Jumat, 04 Januari 2008

PERAMPOK DERMAWAN

Oleh Akhmad Kusaeni

Kisah ini tentang seorang ayah dengan empat anak lelakinya. Yang sulung bernama Dadi, anak kedua Bambang, anak ketiga Tanto dan si bungsu Imam Gunawan. Sang ayah sendiri yang sudah menduda bernama Toton Sumardi Sastraowardoyo yang dikenal sebagai banker yang kaya raya.
Saat keempat bersaudara itu masih di bangku kuliah, si ayah memanggil mereka secara bersama-sama pada suatu petang.
“Anak-anakku, kini saatnya kalian memilih karier masing-masing. Mau aja apakah kalian ?” Tanya si ayah setelah menyeruput secangkir kopi hitam pekat.
Dadi, si sulung menjawab:
“ayah.alu mau jadi seorang lawyer”
“Bagus,” si ayah mengangguk-angguk,”jadilah kamu seorang pengacara yang hebat.”
Bambang, anak kedua, menjawab:
“Aku ingin jadi dokter,”
“Jadilah dokter.Akus ama sekali tak keberatan,”
Tanto,anak, ketiga menjawab:
“Ayah,aku ingin jadi pedagang sekaligus banker seperti anda. Dengan begitu saya bisa mendapat uang banyak dalam waktu singkat.”
“Saya akam membantumu menjadi apa yang kamu cita-citakan.”
Imam,sibungsu, setelah terdiam sekian lama, akhirnya menjawab juga:
“Ayah, aku ingin menjadi seorang perampok,”
Semua yang mendengar terkejut bukan kepalang. Sama sekali tak menyangka si bungsu bercita-cita jadi maling. Si ayah sampat terloncat dari tempat duduknya saking tidak percaya dengan apa yang baru saja ddidengarnya. Ketiga saudaranya mengumpat si bungsu sebagai anak nakal, adik bandel, bangsat, bajingan dan calon penjahat di masa depat. Meskipun dicaci dan dimaki, si bungsu tetap teguh dengan cita-citanya. Bukankah setiap anak punya hak untuk menentukan masa depannya sendiri? Bukankah setiap orang bisa memilih apa yang dia mau: dokter, lawyer, banker, maling?
“Aku sudah bertekad menjadi rampok , ayah. Jika ayah takmengizinkkan, aku akan kabur dari rumah ini!”
Si ayah yang marah kemudian mengusir si bungsu setelah puas mencaci dan mengutuknya. Ini betul-betul sebuah drama dalam keluarga banker yang kaya raya itu. Dan malam itu si bungsu Imam mengepak pakaian sekedarnya dalam sebuah tas punggung dan menemui Bi Entin, pembantu tertua dirumah mewah itu. Bi Entin tidak tahu apa yang telah terjadi pada keluarga tuannya., mengira Imam akan pergi berlibur ke puncak atau menemui oom atau tantenya di Bali.
“Bi, aku tak mau mengganggu ayah dan aku dalam kesulitan: bisakah saya pinjam tabunganmu satu juta rupiah dan saya akan menggantinya minggu depan?”
Oleh karena Bi Entin baru saja mengirimkan uangnnya ke kampung halaman di Banten, pembantu yang sudah bekerja di rumah keluarga banker itu sejak keempat bersaudara itu masih bayi, hanya mampu meminjamkan dua ratus ribu rupiah saja.
“Terima kasih,” ujar Imam seraya pergi dari rumah tanpa maksud untuk kembali.”Utang adalah utang. Suatu ketika aku harus membayarnya,” gumamnya dalam hati.

***

Dan 25 tahun pun berlalu. Dua puluh lima tahun adalah jangka waktu yang lama dan tak pernah ada kabar berita mengenai si bungsu yang dikutuk ayah dan kakak-kakaknya itu. Si ayah kini sudah lebih 70 tahun, sudah pension, sakit-sakitan, dan jatuh miskin karena kehilangan harta bendanya akibat kerugian dalam spekulasi bursa saham dan valuta asing.
