Senin, 15 Juni 2009

Bulcke Menjual 1 Miliar Produk Nestle Per Hari

Singapura (ANTARA News) - Soal makan dan minum ternyata sebuah bisnis yang serius dan bisa meraup keuntungan besar dari penjualan yang setara jumlah APBN nasional sekitar Rp1.037 triliun per tahunnya.

Tidak percaya? Tanyalah Paul Bulcke, CEO Nestle, perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia yang bermarkas di Swiss dan sedang melakukan ekspansi bisnis ke kawasan Asia Tenggara.

"Ini bisnis yang serius. Kami melihat pasar yang masih terbuka luas. Perusahaan kami mencatat pertumbuhan 15 persen di kawasan Asia Tenggara tahun lalu," katanya saat bertemu dengan wartawan ASEAN di Singapura, akhir pekan lalu (13/6).

Dengan populasi penduduk hampir 600 juta jiwa, kawasan Asia Tenggara merupakan peluang pasar yang menggiurkan bagi Nestle yang dikenal sebagai perusahaan terdepan dalam bidang usaha nutrisi, kesehatan dan keafiatan.

Perusahaan yang mempunyai tagline Good Food, Good Life yang bermarkas di Swiss itu sudah berkiprah selama lebih 140 tahun. Bulcke tahu persis sejarah perusahaan yang memiliki 280.000 karyawan dan 456 pabrik di 84 negara itu. Ia juga tahu persis akan dibawa kemana perusahaan yang angka penjualan tahun 2008 saja mencapai CHF 109,9 miliar (sekitar Rp1000 triliun), atau kurang lebih sama dengan APBN Indonesia setiap tahunnya.

"Jika kita bicara mengenai nutrisi 100 tahun lalu, itu adalah bagaimana memberi makan orang asal kenyang. Namun jika kita bicara nutrisi sekarang, adalah bagaimana memberi makan orang dengan rasa yang lezat namun rendah kalori," kata Bulcke yang diangkat menjadi CEO Nestle bulan April 2008 lalu.

Pada tahun 1866, Henri Nestle, seorang ahli farmasi asli Jerman, mengembangkan sereal bayi berbasis susu yang berhasil membantu mengatasi masalah kekurangan nutrisi pada bayi saat itu. Henri Nestle menggabungkan pengetahuan, ketrampilan dan penelitian yang pernah dilakukan dalam mengembangkan "formula ajaib" tersebut yang kemudian diberi nama Farine Lactee Henri Nestle, dan terbukti mampu menyelamatkan jiwa banyak bayi.

Farine Lactee, menurut Presiden Direktur Nestle Indonesia Peter Vogt, diekspor ke kepulauan Nusantara sejak tahun 1873. Beberapa tahun kemudian, para pedagang mendatangkan produk susu kental manis MILKMAID, yang kemudian populer dengan merek "Tjap Nona". Empat puluh tahun kemudian susu bubuk kian populer di Indonesia dan Nestle DANCOW memimpin pasar.

Terbesar di dunia

Begitulah. Dari produsen sereal bayi berbasis susu, kini Nestle berkembang menjadi produsen makanan dan minuman terbesar di dunia yang penjualannya melebihi perusahaan kompetitornya, seperti PepsiCo, Kraft Foods, Unilever, Coca Cola, Kellogg's dan Sara Lee.

Nestle kini memiliki 10.000 produk makanan dan minuman yang sangat dikenal di seluruh penjuru dunia, dikonsumsi setiap saat sepanjang hari, dari pagi sampai malam. Konsumennya dari bayi dalam kandungan, anak-anak sampai orang dewasa, kakek dan nenek.

Produk Nestle mulai dari susu bubuk, kopi, coklat dan kembang gula, bumbu masak dan hidangan siap saji, sampai dengan makanan hewan.

"Kami menjual 1 miliar produk setiap harinya," kata Bulcke di Pusat Riset dan Pengembangan (R&D) Produk Nestle di Singapura.

R&D di Singapura merupakan salah satu dari 23 Pusat Riset dan Pengembangan Nestle yang tersebar di seluruh dunia. Riset dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para konsumen yang bukan saja menginginkan nutrisi yang enak dan lezat, tapi juga sehat wal afiat.

