Selasa, 05 Januari 2016

Objek Wisata Baduy Bisa Mendunia

"Kami yakin wisata budaya Baduy memiliki nilai jual yang mendunia, seperti kehidupan komunitas suku Aborigin di Australia, suku Amish di Amerika Serikat, atau suku Incha di Manchu Pichu Peru," 
Lebak (ANTARA News) - Pemerhati sosial dari Rangkasbitung Ahmad Kusaeni mengatakan objek wisata adat masyarakat Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, bisa dijadikan wisata dunia karena memiliki keunikan suku terasing.

"Kami yakin wisata budaya Baduy memiliki nilai jual yang mendunia, seperti kehidupan komunitas suku Aborigin di Australia, suku Amish di Amerika Serikat, atau suku Incha di Manchu Pichu Peru," kata Ahmad saat dihubungi di Lebak, Rabu.

Khasanah budaya masyarakat Baduy cukup menarik untuk dilakukan wisata penelitian antropologi, karena kehidupan masyarakat itu hingga kini masih mempertahankan adat leluhurnya.

Untuk itu, banyak pengunjung wisata domestik dan mancanegara melakukan penelitian kehidupan masyarakat Baduy.

Masyarakat Baduy hingga kini masih mempertahankan adat istiadat dan menolak kehidupan modern.

Kawasan hutan yang dihuni masyarakat Baduy seluas 5.100 hektare tanpa jalan, jaringan listrik, televisi, radio, dan kendaraan.

Bahkan, masyarakat Baduy Dalam berpakaian putih-putih bepergian ke luar daerah harus berjalan kaki dan dilarang naik angkutan kendaraan.

"Banyak para antropolog datang ke Baduy untuk melakukan penelitian," katanya.

Menurut dia, keberadaan suku terasing itu akan menjadi objek wisata dunia sehingga memberikan nilai tambah untuk peningkatan ekonomi masyarakat juga pendapatan asli daerah (PAD).

Dengan begitu, ujarnya, pemerintah daerah harus memprogramkan wisata Baduy menjadi Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA).

Pengembangan wisata ini nantinya ditata melalui pembangunan terintegrasi dengan infrastruktur, penginapan, dan pusat perdagangan.

Apalagi, produk-produk kerajinan suku Baduy cukup unik di antaranya aneka jenis souvenir, tas koja, golok, tenun, dan gula aren.

"Saya yakin jika dibangun secara terintegrasi di kawasan Baduy dipastikan bisa menjadi objek wisata mendunia," kata mantan Direktur Pemberitaan LKBN Antara itu.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Lebak Okta mengatakan pemerintah daerah terus membangun jalan menuju objek wisata budaya Baduy dari Rangkasbitung hingga Ciboleger atau pintu gerbang masuk kawasan Baduy.

Kunjungan wisatawan domestik 2015 kemungkinan bertambah hingga mencapai 6.849 orang, sedangkan tahun sebelumnya hanya 5.380 orang.

Sedangkan, wisatawan mancanegara tercatat 158 orang berasal dari Belanda, Inggris, dan Swiss.

Sebagian besar wisman itu, katanya, untuk kepentingan konservasi maupun mempelajari budaya setempat.

Para pengunjung kawasan permukiman Baduy tidak dibebani retribusi oleh pemerintah daerah.

"Kami memberikan kemudahan bagi wisatawan yang berkunjung ke Baduy dengan tidak tidak memungut biaya," katanya.

Emuy Mulyanah, seorang Anggota DPRD Kabupaten Lebak mengatakan potensi objek wisata Baduy memiliki nilai jual hingga mendunia karena cukup menarik untuk dijadikan bahan penelitian.

Sebab, katanya, masyarakat Baduy masuk kategori suku terasing yang ada di Tanah Air.

Masyarakat Baduy bersahabat dengan alam, sehingga kawasan Baduy tidak ada penerangan listrik, elektronika, maupun jalan beraspal.

Namun, pihaknya prihatin kekayaan potensi wisata adat itu tidak didukung infrastuktur dan sarana lainnya yang memadai.

Saat ini, di kawasan wisata Baduy tidak terdapat hotel, wisma, pasar, dan pasokan air bersih.

Dengan demikian, ujar dia, hingga kini objek wisata adat Baduy relatif kecil dikunjungi wisatawan mancanegara.

"Kami yakin objek wisata itu bisa mendatangkan wisatawan mancanegara," ujar politikus PDI Perjuangan itu.

Sekretaris Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Sarpin mengatakan selama ini rombongan pengunjung objek wisata Baduy kebanyakan dari perguruan tinggi, sekolah, peneliti, lembaga, instansi swasta, dan pemerintah, sedangkan dari kalangan keluarga relatif kecil.

"Kami yakin ke depan kunjungan wisata adat Baduy meningkat, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal," kata Sarpin. 



Selasa, 11 Agustus 2015

Wah, Kue Pancong dan Wedang Ronde Bertengger di Milan Expo 2015

Oleh Akhmad Kusaeni 
Menikmati kue pancong dan wedang ronde di Jakarta Fair adalah hal yang biasa, sama sekali tidak istimewa. Tapi bisa menikmati kue pancong dan wedang ronde di ajang pameran internasional Milan Expo, Italia, baru luar biasa. Itu baru sangat istimewa.

Sensasi jajan pasar itulah yang dijanjikan pengelola Paviliun Indonesia di Milan Expo pada 15, 16, dan 17 Agustus 2015. Dengan tema 'Marvelous 70' sebagai bentuk puji dan syukur atas 70 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, panitia menjanjikan membawa kemeriahan pesta 17 Agustusan di Milan.