Toton Sumardi Sastraowardojo yang dulu tinggal di rumah mewah di kawasan elit Pondok Indah, punya sejumlah vila di puncak dan tanah perkebunan di berbagai daerah, punya deposito di sejumlah bank, batangan emas dan permata, dinyatakan pailit dan dililit utang. Asset keluarga Toton yang nilainya miliaran rupiah itu disita ……………………………..Rp250.000 per bulan di Kampung Bali, kawasan yang padat dan rawan kejahatan di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sungguh kasihan. Toton Sumardi Sastowardojo adalah mantan bankir yang malang.
Anak-anaknya pun tidak jauh berbeda nasibnya dengan sang ayah. Dadi, si pengacara, hanya mengurus lima kasus selama 25 tahun. Itupun semuanya kalah di pengadilan atau dalam putusan kasasi Mahkamah Agung. Meskipun pihaknya berada pada pihak yang benar, namun pihak lawan lebih punya pengaruh karena pengacaranya kenal baik dengan presiden, menteri, pejabat, anggota DPR dan atasan para hakim yang menangani perkara mereka, Dadi, yang tidak punya catatan bagus sepanjang seperempat abad kariernya sebagai lawyer, harus puas menjadi staf biasa di sebuah kantor pengacara dengan gaji Rp2 juta perbulan. Tentu saja penghasilah sebesar itu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari isteri dan kelima orang anaknya.
Bambang yang menjadi dokter tidak lebih baik. Segera setelah Bambang punya izin praktek, dua atau tiga pasiennya mati. Bukan karena malpraktek tapi memang harus mati karena penyajitnya yang tidak bisa diobati lagi. Tapi apa kata dokter-dokter lain pesaingnya yang mengetahui ihwal kematian pasien itu ? Mereka mengatakan bahwa Bambang adalah seorang pembunuh, tidak tahu apapun mengenai obat-obatan dan seorang terkun alias dokter yang lebih banyak bertindak seperti dukun.
Isu yang tersebar dari mulut ke mulut itu membuat orang-orang takut membawa orang sakit berobat ke dolter Bambang. Tempat prakteknya menjadi sepi bak kuburan. Bagi seorang dokter, tak ada pasien yang datang berobat berarti tak ada uang pemasukan. Penghasilan dokter Bambang jadi terbatas hanya karena gajinya tiap bulan sebagai karyawan di sebuah rumah sakit dan bukannya keahliannya sebagai dokter.
Tanto, yang dulu bercita-cita jadi pedagang dan banker seperti ayahnya, tidak juga hidup lebih nyaman. Bahkan keadaannya lebih buruk lagi dari kedua kakaknya. Selama 25 tahun terakhir ini tak ada satu kesussesanpun dibuat Tanto selain menghabiskan modal, waktu dan kesehatannya. Tanto pernah membuka took yang menjual barang-barang mewah di sebuah mal dan menjadi rekanan di sebuah departemen. Tapi berbagai peristiwa seperti kebakaran, kerusuhan missal dan krisis ekonomi membuat usahanya jatuh bangun terus menerus, Pernah ketika sedang jaya-jayanya, tokonya diserbu penjarah yang memanfaatkan momentum massal. Semua barang mewah yang dijualnya,perhiasan emas berlian berkilo-kilo dan ratusan jam tangan Rolex, habis disikat para penjarah. Ketika beralih profesi menjadi rekanan di sebuah departemen, modal perusahaannya justeru habis untuk biaya perolehan tender proyek yang tidak selalu dimenangkannya. Jangan harap mendapat proyek tanpa KKN dan sogok sana-sogok sini. Gagal sebagai pedagang dan kontraktor, Tanto bekerja serabutan untuk menyambung hidup.
Ketiga bersaudara yang tidak begitu bagus peruntungannya itu kerap berkumpul di rumah kontrakan ayah mereka di akhir pekan. Kalau sudah bertemu begitu, mereka mau tak mau teringan akan si bungsu dan membicarakannya.
“Apa yang terjadi dengan si Imam?”
“Mungkin dia sekarang sedang menjalani hukuman di penjara.”
“Mungkin malah sudah mati”
“Tewas dibakar massa.”
“Masya Allah…”
Tak pernah berkirim surat sekalipun selama 25 tahun.”
“Dasar anak nakal!”
“Adik bandel!”
“Tak tahu diuntung!”
“Sudahlah, jangan berserapah.”
“Mari berdoa untuk dia.”
“Siapa tahu masih hidup.”
***
Dan di satu hari minggu yang cerah, seorang pembantu tergopoh-gopoh mengetuk pintu kamar kontrakan Toton Sumardi Sastrowardojo yang saat itu tengah berkumpul dengan ketiga anak lelakinya.
“Pak Toton, ada yang mencari bapak.”
“Siapa?”
“Nggak tahu, saya nggak berani Tanya namanya.Orangnya perlente,naik BMW.Apa bapak ounya teman pengusaha kaya atau pejabat tinggi?”Tanya si pembantu.
Aroma minyak wangi mahal yang semerbak. Meski sekarang bercambang dan berjanggut tipis,sosok tamu itu jelas sangat dikenal. Seketika mereka berseru setengah berteriak:
“Imam!”
Ya,itu memang Imam yang segera bersimpuh di kaki Toton.
“Ayah,25 tahun lalu, aku meninggalkan ayah dan kakak-kakak dalam keadaan miskin dan nelangsa. Kini aku kembali dalam keadaan kaya dan penuh kuasa. Maukah kau memaafkanku?”ujar Imam.
Aroma kemewahan segera menghipnotis Keluarga yang kurang beruntung itu. Seluruh keluarga denga seketika melihat kembalinya Imam sebagai cikal bakal kembali naiknya derajat kehidupan mereka. Dua puluh lima tahun kutukan dan sumpah serapah hapus dalam sekejap.
“Anakku!”seru sang ayah sambil menciumi si anak hilang,”Selamat datang!”
Dadi,Bambang dan Tanto pun memeluk dan ikut-ikutan menciumi si bungsu. Imam diperlakukan seolah-olah malaikat yang datang untuk menghapus penderitaan mereka dan menggantinya dengan kebahagiaan dan kemakmuran.
Setelah puas berpelukan dan berciuman, sang ayah dengan kebapakan berkata kepada Imam.
“Ceritakan pada kami,anakku,ceritakan bagaimana caranya kamu bisa mencapai derajat dan kekuasaan seperti sekarang ini.”
Imam bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu dan menguncinya, sebelum akhirnya dengan jujur menjawab pertanyaan sang ayah.
“Saya merampok,ayah.”
***
Lelaki tua itu tersentak.
“Jangan berfikir macam-macam wahai ayah dan saudara-saudaraku. Mereka mengatakan aku tidak melakukan sesuatu yang buruk. Saya kembali pulang kampong dengan penuh kehormatan dan uang melimpah. Saya kini sangat dihormati, saya dianggap contoh dari tokoh yang sukses dalam kehidupan modern,”tutur Imam.
Ia pun menceritakan perjalanan hidupnya 25 tahun terakhir ini.
“Ayah dan kakak tahu bahwa dengan uang dua ratus ribu perak dari Bi Entin saya meninggalkan rumah mewah kita. Ngomong-ngomong dimana sekarang Bi Entin?”
“Ia sudah sangat renta sekarang.Kalau tidak salah, sekarang ia diurus di sebuah panti jompo.”
“Malam ini juga saya harus memberikan setidaknya dua juta rupiah kepada pembantu yang baik itu sebagai bayaran atas utang dan bunganya.”
“Dan untukmu Dadi, saya akan berikan satu lilyar rupiah. Untuk Bambang dan Tanto, kalian akan mendapat jumlah yang sama. Sementara untuk ayah, saya telah membelikan rumah mewah di pinggir lau di Pantai Mutiara Ancol dimana kita akan tinggal bersama dan ayah akan menjadi raja.”
Semalam suntuk ayah dengan empat bersaudara itu saling tukar cerita.