Moto Good Food, Good Life, misalnya, menggambarkan komitmen Nestle untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketenaran merek-merek produknya untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu makanan dan minuman yang berkualitas, bernutrisi, aman untuk dikonsumsi, serta lezat rasanya, dalam upaya mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Sebagai contoh, riset terus menerus dilakukan untuk membuat mie instan yang digemari di kawasan Asia berkurang kadar garamnya dan makin rendah kalorinya agar konsumen tidak perlu takut kegemukan.

Cita rasa lokal

Disamping itu, riset juga dilakukan agar produk Nestle bisa memenuhi kebutuhan dan cita rasa penduduk lokal. Berlainan dengan Coca Cola yang dimanapun rasanya nyaris tidak berbeda, kopi produksi Nestle yang dinamakan Nescafe rasanya disesuaikan dengan selera lokal. Ada lebih 200 jenis Nescafe yang berbeda cita rasanya karena disesuaikan dengan konsumen di Polandia, Rusia, Jepang, dan Indonesia.

"Kami punya produk Nescafe Kopi Susu Tubruk yang sesuai dengan selera masyarakat Indonesia. Kopi tubruk amat disukai orang kita," kata Brata T. Hardjosubroto, Head of PR Nestle Indonesia.

Setelah diperkenalkan di Swiss tahun 1938, Nescafe menjadi kian populer pada Perang Dunia kedua sebagai salah satu pilihan kopi di Eropa. Setelah beberapa tahun diekspor ke Indonesia, Nescafe mulai diproduksi di Lampung sejak 1980 dengan menggunakan bahan baku biji kopi yang dihasilkan para petani setempat.

Dengan jangkauan operasi hampir di seluruh negara di dunia dan meningkatnya jumlah kelas menengah, Bulcke melihat pertumbuhan pasar bagi Nestle masih sangat terbuka lebar.

Meskipun Nestle merupakakan perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia, sesungguhnya hanya menguasai 1,7 persen dari pasar dunia. Sementara 20 perusahaan nutrisi papan atas dunia digabung sekalipun hanya bisa menguasai 9 persen dari pasar dunia.

Kawasan Asia Tenggara merupakan salah satu pasar potensial perusahaan berlambang burung yang sedang memberi makan anaknya di dalam sarang itu. Dalam jumpa pers tersebut, Bulcke menekankan bahwa "Nestle telah beroperasi di bagian dunia ini selama hampir 100 tahun. Kawasan ASEAN adalah bagian yang sangat penting dalam bisnis Nestle, dan komitmen kami yang terus berlanjut serta investasi yang tengah berjalan menunjukkan keyakinan kami pada kawasan ini."

Saat ini Nestle memiliki 23 pabrik dan sekitar 14.500 tenaga kerja di pasar ASEAN. Nestle akan melanjutkan investasinya di ASEAN untuk memperluas bisnis dan fasilitas pabrik, termasuk di Indonesia untuk mendukung perluasan pabrik susu Kejayan di Jawa Timur.

Perusahaan itu memiliki komitmen lebih dari 250 juta CHF investasi modal untuk operasinya di ASEAN pada 2009. Pada 2008, bisnis Nestle di kawasan ini menunjukkan pertumbuhan nyata 15 persen dan penjualan sekitar 5 miliar CHF.

Di Indonesia, Nestle telah menginvestasikan lebih dari 100 juta dolar AS yang merupakan nilai penanaman modal terbesar ketiga Nestle di dunia. Perusahaan itu akan menginvestasikan 29 juta CHF dana pada tahun 2009, yang mendukung perluasan pabrik susu Kejayan di Jawa Timur, untuk memenuhi meningkatnya permintaan.

Setelah berakhirnya proyek ini, pabrik di Kejayan akan menjadi satu dari 10 pabrik pemrosesan susu terbesar Nestle di dunia. Bukan hanya 28.000 peternak sapi perah di Jawa Timur yang diuntungkan dari proyek ini, tapi juga seluruh masyarakat.

Anak-anak Indonesia bisa minum susu dengan harga yang terjangkau. Mereka bisa tumbuh sehat dan cerdas serta menjadi generasi penerus yang lebih kuat dan bisa diandalkan. (*)
COPYRIGHT © 2009

Rabu, 10 Juni 2009

KAMPANYE HITAM DAN RACUN POLITIK

Jakarta (ANTARA News) - Kampanye hitam (black campaign) telah menjadi senjata pemusnah para tim sukses dan konsultan politik.

Menjelang masa akhir kampanye Pemilihan Presiden, senjata pemusnah itu makin sering ditembakkan dengan tujuan mengalahkan lawan dan mempengaruhi pemilih di bilik suara pada 8 Juli 2009.

Isu neolib diangkat, jilbab bagi ibu negara dipersoalkan, pengusaha yang jadi penguasa dipertanyakan, kuda seharga Rp3 miliar diramaikan, kerusuhan Mei 1998 dibuka kembali, dan masalah agama dipolitisasi.

Tim sukses "menggoreng" isu-isu negatif tersebut untuk mengangkat kandidat dan menghancurkan kandidat lain.

"Pemilihan presiden itu seperti perang nuklir: Siapa yang menyerang lebih dahulu, dialah yang menang," kata ahli politik Ken Swope.

Medan perang para kandidat itu adalah media. Pertarungan dikemas dalam berita, talkshow dan iklan politik.

Oleh karena kampanye di lapangan dan pengerahan massa terbatas, maka pertarungan antar kandidat lebih panas dan lebih seru di media, terutama di televisi. Masing-masing stasiun televisi "semuanya mengklaim diri sebagai TV Pemilu", memiliki program dan liputan khusus soal Pilpres.

Strategi ilmu perang "menyerang adalah pertahanan yang terbaik", dipraktikan. Tim sukses saling serang dan saling bantah. Capres-Cawapres saling sindir dan berbalas pantun. Media bertepuk tangan. Televisi apalagi.

Rating naik dengan berita-berita mengumbar konflik. Talkshow televisi pun diberi label "Ring Politik", seolah-olah para Capres-Cawapres diadu dalam sebuah pertandingan tinju mulut dan silat lidah. Untuk mendinginkan suasana perdebatan, musik dan lagu dimainkan.

Politik telah menjadi hiburan. Politisi berubah menjadi selebriti. Memilih Presiden dan Wapres dikemas mirip kontes Indonesian Idol. Kandidat ditampilkan bicara, menyampaikan visi misi, dikomentari, lalu pemirsa disuruh memilih siapa idolanya. Media ramai-ramai melakukan polling. Ketik-spasi-reg menjadi trend bagi media untuk mengukur dukungan dan elektabilitas Capres-Cawapres.

Dijamin dapat liputan

Roger Ailes, pengamat politik dan media dari AS, mengatakan ada tiga hal yang media selalu tertarik untuk memberitakan: gambar (pictures), kesalahan (mistakes), dan serangan (attacks).

"Jika anda membutuhkan publikasi, maka anda harus menyerang. Dijamin anda akan mendapat liputan media," kata Roger Ailes.

Ailes mengatakan, publikasi melalui pemberitaan media akan lebih efektif dampaknya ketimbang memasang iklan politik. "Anda akan mendapat 30 sampai 40 persen dampak lebih efektif dalam pemberitaan dibanding lewat iklan. Anda akan menjangkau lebih banyak pemirsa dan lebih dipercaya," katanya.

Pendapat Ailes ini diamini para tim sukses. Ada Capres-Cawapres yang sebetulnya enggan untuk melakukan kampanye negatif, tapi konsultan politiknya menasehati bahwa jika tidak melakukan serangan, maka anda akan jadi abu.

Capres lain bersemangat untuk menyerang dengan keras dan menyewa konsultan politik dan tim sukses yang galak dan berlidah api.

"Waktu kampanye tinggal beberapa minggu. Kami harus menyerang: api lawan api," kata seorang tim sukses.

No gut, no glory," kata seorang Cawapres, seolah meneguhkan bahwa jika tidak ada keberanian (menyerang), kemenangan tidak bisa diraih.

Sepanjang sejarah

Sejarah membuktikan bahwa politisi sejak zaman Romawi telah mengeksploitasi ketakutan, intimidasi dan prasangka terhadap saingan politiknya dalam upaya untuk mempertahankan kekuasaan atau sebaliknya menjatuhkan kekuasaan..

Cicero, misalnya, dikenal sebagai orator ulung, tapi banyak orang lupa bahwa dia juga seorang pelaku kampanye hitam yang hebat.

Abad pertama masehi bukan hanya merupakan perang saudara Romawi yang dipenuhi kekerasan fisik, tapi juga kekerasan retorika. Cicero adalah seorang pencerca yang sadis. Ia menuduh Cataline, lawan politiknya, berniat melakukan konspirasi menjatuhkan pemerintah.

"Pergilah anda dari Romawi. Setiap orang takut dan membencimu. Matamu penuh airmata buaya, tanganmu penuh dengan darah, tubuhmu dibalut keserakahan," begitu Cicero menghujat Cataline.

Bukan itu saja. Cicero menuding Cataline telah membunuh isterinya supaya bisa kawin lagi. Tudingan dan serangan verbal Cicero dalam setiap pidatonya membuat Cataline tidak tahan. Cateline yang mengalami demoralisasi akhirnya meninggalkan Romawi dan terbunuh dalam perang beberapa waktu kemudian.

Dari kisah Cicero tersebut maka bisa disimpulkan bahwa kampanye hitam telah menjadi racun politik sepanjang sejarah politik itu sendiri.

Membunuh demokrasi

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah kampanye hitam, saling serang dan saling menelanjangi, itu baik bagi perkembangan demokrasi?

Victor Kamber, penulis buku "Poison Politics", menjawab bahwa kampanye negatif, apalagi kampanye hitam, merusak demokrasi.

"Kampanye hitam itu seperti racun politik yang tidak sehat bagi rakyat," katanya tegas.

Di negara yang kehidupan demokrasinya sudah matang seperti Amerika Serikat sekalipun, katanya, kampanye hitam tetap terjadi.

Barack Obama, misalnya, tak luput dari kampanye hitam saat Pilpres. Musuh politiknya kerap mengaitkan masa kecil Obama dengan agenda-agenda besar politisi yang pernah sekolah di Menteng, Jakarta itu.

Masa lalu Obama di Indonesia dan Kenya menjadi sasaran empuk kampanye hitam lawan politiknya. Seolah-olah warna Indonesia pada Obama akan membahayakan kehidupan beragama di Amerika Serikat.

Begitupun kandidat Wapres Sarah Palin. Ia disorot media atas kehamilan di luar nikah yang dialami putrinya. Memang Amerika Serikat relatif bebas dalam pergaulan seks ini, tetapi kenyataannya masyarakat di sana tetap menginginkan pemimpin yang bersih, termasuk urusan keluarga tersebut.

Kehamilan di luar nikah telah menjadi senjata kampanye hitam sehingga Sarah Palin menjadi bulan-bulanan media.

Kampanye hitam, menurut Victor Kamber, telah berkontribusi terhadap sikap anti-politik dan meningkatnya jumlah golongan putih (Golput) di Amerika Serikat.

Kampanye negatif telah meracuni demokrasi dengan menelanjangi kekurangan dan kebobrokan para kandidat dan pemimpin politik.

"Bayangkan jika biro iklan Coca Cola menyerang betapa buruknya Pepsi dan Pepsi membalas betapa berbahayanya Coca Cola. Lama kelamaan, tidak ada orang yang mau minum Coca Cola atau Pepsi," tulis Kamber.

Orang dapat hidup tanpa minum minuman ringan. Tapi orang tidak akan bisa terjamin keamanan dan kesejahteraannya tanpa pemerintahan, tanpa presiden dan wakil presiden.

Kampanye hitam akan membuat bangsa ini terbelah. Ia akan menyebarkan permusuhan, fitnah, SARA, dan kebencian.

Dalam perspektif inilah, masyarakat menyambut baik pencopotan Ruhut Sitompul dari tim kampanye SBY-Boediono. Ruhut dianggap menodai etika kesantunan karena meremehkan etnis Arab. Ia juga dinilai melanggar etika dan fatsoen politik yang dijunjung tinggi oleh SBY.

Politik harus beretika. Ia tidak boleh menghalalkan segala cara. Jika kampanye didasarkan hanya pada bagaimana memenangkan Pilpres dan tidak pada landasan etika, maka akan melahirkan presiden yang oportunis, tidak jujur dan berorientasi pada kepentingan sesaat berjangka pendek.

Sebaliknya, jika kampanye didasarkan pada etika dan persaingan yang fair, maka bangsa ini akan mendapatkan presiden yang betul-betul terbaik dari yang baik. Maka, stop kampanye hitam. Katakan tidak pada poison politics ! (***)
COPYRIGHT © 2009

Rabu, 20 Mei 2009

SLOGAN KEMENANGAN CAPRES

Oleh Akhmad Kusaeni

Jakarta (ANTARA News) - Konsultan politik Greg Adams yang pernah menjadi tim sukses Bill Clinton menyatakan slogan politik atau "tagline" sangat penting dan menentukan bagi kemenangan seorang calon presiden.

"Menanyakan apakah slogan penting bagi kemenangan capres sama saja dengan menanyakan apakah seorang pelatih penting bagi sebuah kesebelasan sepak bola. Jawabannya, tentu saja: ya!" kata Adams ketika ditanya wartawan.

Seorang pelatih sepakbola, seperti Alex Ferguson sangat vital bagi kesebelasan Manchester United (MU). Ferguson telah bertugas dalam lebih dari 1000 pertandingan yang dimenangkan MU selama 21 tahun kariernya sebagai pelatih.

Ferguson tidak masuk gelanggang pertandingan, dia tidak menendang atau berlari mengejar bola. Meskipun tidak ikut bertanding, Ferguson adalah salah satu pelatih terbaik dalam permainan. Ia telah memenangkan lebih banyak trofi daripada pelatih manapun sepanjang sejarah sepak bola Inggris.

Peran Ferguson dalam sepakbola sama dengan peran slogan dalam kampanye politik. Pelatih sepakbola tidak terlibat dalam kancah pertandingan. Ia memberi semangat dan arah bagi tim kesebelasannya. Itulah fungsi sebuah slogan atau tagline.

Seorang calon presiden atau wapres setiap hari akan ditanya berbagai macam topik dan masalah, apa visi dan misinya. Capres dan cawapres harus menjawab semua permasalahan bangsa yang muncul. Sekitar 99 persen yang diucapkan capres dan cawapres akan segera dilupakan, tapi ada 1 persen yang melekat dan selalu diingat. Itulah slogan!

Ambil contoh slogan pasangan SBY-Boediono yang cukup hanya satu kata: "Lanjutkan!". Semua kebijakan, pernyataan, dan keterangan yang disampaikan SBY dibingkai dalam satu benang merah yaitu keberhasilan selama pemerintahannya yang pertama dan itu perlu dilanjutkan untuk masa jabatan kepresidenan yang kedua.

Contoh lain adalah slogan pasangan JK-Wiranto yang cukup panjang: "Lebih cepat dan lebih baik". Apapun yang dilakukan dan disampaikan JK, tentu dikemas dalam semangat "tagline" itu. Makanya JK mengumumkan deklarasi berpasangan dengan Wiranto jauh lebih dahulu ketimbang pasangan capres-cawapres lainnya.

Begitu juga pada saat mendaftar ke KPU. JK-Win adalah pasangan Capres-Cawapres yang mendaftar pertama kali. Itu untuk membuktikan kepada calon pemilih bahwa JK-Win lebih cepat dan lebih baik.


Seni Membuat Slogan

Membuat slogan politik butuh seni tersendiri. Pengalaman dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat membuktikan bahwa slogan politik telah mewarnai demokrasi negeri itu sepanjang 150 tahun. Sebuah kalimat atau satu dua kata dirancang sedemikian rupa untuk memenangkan satu calon dan mengalahkan lawan-lawannya.

Tamin Ansary, seorang ahli komunikasi politik, mengatakan tim sukses dan konsultan politik berkumpul untuk menentukan slogan paling tepat. Mereka mengeluarkan gagasan, berargumentasi, dan memilih slogan yang terbaik.

