeni

Bangsa Indonesia akan memilih presiden dan wakil presiden pilihannya pada 8 Juli 2009. Yang penting, siapapun presiden dan wapres yang terpilih nanti, rakyat harus menang. Tidak boleh rakyat kalah.

Oleh karena ada tiga pasang Capres/Cawapres, tentu ada yang menang dan ada yang kalah. Itu wajar, karena para kandidat itu telah menyatakan siap menang dan siap kalah. Itulah indahnya demokrasi. Kalah-menang tidak menjadi alasan untuk membenci, apalagi membikin onar dan kekacauan.

Pada debat Capres putaran terakhir, moderator menanyakan apa yang akan dilakukan masing-masing kandidat jika kalah. Megawati, Capres nomor urut 1, menyatakan akan terus mengabdi kepada bangsa dan negara, terutama melayani rakyat wong cilik.

Susilo Bambang Yudhoyono, Capres nomor urut 2, menyatakan akan menyalami presiden terpilih pada kesempatan pertama. "Saya akan mengucapkan selamat dan akan mendukung penuh pemerintahannya," kata SBY yang dikenal bersikap satria.

Sedangkan Jusuf Kalla, capres nomor urut 3, berkeyakinan dialah yang akan menjadi pemenang. "Tapi kalau ternyata kalah, saya akan pulang kampung," katanya tanpa beban disambut tepuk tangan riuh rendah hadirin.

Jadi, sebenarnya tidak perlu ada kekhawatiran Pilpres akan kacau. Jika elite politik dan para Capres sudah mendeklarasikan Pemilu damai, tak perlu risau konflik pasca Pemilu di Iran akan terjadi di Tanah Air.

Pilpres 2009 merupakan pemilihan presiden secara langsung untuk kedua kalinya. Yang pertama pada tahun 2004. Pergantian kekuasaan waktu itu berlangsung mulus dan merupakan sejarah bagi Indonesia yang belum pernah mengalami pergantian kekuasaan tanpa huru-hara.

Dari presiden pertama RI Soekarno ke Soeharto terjadi revolusi berdarah yang banyak memakan korban jiwa. Dari Presiden Soeharto ke Habibie pada 1998 didahului demonstrasi mahasiswa yang berujung pada kerusuhan Mei. Dari Presiden Habibie ke Abdurahman Wahid diwarnai manuver politisi di DPR yang menolak pertanggungjawaban presiden.

Sementara Abdurahman Wahid lengser dan diganti Megawati pada Juli 2001 setelah konflik tak berkesudahan dengan parlemen.

Selama kurang dari enam tahun, Presiden berganti selama empat kali. Pemerintahan jatuh bangun dan sangat tidak stabil. Perekonomian runtuh, pembangunan stagnan, dan hiruk pikuk politik begitu ramai dan bising.

Mulai stabil

Tahun 2004 pergantian presiden mulai stabil. Masa pemerintahan Megawati (23 Juli 2001 sampai 20 Oktober 2004) ditandai dengan semakin menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia.

Dalam masa pemerintahannya lah, pemilihan umum presiden secara langsung dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia. Meskipun, sejarah kemudian mencatat, Megawati menjadi korban dari sistem Pilpres dipilih langsung yang dibangunnya.

Ia mengalami kekalahan (40 persen - 60 persen) dalam pemilihan umum presiden 2004 tersebut dan harus menyerahkan tonggak kepresidenan kepada Susilo Bambang Yudhoyono mantan Menteri Koordinator pada masa pemerintahannya.

Pilpres langsung ini, seperti dikemukakan pengamat politik dari Universitas Indonesia Sri Budi Eko Wardhani, merupakan inovasi demokrasi Indonesia yang perlu disyukuri dimana bangsa Indonesia betul-betul bisa melaksanakan hak pilihnya secara langsung, umum, bebas, dan rahasia, serta lebih jurdil.

Oleh karena itu, bagi yang optimistis, Pilpres 2009 ini pun akan berlangsung dengan aman, damai dan lancar serta tepat waktu. Terlepas dari adanya ribut-ribut mengenai Daftar Pemilih Tetap (DPT), kampanye hitam, dan sikut menyikut antar tim sukses, tidak ada arus utama yang menghendaki Pemilu ditunda atau KPU dibekukan.

Putera terbaik

Bagi bangsa Indonesia, tiga Capres yang ada merupakan putera puteri terbaik bangsa. Ini bukan pilihan seperti makan buah simalakama dimana konsekuensinya semuanya buruk dimana bapak atau ibu yang mati. Tapi ini adalah pilihan terbaik di antara yang baik. Siapapun Capres yang menang, itu akan merupakan pilihan bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Jika Megawati menang, misalnya, maka ini akan mengukuhkan kembali penghargaan bangsa Indonesia kepada kaum perempuan. Di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, dimana pemimpin biasanya diutamakan dari kaum laki-laki, ternyata seorang wanita bisa menjadi Presiden.

Dalam kaitan gender dan penghargaan terhadap wanita, Indonesia jauh lebih maju dari Amerika Serikat yang sampai saat ini tidak pernah memiliki presiden atau wakil presiden dari kaum hawa.

Jika SBY terpilih lagi, ini menunjukkan bahwa rakyat puas dengan pemerintahan sekarang dan ingin stabilitas politik, pemberantasan korupsi, dan pembangunan dilanjutkan. Ini berarti legitimasi SBY makin menguat seiring tingkat kepuasan rakyat.

Sedangkan jika Jusuf Kalla yang terpilih, maka itu akan merupakan tonggak sejarah dimana mitos selama ini bahwa presiden itu harus orang Jawa tidak berlaku lagi. Presiden dipilih bukan lagi atas dasar etnis, agama dan gender, tapi atas dasar kemampuannya memimpin dan membawa rakyat ke pintu gerbang kesejahteraan, kemakmuran dan keamanan. Bahwa siapapun, dari suku apapun, bisa menjadi presiden.

Rakyatlah yang akhirnya berdaulat. Merekalah yang menentukan sendiri siapa yang akan menjadi pemimpinnya lima tahun ke depan. Kalau mereka puas dengan pemerintahan sekarang, SBY sudah pasti terpilih kembali.

