Jumat, 11 November 2011

Ditawari hajar jahanam di Pasar Seng

oleh : Akhmad Kusaeni

Masjidil Haram, Mekkah (ANTARA News) - "It`s shopping time!," kata teman saya mengajak berbelanja ke Pasar Seng, yaitu pasar kaki lima yang letaknya di belakang Masjidil Haram, Mekkah Al Mukaramah. Setelah menunaikan rukun ibadah haji, memang saatnya bagi jemaah haji berburu cenderamata sebelum kembali ke Tanah Air.

Sebelumnya beredar kabar kalau Pasar Seng sudah tidak ada lagi karena dibongkar untuk perluasan Masjidil Haram. Pasar cenderamata yang dulu hanya dipagari dengan seng ini begitu terkenal di kalangan jemaah haji Indonesia. Setelah tawaf dan itikaf di Masjidil Haram, jemaah haji biasa melipir ke belakang untuk "tawaf di Pasar Seng".

Bukan untuk belanja atau cari cenderamata saja, tapi juga sekadar untuk minum teh, minum kopi, atau cari makanan. Di sekitar Pasar Seng banyak penjual makanan dan minuman. Ada kebab Turki, nasi "biryani", nasi "buhori", sate Arab, atau bakso Solo Indonesia. Di dekat Pasar Seng ada perpustakaan yang dulunya adalah rumah tempat lahir Nabi Muhammad SAW. Di situ juga jemaah antre mengisi jerigen air zamzam untuk dibawa pulang.

Di Pasar Seng yang ramai dan hingar bingar bisa dilihat bagaimana globalisasi sesungguhnya berjalan. Pasar tumpah ala Tanah Abang Jakarta itu menyediakan barang-barang cenderamata yang mayoritas produksi China. Pernik-pernik hiasan Arab, pakaian, tasbih, sajadah, mukena, peci, parfum dan minyak wangi, nyaris semuanya "Made in China".

Para pedagangnya kebanyakan berasal dari Asia Selatan, seperti dari India, Pakistan, atau Bangladesh, meskipun satu-dua ada yang berasal dari Arab. Itupun bukan dari Arab Saudi melainkan dari Yaman atau Sudan.

Pembelinya hampir 90 persen dari Indonesia! Kemana mata memandang, pasti terlihat muka Melayu. Jemaah Indonesia, tahun ini sebanyak 221.000 orang, termasuk yang paling ditunggu para pedagang Pasar Seng. Selain jumlahnya paling banyak, jemaah Indonesia terkenal sebagai tukang belanja yang royal. Suka memborong dan jarang yang "ngeyel" kalau menawar.

Oleh sebab itu para pedagang itu lancar berbahasa Indonesia. Sambil tersenyum atau menepuk bahu jemaah yang lewat, pedagang mengajak masuk ke tokonya. "Ayo masuk saja, Mas. Murah-murah. Halal," kata Sanat Kumar Biswas, pedagang asal Bangladesh kepada saya yang melewati tokonya.

Ketika saya menghentikan langkah, ia segera menarik tangan saya dan menunjukkan "kafiye" yang dijualnya. "Indonesia bagus... bagus... Thoyib...thoyib...," katanya membujuk.

Mau tak mau saya lihat tumpukan "kafiye", penutup kepala yang biasa dikenakan oleh almarhum pemimpin Palestina Yasser Arafat itu. Ada kafiye warna merah, hitam, coklat, dan hijau. Harganya barang produksi China paling murah 15 riyal per satu lembar yang kira-kira Rp50.000 jika dirupiahkan. Ada juga produksi Bangladesh atau India. Produk yang mahal adalah buatan Jepang karena bahan dasar kainnya lebih bagus dan halus. Namun harganya di atas 50 riyal.

"Kalau untuk teman yang 15 riyal bagus, tapi untuk bos yang pakai kotak ini, 60 riyal," kata Sanat Kumar yang tampaknya mengerti betul keperluan orang Indonesia mencari cenderamata. Sampai-sampai dia tahu kenang-kenangan untuk dibagi teman, pakai sendiri atau untuk atasan.

Saya membeli sejumlah "kafiye" dan melongok toko yang lain. Kali ini saya melihat-lihat toko baju muslim Arab hitam-hitam yang disebut "abaya". Saya berniat membelikan oleh-oleh untuk ibu saya di kampung. Dua orang penjaga langsung melayani saya sambil tak hentinya membujuk, "Bagus...bagus dan Murah...murah". Saya membeli dua "abaya" masing-masing seharga 100 riyal.


Kuat seperti Arab

Tiba-tiba salah satu penjaga yang mengaku bernama Firoz itu membisiki saya. Ia menawarkan obat kuat Arab yang sangat terkenal, yaitu hajar jahanam.

"Mau hajar jahanam? Bisa bikin kuat seperti orang Arab," katanya sambil mengangkat tangan kanannya seperti orang binaragawan memperlihatkan otot bisepnya.

Saya pura-pura tidak mengerti dan bertanya apakah yang dimaksud itu raja jahanam. Apakah benda itu batu semacam hajar aswad, batu hitam yang menempel di Kabah? Jika dilihat dari kata-katanya maka hajar adalah batu, aswad adalah hitam.

"Kalau hajar aswad berarti batu hitam, maka hajar jahanam itu batu neraka dong," kata saya menebak sekenanya.

Si pedagang asal Arab bilang kalau hajar jahanam bukan batu dalam artian sebenarnya. Hajar jahanam dihasilkan dari getah semacam pohon jeruk yang hanya tumbuh di jazirah Arab, khususnya di Mesir. Karena getah itu dipadatkan, maka ia menyerupai batu.

Untuk mengumpulkan getah menjadi batu hajar jahanam seberat satu kilogram, katanya, dibutuhkan waktu satu tahun. Hajar jahanam berkhasiat menahan ejakulasi dengan cara membebalkan area-area sensitif sehingga bisa bercinta sampai lama.

"Buktikan kalau anda sayang isteri," katanya seraya memperagakan tangannya yang kuat berotot.

"Harganya 250 riyal sebungkus," ujarnya setelah menjelaskan panjang lebar cara pakainya yang vulgar dan porno banget.

Saya mengangguk-angguk saja. Saya jadi teringat beberapa tahun lalu saat berkunjung ke Mesir bersama kolega saya. Di pasar cenderamata Khan Halilie, Kairo, kami juga ditawari hajar jahanam. Kami dibujuk untuk mendengarkan kekuatan dan kemujaraban batu itu.

Saya tidak tertarik, tapi kolega saya kepincut. Harganya cukup mahal sekitar 50 dolar AS. Oleh karena terbujuk dengan rayuan gombal, kolega saya yang tidak perlu disebutkan namanya itu membelinya. Sepanjang jalan menuju ke hotel, kolega itu tersenyum-senyum sendiri sambil menghafal "aturan pakainya".

Saya katakan untuk mencoba dulu. Jika khasiatnya nyata maka sms atau telpon saya, dan saya akan membelinya. Dia berjanji jika ternyata manjur maka akan menghubungi saya. Bilamana perlu dia akan bagi saya hajar jahanam itu barang seoles dua oles.

Semalaman saya menunggu sms dan telepon dari kolega saya itu. Tapi sampai saya tertidur tidak kunjung ada kontak darinya. Pagi-pagi saat sarapan, saya tanya kolega saya itu, "Gimana? Tokcer?".

Dia menggeleng dan malu-malu mengatakan, "Payah, cuma panas doang".


Jangan tertipu

Kembali ke Pasar Seng, berdasarkan pengalaman tersebut, saya tidak mau tertipu sebagaimana kolega saya di Mesir itu. Saya tinggalkan pedagang itu baik-baik seraya mengatakan kalau saya masih muda dan tidak memerlukan obat kuat apapun, entah itu viagra ataupun hajar jahanam.

Saat kembali ke penginapan, saya ceritakan kisah saya ditawari hajar jahaman di Pasar Seng itu. Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah Panitia Haji Indonesia Arsyad Hidayat mengatakan apa yang saya lakukan sudah benar karena keaslian hajar jahanam yang diperjualbelikan di Pasar Seng tidak bisa dipertanggungjawabkan.

"Jangan sembarang beli. Saya juga melarang tenaga-tenaga musiman petugas haji untuk menjual hajar jahanam kepada jemaah haji Indonesia," katanya.

Abdul Kholik, pengurus Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) mengatakan bagi warga Arab, hajar jahanam sangat populer. Obat antiloyo tradisional Mesir bagi pria itu diyakini bisa memberi kepuasan bagi pasangan hidupnya.

"Banyak jemaah pernah tertipu dan terbujuk oleh mitos kekuatan hajar jahanam. Setelah mencoba, mereka kecewa," kata mantan Sekretaris Fraksi PKB di zaman Gus Dur itu.

Selain takut ditipu, alasan utama saya tidak tertarik sama sekali dengan hajar jahanam karena alasan medis kedokteran. Menurut literatur kedokteran, fungsi hajar jahanam menjadikan kulit bebal temporer. Menggunakan hajar jahanam sama dengan melakukan anestesi lokal, kata dr. Ramon Gonzalez.

Ramon mengingatkan bagi pengguna obat tradisional Arab Mesir ini harus hati-hati karena dapat menimbulkan efek panas. Bila keliru, pasangan bisa menjadi jadi korban karena harus mendinginkan perkakas suami. Kalau itu sampai terjadi, betul-betul itu batu neraka jahanam.

1 komentar:

Febryan Paudi mengatakan...

wah hajar jahanam alias hajar sa'adah di sana ya