Pengelola Bogor Café Desa Restaurant di Paviliun Indonesia lewat chef-chef terbaiknya bakal memenuhi kerinduan pengunjung terhadap makanan dan jajanan pasar Indonesia.

Masakan yang disajikan oleh Bogor Café Desa Restaurant yang disajikan dalam rangkaian 17 Agustus-an adalah mini nasi tumpeng, ayam goreng bumbu kuning, daging rendang, ikan rica-rica dan tempe orek.

Tidak ketinggalan, jajanan pasar juga dihadirkan di Food Stall yang terletak di bagian luar Paviliun Indonesia, di antaranya kue cubit, kue pancong, kue apem, wedang ronde, es teller, dan gado-gado.

Ada juga sate ayam bumbu kacang yang menjadi favorit pengunjung Paviliun Indonesia dan selalu menjadi menu andalan di Food Stall. Setiap hari sekitar 300-an pengunjung antri untuk menikmati sate kesukan Presiden Amerika Serikat Barack Obama itu.

Para WNI yang berkunjung ke Paviliun Indonesia pada tanggal 15, 16 dan 17 Agustus 2015 selain mendapat penawaran paket makanan dan minuman juga mendapat hadiah-hadiah spesial. Selain itu, Tersedia juga grand prize bagi pengunjung yang beruntung.

Berbagai macam doorprize menarik telah disiapkan oleh Paviliun Indonesia dalam menyambut acara 'Marvelous 70' ini, salah satunya adalah tiket pesawat AMS – JKT – AMS dan tiket nonton pertandingan Inter Milan. Belum lagi puluhan voucher menginap di Discovery Kartika Plaza Bali, Hotel Borobudur Jakarta, dan Discovery Hotel & Convention Ancol.
Dimuat di Republika 11 Agustus 2015
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/kuliner/15/08/11/nsw3em359-wah-kue-pancong-dan-wedang-ronde-bertengger-di-milan-expo-2015

Rempah-rempah Indonesia Curi Perhatian di Milan Expo

Oleh Akhmad Kusaeni

DARI zaman penjajahan sampai zaman kemerdekaan sekarang, ternyata orang-orang Eropa sangat tertarik dengan rempah-rempah. Gak percaya? Ini buktinya.

Sejarah mencatat, orang Belanda dan Portugis pada era penjelajahan dan penaklukan dunia pada abad ke-16 datang ke nusantara antara lain untuk mencari rempah-rempah. Sejumlah benteng bangsa Eropa di Ternate, misalnya, menjadi saksi bisu persaingan dan perebutan pengaruh pada abad kolonialisme itu, pada saat Eropa begitu haus akan rempah-rempah.

Persaingan Belanda dan Portugis di Maluku tercermin dari sebuah iklan di Batavia se Nouvelles, koran pertama pada masa Hindia Belanda yang kini menjadi Indonesia. Diterbitkan oleh Jan Piterzoon (JP) Coen, koran tersebut pada 17 Agustus 1744 memuat sebuah iklan berjudul "Memorie De Nouvelle".

Iklan itu dirancang sendiri oleh JP Coen dalam bahasa Belanda. Isinya untuk melawan aktivitas monopoli rempah oleh pedagang Portugis. Targetnya untuk meruntuhkan dominasi perdagangan rempah Portugis dari Maluku dan Ambon.

Itu dulu zaman penjajahan. Sekarang orang-orang Eropa, seperti nenek moyangnya, masih sangat tertarik dengan rempah-rempah Indonesia. Ini terbukti dari bagaimana rempah-rempah yang dipajang di Paviliun Indonesia mencuri perhatian pengunjung Milan Expo.

Di satu ruangan Paviliun Indonesia dipamerkan pulau-pulau Indonesia yang berjejer sambung-menyambung dari Sabang sampai Merauke. Di atas pulau-pulau itu, ditaruh macam-macam rempah dari Indonesia seperti lada, pala, cengkih, jahe dan ketumbar.

Display rempah-rempah itu merupakan spot yang termasuk disukai pengunjung. Sebagian pengunjung ada yang mencomot, mencium baunya yang khas, dan ada juga yang membawa pulang rempah-rempah itu sebagai semacam souvenir.

Kekayaan dan keragaman rempah-rempah Indonesia memang tak perlu diragukan lagi. Wilayah Sabang sampai Merauke memiliki berbagai kekhasan rempahnya masing-masing yang dijadikan bahan bumbu menjadi aneka makanan yang istimewa.

Setelah melihat rempah-rempah, pengunjung Paviliun Indonesia langsung bisa merasakan bagaimana lezatnya makanan dengan bumbu rempah-rempah itu di Bogor Café Desa Restaurant. Mereka bisa menikmati rendang, sate bumbu kacang, atau soto Betawi.

Kehadiran area rempah-rempah Indonesia di Paviliun Indonesia ini merupakan sarana pembuktian pengakuan internasional pada kekayaan rempah, bumbu, dan citarasa masakan nusantara yang unik, lezat dan memiliki nilai budaya yang penting bagi di dunia. [***]
Akhmad Kusaeni,
Pencinta Budaya dan Kuliner Indonesi
Dimuat di Rakyat Merdeka Online 11 Agustus 2015
http://www.rmol.co/read/2015/08/11/213044/Rempah-rempah-Indonesia-Curi-Perhatian-di-Milan-Expo-