Sebaliknya, kalau suasana hati dan kebatinan rakyat selama lima tahun terakhir ini kurang puas dan mereka menginginkan perubahan, tentu Megawati yang menang karena Capres ini paling giat menjanjikan perubahan.

Atau, bisa juga rakyat puas dengan pemerintahan sekarang, namun ingin percepatan kesejahteraan dan kemakmuran, maka Jusuf Kalla bisa menjadi pilihan. Capres ini memiliki slogan kampanye "Lebih cepat lebih baik".

Rabu, 17 Juni 2009

SIAPA PEDULI PANCASILA? Oleh Akhmad Kusaeni

Jakarta, 17/6 (ANTARA) – Di tengah hingar bingarnya kampanye pemilihan presiden, peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni nyaris tidak terdengar gaungnya. Meminjam istilah Prof. Azyumardi Azra, ”Pancasila nyaris absen dalam wacana, diskusi, dan kampanye politik sekarang ini”.

Ironi memang. Para Capres dan tim suksesnya lebih senang mengusung isu Neolib ketimbang Pancasila yang menjadi dasar dan fondasi bangsa. Isu Ekonomi Pancasila, misalnya, seolah tabu diangkat karena dikhawatirkan bisa menurunkan elektabilitas Capres. Kalau elite politik dan calon pemimpin bangsa saja enggan membicarakan Pancasila, apalagi masyarakatnya.

Lalu, siapa yang masih peduli Pancasila?
Ada. Salah satunya adalah As”ad Said Ali, yang kebetulan kini menjabat Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Ia adalah penulis buku ”Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa” yang diterbitkan LP3ES (2009).

As’ad mengaku sudah kagum dan bangga terhadap Pancasila sejak mengikuti kuliah mata pelajaran Pancasila di Universitas Gajah Mada tahun 1969. Yang mengajar waktu itu Profesor Notonagoro, tokoh yang dianggap pelopor pengkajian Pancasila secara ilmiah.

Namun demikian, di era reformasi, Pancasila yang dikagumi As’ad dipersoalkan oleh sejumlah anak bangsa. Saat terjadi krisis yang mengakibatkan keterpurukan di hampir semua bidang kehidupan, Pancasila dijadikan kambing hitam. Menurut mereka, hanya liberalisme dan kapitalisme yang terbukti memenangkan perang ideologi dunia bisa menyelamatkan Indonesia. Bahkan, ada salah seorang tokoh yang terang-terangan menyatakan diri “Aku seorang neoliberalis”. Sementara yang lain berani mengatakan, “tinggalkan Pancasila, ikutilah neolib.”

Sekarang ini berbicara tentang Pancasila bisa membuat sementara orang mencibir. Hal ini tidak lain karena terdapatnya disparitas dan kesenjangan antara kelima sila Pancasila dan realitas dalam kehidupan sehari-hari. Seperti dikemukakan KH. Mustofa Bisri yang memberi pengantar dalam buku setebal 340 halaman itu bahwa kehidupan berbangsa dan bermasyarakat semakin menjauh dari Pancasila.

Menurut tokoh Nahdlatul Ulama (NU) itu, kondisi di negeri berketuhanan ini sudah seperti tanpa Tuhan atau “kebanyakan tuhan”. Negeri berkemanusiaan yang adil dan beradab ini sudah seperti tidak kenal lagi dengan perikemanusiaan. Persatuan Indonesia sudah seperti dilecehkan. Rakyat seperti tidak terwakili. Keadaan sosial hanya bagi segelintir orang.

Maka orang pun bertanya, “Dimanakah kau, Pancasila? Masihkan kau ada menafasi bangsa ini?”. Pertanyaan Mustofa Bisri adalah pertanyaan kita semua sekarang ini.

Hidupkan Pancasila
Buku As’ad Said Ali adalah sumbangannya unuk “menghidupkan” kembali Pancasila. Buku yang ini tidak hanya merunut dari awal terumuskannya Pancasila hingga perjalanannya melalui Demokrasi Terpimpi-nya Bung Karno; Orde Barunya Pak Harto; sampai dengan zaman “reformasi” sekarang ini, tetapi juga mencoba meyakinkan akan pentingnya — bahkan semakin pentingnya — Pancasila dewasa ini.

Lebih jauh, penulis berusaha keras menjelaskan kembangkan pengertian Pancasila tidak hanya sebagai ideologi dan Dasar Negara, tetapi juga membahas kaitan di antara Pancasila dengan Agama, menjelas-jabarkan sila-silanya, bahkan menjelaskan secara rinci ideologi-ideologi lain yang “mengepung” Pancasila.

Pendek kata, kata Mustofa, buku ini tidak hanya mencoba mengembalikan “citra Pancasila”, tapi juga berusaha membuktikan pentingnya Pancasila bagi kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini maupun di masa akan datang.

As’ad Said Ali, yang lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada tahun 1949 dan selama kariernya di BIN bertugas dan berkeliling ke Timur Tengah, Eropa, Amerika, Afrika dan Asia, sangat yakin bahwa Pancasila adalah anugrah Tuhan buat bangsa Indonesia. Terlepas dari pasang surutnya dalam kehidupan bangsa, Pancasila telah membuktikan diri sebagai ”common platform” yang paling cocok dan mampu bertahan sebagai falsafah dan dasar negara Indonesia.
Selama periode pascareformasi, secara tidak disadari energi Pancasila berproses sevara otomatis. Coba renungkan, berbagai macam konflik dan musibah luar biasa besar mampu diatasi. Bandingkan dengan Myanmar ketika terjadi bencana alam tsunami dan gempa bumi. Indonesia membuka diri dan menerima uluran bantuan luar negeri, sedangkan Myanmar membatasi diri karena khawatir dengan campur tangan asing yang mendompleng masuknya bantuan.

Sikap dan cara Indonesia kemudian dijadikan code of conduct yang disepakati oleh beberapa negara pada pertemuan informal “Shangrilla Dialog” di Singapura, Juni 2008. Sikap dan kebijakan Indonesia itu didasarkan pada prisip kemausiaan yang beradab, berjiwa besar, dan agamis. Padahal, saat itu, Aceh dalam konflik politik dan banyak pihak khawatir dengan dampak masuknya orang-orang luar. Justru perdamaian yang terwujud.

Saat terjadi musibah tsunami, kesetiakawanan yang melandasi terwujudnya sila “Persatuan Indonesia” dan sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab” muncul secara serempak. Bantuan kemanusiaan mengalir dari seluruh penjuru Tanah Air membantu rakyat Aceh tanpa ada yang memberi komando.

Energi Pamcasila
Energi Pancasila itulah, menurut As’ad, yang muncul dan mendorong terciptanya perdamaian di berbagai daerah konflik. Umumnya, konflik-konflik tersebut, tidak terkecuali konflik di Ambon dan Poso, ditengarai ssebagai bagian dari konflik politik yang tidak terlepas dari provokasi dan campur tangan halus pihak luar. Setelah masa puncak konflik dapat dilewati, muncul penyesalan mendalam dari kedua belah pihak.

Pengalaman pribadi As’ad tentang energi Pancasila yang mampu memotivasi perdamaian dialaminya dalam konflik Poso. Hampir dua tahun setelah perjanjian Malino II di tandatangani, interaksi di antara komunitas muslim yang berpusat di daerah pesisir Poso dengan komunitas kristen di Tentena sangat minim. Padahal perdamaian nyata terjadi kalau hubungan sehari-hari berlangsung normal.

Pada pertemuan pertama, As’ad menyaksikan sendiri tokoh kedua belah pihak, yakni Ustad Adnan Arsal dan Pendeta Damanik, saling merangkul sambil menangis. Keduanya menyatakan tidak tahu sebab-musabab kenapa sampai terjadi konflik. Akhirnya muncul kesepakatan untuk menciptakan perdamaian dan melupakan. Dengan pertemuan kedua tokoh itu, kemudian disusul pertemuan informal wakil kedua komunitas dalam jumlah besar, segenap provokasi dalam bentuk teror tidak mampu mengoyahkan perdamaian.

Kebersamaan dan penghormatan terhadap kebinekaan mendorong mereka menciptakan perdamaian. Itulah energi Pancasila yang muncul dengan sendirinya pada saat-saat kritis. Bila “tenaga dalam” itu dapat dikelola dengan benar, Indonesia tidak pelak menjadi negara besar yang disegani.

Menurut As’ad energi Pancasila itu juga menggerakkan perdamaian dalam konteks pelaksanaan otonomi khusus di Aceh dan Papua. Dewasa ini, solusi konflik di Aceh dan Papua dijadikan model oleh dunia internasional untuk mengangani konflik serupa.
As’ad sangat yakin, energi Pancasila tersebut tidak dapat dengan mudah musnah dari bangsa Indonesia. Secara tidak disadari, karena melekat dengan budaya, energi Pancasila menjadi bagian tak terpisahkan khususnya dalam semangat kebersamaan.

Rakyat kecil justru mempersalahkan para elite yang tidak mampu merumuskan langkah atau kebijakan yang sesuai dengan Pancasila secara tepat. Tidak sedikit elite nasional dan calon permimpin kehilangan jati diri sebagai anak bangsa. Berpikir pragmatis demi kepentingan sesaat, tetapi kehilangan masa depan karena tidak punya idealisme. Silau terhadap budaya materi dari luar dan melupaka keluhuran budaya spiritual bangsa sendiri.

Bukankah banyak pengalaman sejarah telah membuktikan bahwa berpegang teguh pada nilai luhur budaya sendiri merupakan sumber kekuatan. Perhatikan Jepang, China, India, dan lain-lain, yang mencapai kemajuan luar biasa. Bandingkan pula, misalnya, dengan Filipina yang larut dalam budaya luar.

Saatnya, bangsa ini menengok kembali kepada Pancasila lalu merevitalisasinya.

Senin, 15 Juni 2009

Bulcke Menjual 1 Miliar Produk Nestle Per Hari

Singapura (ANTARA News) - Soal makan dan minum ternyata sebuah bisnis yang serius dan bisa meraup keuntungan besar dari penjualan yang setara jumlah APBN nasional sekitar Rp1.037 triliun per tahunnya.

Tidak percaya? Tanyalah Paul Bulcke, CEO Nestle, perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia yang bermarkas di Swiss dan sedang melakukan ekspansi bisnis ke kawasan Asia Tenggara.

"Ini bisnis yang serius. Kami melihat pasar yang masih terbuka luas. Perusahaan kami mencatat pertumbuhan 15 persen di kawasan Asia Tenggara tahun lalu," katanya saat bertemu dengan wartawan ASEAN di Singapura, akhir pekan lalu (13/6).

Dengan populasi penduduk hampir 600 juta jiwa, kawasan Asia Tenggara merupakan peluang pasar yang menggiurkan bagi Nestle yang dikenal sebagai perusahaan terdepan dalam bidang usaha nutrisi, kesehatan dan keafiatan.

Perusahaan yang mempunyai tagline Good Food, Good Life yang bermarkas di Swiss itu sudah berkiprah selama lebih 140 tahun. Bulcke tahu persis sejarah perusahaan yang memiliki 280.000 karyawan dan 456 pabrik di 84 negara itu. Ia juga tahu persis akan dibawa kemana perusahaan yang angka penjualan tahun 2008 saja mencapai CHF 109,9 miliar (sekitar Rp1000 triliun), atau kurang lebih sama dengan APBN Indonesia setiap tahunnya.

"Jika kita bicara mengenai nutrisi 100 tahun lalu, itu adalah bagaimana memberi makan orang asal kenyang. Namun jika kita bicara nutrisi sekarang, adalah bagaimana memberi makan orang dengan rasa yang lezat namun rendah kalori," kata Bulcke yang diangkat menjadi CEO Nestle bulan April 2008 lalu.

Pada tahun 1866, Henri Nestle, seorang ahli farmasi asli Jerman, mengembangkan sereal bayi berbasis susu yang berhasil membantu mengatasi masalah kekurangan nutrisi pada bayi saat itu. Henri Nestle menggabungkan pengetahuan, ketrampilan dan penelitian yang pernah dilakukan dalam mengembangkan "formula ajaib" tersebut yang kemudian diberi nama Farine Lactee Henri Nestle, dan terbukti mampu menyelamatkan jiwa banyak bayi.

Farine Lactee, menurut Presiden Direktur Nestle Indonesia Peter Vogt, diekspor ke kepulauan Nusantara sejak tahun 1873. Beberapa tahun kemudian, para pedagang mendatangkan produk susu kental manis MILKMAID, yang kemudian populer dengan merek "Tjap Nona". Empat puluh tahun kemudian susu bubuk kian populer di Indonesia dan Nestle DANCOW memimpin pasar.

Terbesar di dunia

Begitulah. Dari produsen sereal bayi berbasis susu, kini Nestle berkembang menjadi produsen makanan dan minuman terbesar di dunia yang penjualannya melebihi perusahaan kompetitornya, seperti PepsiCo, Kraft Foods, Unilever, Coca Cola, Kellogg's dan Sara Lee.

Nestle kini memiliki 10.000 produk makanan dan minuman yang sangat dikenal di seluruh penjuru dunia, dikonsumsi setiap saat sepanjang hari, dari pagi sampai malam. Konsumennya dari bayi dalam kandungan, anak-anak sampai orang dewasa, kakek dan nenek.

Produk Nestle mulai dari susu bubuk, kopi, coklat dan kembang gula, bumbu masak dan hidangan siap saji, sampai dengan makanan hewan.

"Kami menjual 1 miliar produk setiap harinya," kata Bulcke di Pusat Riset dan Pengembangan (R&D) Produk Nestle di Singapura.

R&D di Singapura merupakan salah satu dari 23 Pusat Riset dan Pengembangan Nestle yang tersebar di seluruh dunia. Riset dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para konsumen yang bukan saja menginginkan nutrisi yang enak dan lezat, tapi juga sehat wal afiat.

Moto Good Food, Good Life, misalnya, menggambarkan komitmen Nestle untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketenaran merek-merek produknya untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu makanan dan minuman yang berkualitas, bernutrisi, aman untuk dikonsumsi, serta lezat rasanya, dalam upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Sebagai contoh, riset terus menerus dilakukan untuk membuat mie instan yang digemari di kawasan Asia berkurang kadar garamnya dan makin rendah kalorinya agar konsumen tidak perlu takut kegemukan.

Cita rasa lokal

Disamping itu, riset juga dilakukan agar produk Nestle bisa memenuhi kebutuhan dan cita rasa penduduk lokal. Berlainan dengan Coca Cola yang dimanapun rasanya nyaris tidak berbeda, kopi produksi Nestle yang dinamakan Nescafe rasanya disesuaikan dengan selera lokal. Ada lebih 200 jenis Nescafe yang berbeda cita rasanya karena disesuaikan dengan konsumen di Polandia, Rusia, Jepang, dan Indonesia.

"Kami punya produk Nescafe Kopi Susu Tubruk yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia. Kopi tubruk amat disukai orang kita," kata Brata T. Hardjosubroto, Head of PR Nestle Indonesia.

Setelah diperkenalkan di Swiss tahun 1938, Nescafe menjadi kian populer pada Perang Dunia kedua sebagai salah satu pilihan kopi di Eropa. Setelah beberapa tahun diekspor ke Indonesia, Nescafe mulai diproduksi di Lampung sejak 1980 dengan menggunakan bahan baku biji kopi yang dihasilkan para petani setempat.

Dengan jangkauan operasi hampir di seluruh negara di dunia dan meningkatnya jumlah kelas menengah, Bulcke melihat pertumbuhan pasar bagi Nestle masih sangat terbuka lebar.

Meskipun Nestle merupakakan perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia, sesungguhnya hanya menguasai 1,7 persen dari pasar dunia. Sementara 20 perusahaan nutrisi papan atas dunia digabung sekalipun hanya bisa menguasai 9 persen dari pasar dunia.

Kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu pasar potensial perusahaan berlambang burung yang sedang memberi makan anaknya di dalam sarang itu. Dalam jumpa pers tersebut, Bulcke menekankan bahwa "Nestle telah beroperasi di bagian dunia ini selama hampir 100 tahun. Kawasan ASEAN adalah bagian yang sangat penting dalam bisnis Nestle, dan komitmen kami yang terus berlanjut serta investasi yang tengah berjalan menunjukkan keyakinan kami pada kawasan ini."

Saat ini Nestle memiliki 23 pabrik dan sekitar 14.500 tenaga kerja di pasar ASEAN. Nestle akan melanjutkan investasinya di ASEAN untuk memperluas bisnis dan fasilitas pabrik, termasuk di Indonesia untuk mendukung perluasan pabrik susu Kejayan di Jawa Timur.

Perusahaan itu memiliki komitmen lebih dari 250 juta CHF investasi modal untuk operasinya di ASEAN pada 2009. Pada 2008, bisnis Nestle di kawasan ini menunjukkan pertumbuhan nyata 15 persen dan penjualan sekitar 5 miliar CHF.

Di Indonesia, Nestle telah menginvestasikan lebih dari 100 juta dolar AS yang merupakan nilai penanaman modal terbesar ketiga Nestle di dunia. Perusahaan itu akan menginvestasikan 29 juta CHF dana pada tahun 2009, yang mendukung perluasan pabrik susu Kejayan di Jawa Timur, untuk memenuhi meningkatnya permintaan.

Setelah berakhirnya proyek ini, pabrik di Kejayan akan menjadi satu dari 10 pabrik pemrosesan susu terbesar Nestle di dunia. Bukan hanya 28.000 peternak sapi perah di Jawa Timur yang diuntungkan dari proyek ini, tapi juga seluruh masyarakat.

Anak-anak Indonesia bisa minum susu dengan harga yang terjangkau. Mereka bisa tumbuh sehat dan cerdas serta menjadi generasi penerus yang lebih kuat dan bisa diandalkan. (*)
COPYRIGHT © 2009

Rabu, 10 Juni 2009

KAMPANYE HITAM DAN RACUN POLITIK

Jakarta (ANTARA News) - Kampanye hitam (black campaign) telah menjadi senjata pemusnah para tim sukses dan konsultan politik.

Menjelang masa akhir kampanye Pemilihan Presiden, senjata pemusnah itu makin sering ditembakkan dengan tujuan mengalahkan lawan dan mempengaruhi pemilih di bilik suara pada 8 Juli 2009.

Isu neolib diangkat, jilbab bagi ibu negara dipersoalkan, pengusaha yang jadi penguasa dipertanyakan, kuda seharga Rp3 miliar diramaikan, kerusuhan Mei 1998 dibuka kembali, dan masalah agama dipolitisasi.

Tim sukses "menggoreng" isu-isu negatif tersebut untuk mengangkat kandidat dan menghancurkan kandidat lain.

"Pemilihan presiden itu seperti perang nuklir: Siapa yang menyerang lebih dahulu, dialah yang menang," kata ahli politik Ken Swope.

Medan perang para kandidat itu adalah media. Pertarungan dikemas dalam berita, talkshow dan iklan politik.

Oleh karena kampanye di lapangan dan pengerahan massa terbatas, maka pertarungan antar kandidat lebih panas dan lebih seru di media, terutama di televisi. Masing-masing stasiun televisi "semuanya mengklaim diri sebagai TV Pemilu", memiliki program dan liputan khusus soal Pilpres.

Strategi ilmu perang "menyerang adalah pertahanan yang terbaik", dipraktikan. Tim sukses saling serang dan saling bantah. Capres-Cawapres saling sindir dan berbalas pantun. Media bertepuk tangan. Televisi apalagi.

Rating naik dengan berita-berita mengumbar konflik. Talkshow televisi pun diberi label "Ring Politik", seolah-olah para Capres-Cawapres diadu dalam sebuah pertandingan tinju mulut dan silat lidah. Untuk mendinginkan suasana perdebatan, musik dan lagu dimainkan.

Politik telah menjadi hiburan. Politisi berubah menjadi selebriti. Memilih Presiden dan Wapres dikemas mirip kontes Indonesian Idol. Kandidat ditampilkan bicara, menyampaikan visi misi, dikomentari, lalu pemirsa disuruh memilih siapa idolanya. Media ramai-ramai melakukan polling. Ketik-spasi-reg menjadi trend bagi media untuk mengukur dukungan dan elektabilitas Capres-Cawapres.

Dijamin dapat liputan

Roger Ailes, pengamat politik dan media dari AS, mengatakan ada tiga hal yang media selalu tertarik untuk memberitakan: gambar (pictures), kesalahan (mistakes), dan serangan (attacks).

"Jika anda membutuhkan publikasi, maka anda harus menyerang. Dijamin anda akan mendapat liputan media," kata Roger Ailes.

Ailes mengatakan, publikasi melalui pemberitaan media akan lebih efektif dampaknya ketimbang memasang iklan politik. "Anda akan mendapat 30 sampai 40 persen dampak lebih efektif dalam pemberitaan dibanding lewat iklan. Anda akan menjangkau lebih banyak pemirsa dan lebih dipercaya," katanya.

Pendapat Ailes ini diamini para tim sukses. Ada Capres-Cawapres yang sebetulnya enggan untuk melakukan kampanye negatif, tapi konsultan politiknya menasehati bahwa jika tidak melakukan serangan, maka anda akan jadi abu.

Capres lain bersemangat untuk menyerang dengan keras dan menyewa konsultan politik dan tim sukses yang galak dan berlidah api.

"Waktu kampanye tinggal beberapa minggu. Kami harus menyerang: api lawan api," kata seorang tim sukses.

No gut, no glory," kata seorang Cawapres, seolah meneguhkan bahwa jika tidak ada keberanian (menyerang), kemenangan tidak bisa diraih.

Sepanjang sejarah

Sejarah membuktikan bahwa politisi sejak zaman Romawi telah mengeksploitasi ketakutan, intimidasi dan prasangka terhadap saingan politiknya dalam upaya untuk mempertahankan kekuasaan atau sebaliknya menjatuhkan kekuasaan..

Cicero, misalnya, dikenal sebagai orator ulung, tapi banyak orang lupa bahwa dia juga seorang pelaku kampanye hitam yang hebat.

Abad pertama masehi bukan hanya merupakan perang saudara Romawi yang dipenuhi kekerasan fisik, tapi juga kekerasan retorika. Cicero adalah seorang pencerca yang sadis. Ia menuduh Cataline, lawan politiknya, berniat melakukan konspirasi menjatuhkan pemerintah.

"Pergilah anda dari Romawi. Setiap orang takut dan membencimu. Matamu penuh airmata buaya, tanganmu penuh dengan darah, tubuhmu dibalut keserakahan," begitu Cicero menghujat Cataline.

Bukan itu saja. Cicero menuding Cataline telah membunuh isterinya supaya bisa kawin lagi. Tudingan dan serangan verbal Cicero dalam setiap pidatonya membuat Cataline tidak tahan. Cateline yang mengalami demoralisasi akhirnya meninggalkan Romawi dan terbunuh dalam perang beberapa waktu kemudian.

Dari kisah Cicero tersebut maka bisa disimpulkan bahwa kampanye hitam telah menjadi racun politik sepanjang sejarah politik itu sendiri.

Membunuh demokrasi

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah kampanye hitam, saling serang dan saling menelanjangi, itu baik bagi perkembangan demokrasi?

Victor Kamber, penulis buku "Poison Politics", menjawab bahwa kampanye negatif, apalagi kampanye hitam, merusak demokrasi.

"Kampanye hitam itu seperti racun politik yang tidak sehat bagi rakyat," katanya tegas.

Di negara yang kehidupan demokrasinya sudah matang seperti Amerika Serikat sekalipun, katanya, kampanye hitam tetap terjadi.

Barack Obama, misalnya, tak luput dari kampanye hitam saat Pilpres. Musuh politiknya kerap mengaitkan masa kecil Obama dengan agenda-agenda besar politisi yang pernah sekolah di Menteng, Jakarta itu.

Masa lalu Obama di Indonesia dan Kenya menjadi sasaran empuk kampanye hitam lawan politiknya. Seolah-olah warna Indonesia pada Obama akan membahayakan kehidupan beragama di Amerika Serikat.

Begitupun kandidat Wapres Sarah Palin. Ia disorot media atas kehamilan di luar nikah yang dialami putrinya. Memang Amerika Serikat relatif bebas dalam pergaulan seks ini, tetapi kenyataannya masyarakat di sana tetap menginginkan pemimpin yang bersih, termasuk urusan keluarga tersebut.

Kehamilan di luar nikah telah menjadi senjata kampanye hitam sehingga Sarah Palin menjadi bulan-bulanan media.

Kampanye hitam, menurut Victor Kamber, telah berkontribusi terhadap sikap anti-politik dan meningkatnya jumlah golongan putih (Golput) di Amerika Serikat.

Kampanye negatif telah meracuni demokrasi dengan menelanjangi kekurangan dan kebobrokan para kandidat dan pemimpin politik.

"Bayangkan jika biro iklan Coca Cola menyerang betapa buruknya Pepsi dan Pepsi membalas betapa berbahayanya Coca Cola. Lama kelamaan, tidak ada orang yang mau minum Coca Cola atau Pepsi," tulis Kamber.

Orang dapat hidup tanpa minum minuman ringan. Tapi orang tidak akan bisa terjamin keamanan dan kesejahteraannya tanpa pemerintahan, tanpa presiden dan wakil presiden.

Kampanye hitam akan membuat bangsa ini terbelah. Ia akan menyebarkan permusuhan, fitnah, SARA, dan kebencian.

Dalam perspektif inilah, masyarakat menyambut baik pencopotan Ruhut Sitompul dari tim kampanye SBY-Boediono. Ruhut dianggap menodai etika kesantunan karena meremehkan etnis Arab. Ia juga dinilai melanggar etika dan fatsoen politik yang dijunjung tinggi oleh SBY.

Politik harus beretika. Ia tidak boleh menghalalkan segala cara. Jika kampanye didasarkan hanya pada bagaimana memenangkan Pilpres dan tidak pada landasan etika, maka akan melahirkan presiden yang oportunis, tidak jujur dan berorientasi pada kepentingan sesaat berjangka pendek.

Sebaliknya, jika kampanye didasarkan pada etika dan persaingan yang fair, maka bangsa ini akan mendapatkan presiden yang betul-betul terbaik dari yang baik. Maka, stop kampanye hitam. Katakan tidak pada poison politics ! (***)
COPYRIGHT © 2009

Rabu, 20 Mei 2009

SLOGAN KEMENANGAN CAPRES

Oleh Akhmad Kusaeni

Jakarta (ANTARA News) - Konsultan politik Greg Adams yang pernah menjadi tim sukses Bill Clinton menyatakan slogan politik atau "tagline" sangat penting dan menentukan bagi kemenangan seorang calon presiden.

"Menanyakan apakah slogan penting bagi kemenangan capres sama saja dengan menanyakan apakah seorang pelatih penting bagi sebuah kesebelasan sepak bola. Jawabannya, tentu saja: ya!" kata Adams ketika ditanya wartawan.

Seorang pelatih sepakbola, seperti Alex Ferguson sangat vital bagi kesebelasan Manchester United (MU). Ferguson telah bertugas dalam lebih dari 1000 pertandingan yang dimenangkan MU selama 21 tahun kariernya sebagai pelatih.

Ferguson tidak masuk gelanggang pertandingan, dia tidak menendang atau berlari mengejar bola. Meskipun tidak ikut bertanding, Ferguson adalah salah satu pelatih terbaik dalam permainan. Ia telah memenangkan lebih banyak trofi daripada pelatih manapun sepanjang sejarah sepak bola Inggris.

Peran Ferguson dalam sepakbola sama dengan peran slogan dalam kampanye politik. Pelatih sepakbola tidak terlibat dalam kancah pertandingan. Ia memberi semangat dan arah bagi tim kesebelasannya. Itulah fungsi sebuah slogan atau tagline.

Seorang calon presiden atau wapres setiap hari akan ditanya berbagai macam topik dan masalah, apa visi dan misinya. Capres dan cawapres harus menjawab semua permasalahan bangsa yang muncul. Sekitar 99 persen yang diucapkan capres dan cawapres akan segera dilupakan, tapi ada 1 persen yang melekat dan selalu diingat. Itulah slogan!

Ambil contoh slogan pasangan SBY-Boediono yang cukup hanya satu kata: "Lanjutkan!". Semua kebijakan, pernyataan, dan keterangan yang disampaikan SBY dibingkai dalam satu benang merah yaitu keberhasilan selama pemerintahannya yang pertama dan itu perlu dilanjutkan untuk masa jabatan kepresidenan yang kedua.

Contoh lain adalah slogan pasangan JK-Wiranto yang cukup panjang: "Lebih cepat dan lebih baik". Apapun yang dilakukan dan disampaikan JK, tentu dikemas dalam semangat "tagline" itu. Makanya JK mengumumkan deklarasi berpasangan dengan Wiranto jauh lebih dahulu ketimbang pasangan capres-cawapres lainnya.

Begitu juga pada saat mendaftar ke KPU. JK-Win adalah pasangan Capres-Cawapres yang mendaftar pertama kali. Itu untuk membuktikan kepada calon pemilih bahwa JK-Win lebih cepat dan lebih baik.


Seni Membuat Slogan

Membuat slogan politik butuh seni tersendiri. Pengalaman dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat membuktikan bahwa slogan politik telah mewarnai demokrasi negeri itu sepanjang 150 tahun. Sebuah kalimat atau satu dua kata dirancang sedemikian rupa untuk memenangkan satu calon dan mengalahkan lawan-lawannya.

Tamin Ansary, seorang ahli komunikasi politik, mengatakan tim sukses dan konsultan politik berkumpul untuk menentukan slogan paling tepat. Mereka mengeluarkan gagasan, berargumentasi, dan memilih slogan yang terbaik.

Pada tahun 1992, tim sukses Capres Bill Clinton, misalnya, berdebat untuk memilih sejumlah slogan yang ditawarkan konsultan, yaitu "Putting people first (Dahulukan kepentingan rakyat)", "Don`t stop thinking about tomorrow (Jangan berhenti memikirkan masa depan)", dan "New Covenant (Kontrak politik baru)".

Itu usulan slogan yang bagus, namun dianggap tidak cukup "nendang". Mereka mencari slogan baru yang lebih pas dengan suasana hati kebatinan rakyat Amerika Serikat waktu itu yang sedang dirundung kesulitan ekonomi, meskipun George Bush Sr, "incumbent" yang dikenal berhasil dalam perang Irak.

Mereka akhirnya menemukan slogan baru yang pas dengan sentimen politik waktu itu secara tidak sengaja. Ketika kebuntuan gagasan terjadi, mereka melirik ke catatan kecil yang ditempel di atas meja oleh para pekerja dan sukarelawan: "It`s the economy, stupid!".

Slogan itulah yang akhirnya membuat Bush Senior kehilangan kursi kepresidenannya dan menaikkan Bill Clinton ke Gedung Putih.

Begitulah. Satu hal yang membuat sebuah slogan lebih baik dari slogan lainnya adalah kaitannya dengan suasana kebatinan para pemilih. Slogan yang baik adalah yang betul-betul nyambung dengan alam pikiran pemilih. Sebab, bagaimanapun baiknya pemilihan kata, indahnya sebuah bahasa, jika tidak sesuai dengan suasana kejiwaan pemilih, tentu saja akan gagal. Itu sama saja dengan pantun: "Jaka Sembung bawa golok, gak nyambung, bok!"

Sebaliknya, jika suasana kebatinan pemilih sudah ditangkap, sebuah slogan tetap tidak akan bunyi kalau kata-kata dan kalimatnya tidak tepat. Setiap kata ada nuansanya dan setiap kalimat ada makna konotasinya.


Suasana Batin Rakyat

Jika dipelajari slogan-slogan politik yang terkenal dan berhasil di masa lalu, maka akan ditemukan kaitan antara apa yang terjadi dalam suasana batin masyarakat saat itu dengan bagaimana kalimat slogan itu dirancang.

Salah satu contoh adalah slogan kampanye Barack Obama yang menang melawan "incumbent" George W Bush. "Change we can believe in" pas sekali dengan suasana rakyat AS yang bosan dengan gaya kepemimpinan George W Bush yang suka perang dan melupakan pembangunan ekonomi.

Slogan Capres Ronald Reagan tahun 1980 adalah "Are You Better of Than You Were Four Years Ago?". Slogan ini sangat jitu untuk menangkap perasaan rakyat AS yang dilanda resesi ekonomi selama pemerintahan presiden "incumbent" Jimmy Carter.

Ketika Reagan menanyakan apakah anda hidup lebih baik dibanding empat tahun yang lalu, sebagian besar rakyat menggelengkan kepala. Maka, kalau mau lebih baik, pilihlah saya, kata Reagan.

Tapi ada banyak presiden incumbent AS yang terpilih kembali karena memiliki slogan yang pas di hati pemilihnya. Rakyat puas dengan pemerintahan "incumbent" dan ingin keberhasilan itu dilanjutkan empat tahun ke depan. Contoh: slogan "Jangan ganti kuda saat menyeberangi sungai" membuat Abraham Lincoln terpilih lagi. Begitu juga slogan "Four more years of the full dinner pail" mengantarkan Presiden William McKinley pada masa jabatan keduanya tahun 1900.

Balik ke pemilihan presiden di Indonesia, suasana batin pemilih di tanah air tampaknya terbelah kepada yang ingin "kemesraan ini jangan cepat berlalu dan harus dilanjutkan" dan yang ingin "pemerintahan yang sudah baik ini menjadi lebih baik lagi".

Kedua arus utama itu bagus dan sah-sah saja untuk menjadi pilihan menarik rakyat di bilik suara 8 Juli nanti. Yang tidak bagus adalah slogan yang menjadi tagline film "Alien vs Predator": "Whoever wins?.We lose" (Siapapun yang menang, kita sebagai rakyat kalah).(*)
COPYRIGHT © 2009

http://antara.co.id/arc/2009/5/19/slogan-dan-kemenangan-capres/

Kamis, 26 Maret 2009

JANGAN GANTI KUDA SAAT MENYEBRANGI SUNGAI

Oleh Akhmad Kusaeni

Jakarta, 26/3 (ANTARA) – Banyak pihak menyayangkan kemungkinan berpisahnya dwitunggal Soesilo Bambang Yudhoyono dengan Jusuf Kalla (SBY-JK) pada Pemilihan Presiden 2009.

“Mereka adalah pasangan pemimpin ideal, saling mengisi. Kami ingin beliau tetap bersatu menjadi negarawan,” kata pendiri Institut Lembang Sembilan, Alwi Hamu.

Institut Lembang Sembilan adalah lembaga yang berusaha keras agar SBY-JK dipertahankan dalam pemilu nanti. Alwi dan lembaganya melihat ada upaya-upaya untuk memisahkan dwitunggal SBY-JK baik dari pihak Yudhoyono maupun Kalla.

Ada yang berusaha menurunkan derajat SBY-JK dari negarawan menjadi politikus. Ini bahaya buat masa depan bangsa,” ujar Alwi kepada pers.

Bagi orang-orang seperti Alwi, duet SBY-JK merupakan pasangan yang pas. SBY cenderung hati-hati saat mengambil keputusan. Adapun Kalla lebih cepat bergerak.

Ibaratnya, JK adalah gas, dan SBY remnya. Jika perjalanan pemerintahan ditamsilkan sebagai sebuah mobil, maka ia membutuhkan kombinasi gas dan rem. Kalau gas tanpa rem, perjalanan pemerintahan sangat berbahaya. Bisa celaka akibat tak terkendali. Sebaliknya, jika rem semuanya, mobil bisa mogok, tidak bisa jalan.

Orang juga menilai SBY-JK ideal karena dua tokoh ini memiliki kepribadian unik yang berbeda tetapi sebetulnya saling melengkapi. JK yang cenderung pragmatis dikenal sebagai “man of action”, sementara SBY yang penuh gagasan dan idealisme dikenal sebagai “man of ideas”. Ada yang berfikir dan ada yang bertindak. Klop!

Dari segi latarbelakang keduanya juga saling mengisi. SBY adalah jenderal dengan background sosial politik yang kuat. Sebagai tentara, SBY kental dengan idiom-idiom militer seperti kedaulatan wilayah NKRI, persatuan dan kesatuan, dan stabilitas nasional. Sebaliknya JK adalah saudagar yang punya naluri ekonomi dan bisnis yang sudah terbukti handal. Sebagai pengusaha, JK pandai melihat peluang bisnis dan memajukan ekonomi.

Saling melengkapi

Dari berbagai segi, SBY-JK saling mengisi dan saling melengkapi. Seperti dikemukakan para pengamat, kombinasi dwi-tunggal ini, sebetulnya terbaik untuk bangsa. Survei-survei pun membuktikan, jika pasangan SBY-JK maju lagi, hampir bisa dipastikan mereka terpilih lagi.

Tapi persoalan-persoalan internal di Partai Demokrat dan di Partai Golkar menjadikan dinamika politik berkembang lain. Persoalan internal partai itu, seperti dikemukakan pengamat politik Eep Saifulloh Fatah, adalah Kalla dikelilingi sejumlah politikus Partai Golkar yang mencita-citakan kekuasaan lebih besar bagi partai beringin dalam lembaga eksekutif selepas pemilu 2009. Sementara di Partai Demokrat ada politikus yang over confident bahwa tanpa Golkar dan Kalla, SBY bisa digjaya sendiri.

Ini yang membuat SBY-JK, kedua pemimpin yang pada Pilpres 2004 maju dengan slogan “Bersama Kita Bisa”, kini seolah berdiri di persimpangan jalan. Masing-masing, seperti diberitakan di media, seolah-olah akan menempuh jalannya sendiri-sendiri.

Padahal, pekerjaan keduanya belum selesai. Masih banyak tugas yang belum dituntaskan. Perjuangan memberantas kemiskinan, memerangi kebodohan, menjaga NKRI dan memerangi korupsi –yang menjadi core utama program pemerintahan SBY-JK—baru separuh jalan. Sudah ada keberhasilan dan kemajuan, namun pembangunan jelas membutuhkan waktu.

SBY-JK bukan Bandung Bondowoso yang bisa membangun seribu candi dalam satu malam. Mereka bukan juga David Copperfield, yang bisa menyulap dan menjadikan apa saja, hanya dengan mengucap mantra-mantra simsalabim dan abracadabra. Yang mereka perlukan adalah waktu dan kepercayaan untuk menuntaskan apa yang sudah dijanjikan dan dimulai.

Dalam pertemuan dengan 11 pengamat politik di kediaman resminya di seberang Mesjid Sunda Kelapa, Kalla mengatakan sangat yakin bahwa pemerintahan SBY-JK berada dalam jalur yang benar.

“Jika diberi kesempatan lebih panjang, kami akan mengantar Indonesia pada kelimpahruahan ekonomi pada 2011,” katanya.

Artinya, di pihak Kalla sendiri, sebetulnya ada keyakinan bahwa tugasnya bersama SBY memimpin bangsa ini belum selesai untuk dengan selamat menggapai Indonesia 2011 itu.

Jangan ganti pemimpin

Jika saja SBY-JK tidak berpisah dalam Pilpres 2009, mereka sangat berpeluang untuk terpilih lagi. Mereka bisa berkampanye dengan slogan: “Don’t change horses in midstream!” (Jangan ganti kuda saat menyeberangi sungai). Maksudnya, jangan mengganti pemimpin saat mereka berada di tengah tugas maha penting yang belum selesai. Beri kesempatan untuk melanjutkan dan menuntaskan.

Slogan ini yang membuat Abraham Lincoln terpilih kembali dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat tahun 1864. Ketika Lincoln dinominasikan sebagai calon presiden untuk masa jabatan kedua kalinya pada 9 Juni 1864, ia meminta rakyat Amerika Serikat untuk memberinya kesempatan untuk menuntaskan misinya untuk menghentikan perang saudara dan mengakhiri perbudakan.

Lincoln dalam setiap kampanye mengatakan, “Saya tidak meminta anda untuk memilih karena saya paling hebat atau orang terbaik di Amerika, tapi saya ingin anda memutuskan seperti kearifan peternak Belanda bahwa sangatlah tidak baik untuk mengganti kuda saat berada di tengah sungai”.

Lincoln adalah presiden ke-16 AS dari Partai Republik. Ia terpilih pada Pemilu 1860 dan berhasil membawa AS lepas dari krisis internal terbesar sepanjang sejarah AS, yaitu upaya separatisme dan pengakhiran perbudakan. Ia terpilih kembali pada masa jabatannya yang kedua pada Pemilu 1864.

Begitu juga dengan SBY-JK. Apabila dwi-tunggal itu memiliki tugas maha penting bersama, yaitu menggapai Indonesia 2011 sebagaimana yang dicita-citakan, tentu rakyat akan memahami kearifan slogan Abraham Lincoln itu. Rakyat besar kemungkinan tidak akan mengganti kuda saat sungai belum seutuhnya tersebrangi.

SBY-JK juga bisa menggunakan slogan Presiden McKinley yang untuk kedua kalinya mengalahkan William J Bryan pada Pemilu tahun 1900. Jika pengabdian pemerintahan diibaratkan jamuan makan, maka empat tahun pertama masa jabatan McKinley belum cukup untuk melayani rakyat makan malam dengan tuntas sehingga perut mereka kenyang.

McKinley pun meminta diberikan waktu empat tahun lagi. Tim suksesnya kemudian merumuskan slogan kampanye yang unik dan menarik: ”Four More Years of the Full Dinner Pail”. Rakyat AS kemudian memberi kepercayaan kepada McKinley yang berpasangan dengan Theodore Roosevelt sebagai Wapres untuk masa jabatan yang kedua.

Semuanya terpulang kepada SBY-JK sendiri. Kedua pemimpin itu yang tahu persis apa yang paling penting untuk dirinya dan untuk bangsanya. Semua kemungkinan masih terbuka. Apakah SBY-JK akan terus bersama atau berpisah, tentu akan segera ditemukan jawabannya setelah Pemilu 9 April 2009.

Time will tell, kata pepatah Inggris.