Pada tahun 1992, tim sukses Capres Bill Clinton, misalnya, berdebat untuk memilih sejumlah slogan yang ditawarkan konsultan, yaitu "Putting people first (Dahulukan kepentingan rakyat)", "Don`t stop thinking about tomorrow (Jangan berhenti memikirkan masa depan)", dan "New Covenant (Kontrak politik baru)".

Itu usulan slogan yang bagus, namun dianggap tidak cukup "nendang". Mereka mencari slogan baru yang lebih pas dengan suasana hati kebatinan rakyat Amerika Serikat waktu itu yang sedang dirundung kesulitan ekonomi, meskipun George Bush Sr, "incumbent" yang dikenal berhasil dalam perang Irak.

Mereka akhirnya menemukan slogan baru yang pas dengan sentimen politik waktu itu secara tidak sengaja. Ketika kebuntuan gagasan terjadi, mereka melirik ke catatan kecil yang ditempel di atas meja oleh para pekerja dan sukarelawan: "It`s the economy, stupid!".

Slogan itulah yang akhirnya membuat Bush Senior kehilangan kursi kepresidenannya dan menaikkan Bill Clinton ke Gedung Putih.

Begitulah. Satu hal yang membuat sebuah slogan lebih baik dari slogan lainnya adalah kaitannya dengan suasana kebatinan para pemilih. Slogan yang baik adalah yang betul-betul nyambung dengan alam pikiran pemilih. Sebab, bagaimanapun baiknya pemilihan kata, indahnya sebuah bahasa, jika tidak sesuai dengan suasana kejiwaan pemilih, tentu saja akan gagal. Itu sama saja dengan pantun: "Jaka Sembung bawa golok, gak nyambung, bok!"

Sebaliknya, jika suasana kebatinan pemilih sudah ditangkap, sebuah slogan tetap tidak akan bunyi kalau kata-kata dan kalimatnya tidak tepat. Setiap kata ada nuansanya dan setiap kalimat ada makna konotasinya.


Suasana Batin Rakyat

Jika dipelajari slogan-slogan politik yang terkenal dan berhasil di masa lalu, maka akan ditemukan kaitan antara apa yang terjadi dalam suasana batin masyarakat saat itu dengan bagaimana kalimat slogan itu dirancang.

Salah satu contoh adalah slogan kampanye Barack Obama yang menang melawan "incumbent" George W Bush. "Change we can believe in" pas sekali dengan suasana rakyat AS yang bosan dengan gaya kepemimpinan George W Bush yang suka perang dan melupakan pembangunan ekonomi.

Slogan Capres Ronald Reagan tahun 1980 adalah "Are You Better of Than You Were Four Years Ago?". Slogan ini sangat jitu untuk menangkap perasaan rakyat AS yang dilanda resesi ekonomi selama pemerintahan presiden "incumbent" Jimmy Carter.

Ketika Reagan menanyakan apakah anda hidup lebih baik dibanding empat tahun yang lalu, sebagian besar rakyat menggelengkan kepala. Maka, kalau mau lebih baik, pilihlah saya, kata Reagan.

Tapi ada banyak presiden incumbent AS yang terpilih kembali karena memiliki slogan yang pas di hati pemilihnya. Rakyat puas dengan pemerintahan "incumbent" dan ingin keberhasilan itu dilanjutkan empat tahun ke depan. Contoh: slogan "Jangan ganti kuda saat menyeberangi sungai" membuat Abraham Lincoln terpilih lagi. Begitu juga slogan "Four more years of the full dinner pail" mengantarkan Presiden William McKinley pada masa jabatan keduanya tahun 1900.

Balik ke pemilihan presiden di Indonesia, suasana batin pemilih di tanah air tampaknya terbelah kepada yang ingin "kemesraan ini jangan cepat berlalu dan harus dilanjutkan" dan yang ingin "pemerintahan yang sudah baik ini menjadi lebih baik lagi".

Kedua arus utama itu bagus dan sah-sah saja untuk menjadi pilihan menarik rakyat di bilik suara 8 Juli nanti. Yang tidak bagus adalah slogan yang menjadi tagline film "Alien vs Predator": "Whoever wins?.We lose" (Siapapun yang menang, kita sebagai rakyat kalah).(*)
COPYRIGHT © 2009

http://antara.co.id/arc/2009/5/19/slogan-dan-kemenangan-capres/