“Saya ikut berlayar sebagai anak buah kapal ke Eropa dan terdampar di satu negara yang penuh uang tapi tidak ada moral. Sebelum saya membangun kerajaan bisnis saya sendiri, saya bekerja pada seorang tua kaya pemilik galangan kapal. Dalam enam bulan saya berhasil mencuri isterinya.”
”Astaga.”gumam si ayah.
“Karena melibatkan orang terkaya, upaya saya merebut isteri milyuner itu ramai diberitakan media massa. Wartawan menyebutnya sebagai drama cinta abad ini Setiap orang berpihak kepada saya. Wanita itu muda dan cantik, sedang suamiya tua dan sakit-sakitan, serta memperlakukan isterinya dengan buruk.”
“Koran dan majalah memajang gambar foto saya,wanita itu dan suaminya yan bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri. Saya bagaikan pahlawan yang menyelamatkan wanita itu dari tindakan brutal suaminya. Lalu saya pindah ke Amerika Serikat bersama wanita itu. Ia mendapatkan warisan miliaran dolar untuk saya. Saya tanamkan modal di bursa saham Wall Street. Saya kemudian menjadi warga negara Amerika.”
“Anak saya jadi warga negara Amerika? Tidak! Itu tidak mungkint erjadi.” Potong sang ayah.
“Tapi,ayah jangan kuatir. Amerika itu bisa mengakui dua kewarganegaraan. Saya masih bisa mengantongi kewarganegaraan Indonesia saya sambil mengetuk keuntungan sebagai warga negara Amerika.”
“Anak pintar,”komentar sang ayah.
“Hebat,”komentar para saudaranya.
“Anak pintar,”komentar sang ayah.
“Hebat,”komentar para saudaranya.
“Saya menanam modal di macam-macam bisnis di Wall Street. New York adalah kota yang jadi hamba uang dan siapa yang memilikinya. Saya banyak bermain golf dan mendatangi acara makan malam,sebagai alat yang efektif mencari teman dan koneksi. Sebagai investor, saya banyak didatangi para investor, Mereka menjelaskan hasil temuannya, dan saya membiayainya. Saya mencuri idenya dan menarik keuntungan darinya.”
“Ya Tuhan, bagaimana bisa begitu anakku?” taya sang ayah.
“Tidakkan ayah tahu bahwa orang yang membuat, yang menemukan sesuatu tidak selamanya bisa mendapat keuntungan dari hasil karyanya?Penulis diekploitasi oleh penerbit, actor oleh impresario dan investor oleh pemilik modal yang biasa disebut kapitalis. Saya adalah kapitalis dan orang membungkur kepada saya. Semua wanita memuja saya dan saya biarkan isteri saya meninggalkan saya karena jatuh cinta dengan pemuda miskin macam saya dulu.”
Uang bagaikan air membanjiri saya,jumlahnya miliaran, bahkan triliunan dolar. Saya banyak menerima penghargaan, penghormatan, gelar bangsawan dan professor honoris causa daris eluruh dunia, karena banyak lembaga-lembaga itu yang menjualnya dan saya membelinya. Pendeknya inilah saya,Imam,usia 46 tahun, dijuluki “banker kaya raya,” “pengusaha kakap” atau “konglomerat raksasa” Saya juga sering disebut sebagai “philanthropist” hanya karena saya memberi ribuan dolar untuk penduduk miskin danmembangun rumah sakit, sekolah dan apapun yang masyarakan inginkan dari saya..”
“Baiklah ayah, besok kita akan pindah ke rumah baru yang mewah. Ayah bisa tinggal di lantai dasar dan kakak-kakak bersama Keluarga tinggal di lantai atas. Setiap Keluarga akan mendapatkan deposito satu triliun rupiah di bank dan saya akan memulai pekerjaan besar saya di tanah air untuk berusaha menjadi wakil rakyat. Saya akan berjuan menjadi anggota DPR, karena saya harus membuat undang-undang yang menguntungkan orang macam saya, Ya ayah. I shall make the laws. (cerita pendek ini hasil adaptasi dari cerpen Spanyol berjudul “Modern Life” karya Eusobio Blasco (1844-1903) dan dipersembahkan sebagai bahan renungan para wakil rakyat.

Tidak ada komentar: