Selasa, 28 Juli 2015

Meredam Konflik Tolikara ala Jenderal Gatot Nurmantyo

Oleh : Akhmad Kusaeni

Konflik antaragama, juga antarsekte seagama, menjadi berita utama di media seluruh dunia. Melalui media sosial dan internet, peristiwa kekerasan yang terkait agama seperti di Tolikara, Papua, begitu cepat menyebar. Insiden Tolikara pun menggemparkan Indonesia.

Semua pihak -- pemerintah, aparat keamanan, tokoh-tokoh agama -- berusaha menyatu. Ikhtiar dilakukan agar serangan terhadap kaum muslimin yang sedang merayakan shalat Idul Fitri itu tidak merembet dan meluas ke luar Papua. Kaum muslimin, diminta untuk tidak terprovokasi. Sebaliknya, aparat diminta agar bisa menegakkan hukum dengan menangkap aktor intelektual penyerangnya. 

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo juga berusaha meredam bara Tolikara. Sang jenderal menginisiasi pertemuan dengan para kiai khos nusantara pada 24 Juli 2015. Puluhan kiai diundang ke Jakarta. Selanjutnya, dengan gerbong kereta khusus dari Stasiun Gambir, para kiai itu diberangkatkan ke Pesantren Buntet, Cirebon. 

Kiai sepuh yang berkumpul antara lain Habib Ali Bin Sahil (Jakarta), KH Ahmad Ishomudin (Lampung), KH Abdul Wahab Polpoke (Maluku). Lalu ada juga Tuan Guru Turmudzi (Nusa Tenggara Barat), KH Abdul Bari (Kalimantan Selatan), KH Syahid (Bandung), KH Ibnu Jauzi (Wonosobo), KH Soleh Qosim (Surabaya) serta beberapa perwakilan tokoh lintas agama dari Kabupaten Cirebon. Selain ulama, ada juga wakil dari kalangan umaro seperti Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

Mengapa Pondok Pesantren Buntet dipilih sebagai tempat pertemuan ulama dan umaro untuk dapat meredam bara Tolikara dan merajut damai demi keutuhan NKRI? Pendiri Pondok Pesantren Buntet KH. Abas dan puteranya KH. Anas ternyata ulama yang berperan penting dalam sejarah Hari Pahlawan 10 November 1945. 

Menurut riwayat di kalangan ulama, Bung Tomo saat berperang melawan sekutu dan NICA Belanda yang meboncengnya sering sowan dan meminta restu pada K. H. Hasyim Asy’ari, pendiri dan Rais Aam pertama Nahdhatul Ulama (NU).  

Suatu waktu, KH Hasyim Asy’ari memerintahkan kepada Bung Tomo agar jangan melakukan perang besar-besaran kepada sekutu sebelum datangnya pemimpin Pondok Pesantren Buntet, Cirebon, yaitu KH Abbas dan anaknya KH Anas. Keduanya dianggap paling ahli dalam kitab Perang Jihad Fi Sabilillah.
KH Abbas dan KH Anas bersama sejumlah santri pesantren Buntet tiba di Surabaya sebelum 10 November 1945. Sehingga pada peristiwa 10 Nopember 1945, Bung Tomo menjadi yakin untuk melancarkan perang melawan Sekutu dan NICA.

Kedatangan kiai sepuh Cirebon itu mendorong kiai dan santri dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Jakarta, apalagi Jawa Timur bergerak menuju Surabaya. Mereka kemudian berpartisipasi dalam perang bersama Bung Tomo. Amukan rakyat Surabaya pada hari bersejarah itu menewaskan dua jenderal sekutu yakni Eric Carden Robert Mansergh dan Jenderal Mallaby.

Itulah konteks siginifikansi mengapa pertemuan ulama dan umaro dalam meredam konflik di Tolikara itu digelar di Buntet. Pertanyaan berikutnya, mengapa harus kiai sepuh yang dikumpulkan? Jenderal Gatot mengatakan kiai sepuh adalah panglima perdamaian. Apa yang dikatakan oleh seorang kiai, diyakininya akan dipatuhi oleh umatnya.

“Kiai sepuh adalah panglima saya. Kalau kata kiai sepuh aman, ya saya yakin aman. Kami memohon doa para kiai untuk bangsa kita agar tidak mudah diadu domba sehingga pemerintah bisa membangun dengan tenang dan rakyat bisa sejahtera,” kata sang Jenderal.

Tuan rumah, KH Adid Rofiuddin, menyambut dengan bacaan surat Al Fatihah. Lalu doa pun terpanjat untuk keselamatan dunia dan akhirat. Menteri Agama Lukman Saifuddin menimpali jika doa bersama itu merupakan bentuk usaha menjaga NKRI dan keutuhan bangsa.

Langkah Panglima TNI meredam bara Tolikara dengan mengumpulkan para kiai, rasanya sangat tepat dan penting. Sebuah langkah strategis yang diperlukan di tengah bara provokasi yang terus berhembus di media sosial. Jika salah melangkah, masuklah kita pada jeratan adu domba. Jika tidak segera diantisasi dikhawatirkan akan terjadi blow back atau serangan balasan. Jangan sampai ada gereja yang diserang dan dibakar.

Jenderal Gatot tentu sangat faham dengan pendapat Prof Bruce Hoffman, seorang ahli yang mendalami masalah kekerasan berlatarbelakang agama. Dalam  buku "Inside Terrorism", Hoffman mengatakan kekerasan yang berlatarbelakang agama sering dianggap oleh para pelakunya sebagai "tugas mulia" atau "perbuatan suci". 

Daya hancurnya menjadi lebih mengerikan jika teroris berlatar agama bergabung dengan teroris sekuler. Misalnya saja kelompok separatis yang menuntut kemerdekaan wilayahnya seperti yang ada di wilayah Papua. 

Dalam konteks mencegah kekerasan yang lebih luas dan lebih besar itulah, langkah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo perlu didukung oleh semua pihak. Para ulama yang diwakili kiai sepuh sudah mendukung dengan komitmen Islam sebagai rahmatan lil alamin. Para umaro yang diwakili Panglima TNI, Menag, dan Mendagri, sudah siap menjaga NKRI.

Sebaliknya, Indonesia harus membuktikan diri sebagai bangsa yang rukun, toleran, cinta damai dan tidak mudah diobrak-abrik.
Dimuat di Republika tanggal 28 Juli 2015
http://m.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/15/07/28/ns5pxm336-meredam-konflik-tolikara-ala-jenderal-gatot-nurmantyo

Tidak ada komentar: