Sabtu, 19 November 2011

Koboi Amerika di ujung gang

Oleh : Akhmad Kusaeni.


Jakarta (ANTARA News) - Rencana Amerika Serikat yang ingin menempatkan sekitar 2.500 anggota marinir di Darwin, Australia bagian utara, agaknya harus disorot secara saksama. Kalau perlu, manuver itu diplototi dengan tajam karena akan berdampak langsung terhadap Indonesia.

Darwin hanya berjarak 820 kilometer saja dari Indonesia. Jika pangkalan militer AS itu jadi digelar di Darwin, meminjam istilah Betawi, "Sama saja memelihara centeng di ujung gang". Bisa banyak persoalan kalau ada jagoan petantang-petenteng depan rumah. Kawasan rumah yang tadinya aman dan tenteram, bisa jadi tegang kalau ada jagoan yang hilir mudik bawa senjata.

Apalagi kalau jagoannya itu koboi Amerika yang terkenal "trigger happy" alias gampang sekali main tembak. Salah-salah urus soal Papua, misalnya, bisa berabe.

Paling tidak akan menjadi sumber konflik baru. Indonesia akan menjadi serba salah dan serba susah. Dengan adanya pangkalan militer AS di Australia, maka Indonesia ditempatkan pada sebuah geostrategi dan geopolitik baru di kawasan Asia dan Pasifik. Indonesia tergencet dalam adu kuat hegemoni AS dengan Cina.

Hawa Perang Dingin merebak kembali di Asia Pasifik. AS perlu membendung kekuatan Cina, baik ekonomi maupun militer, yang terus menerus menguat dan meningkat. Setelah malang melintang bertualang di Asia Tengah dan Timur Tengah, AS kini mulai menoleh ke Asia Pasifik sebagai masa depan peruntungannya.

Menlu Hillary Clinton dalam majalah Foreign Affairs edisi terbaru menulis artikel khusus soal ini yang bertajuk "America`s Pacific Century".

Pada saat Perang Irak menuju akhir dan negara adidaya itu mulai menarik pasukannya dari Afghanistan, tulis Hillary sebelum terbang ke Bali menghadiri KTT ASEAN, maka AS menjadi sumbu kekuatan yang sangat penting di dunia.

"Salah satu tugas AS paling penting di dekade yang akan datang adalah terlibat dalam peningkatan investasi di bidang diplomasi, ekonomi, strategis, dan lain-lain, di kawasan Asia Pasifik," kata Hillary.

Peningkatan keterlibatan AS di Asia Pasifik yang sedang dibawa Presiden AS Barack Obama jauh-jauh dari Washington ke Canberra. Saat bertemu dengan Perdana Menteri Australia Julia Gillard, Obama menyampaikan keinginannya untuk menggelar 2.500 marinir di Darwin.

"(Penggelaran marinir) itu untuk membantu sahabat-sahabat dan para sekutu kita di Asia," bujuk Obama yang dikenal di Indonesia sebagai anak Menteng yang doyan makan bakso itu.

Timbulkan pro-kontra

Keruan saja keinginan Obama itu membuat pro-kontra, terutama Cina yang langsung gerah dan bereaksi. Kementerian Luar Negeri Cina segera mengeluarkan pernyataan resmi bahwa kehadiran pasukan AS di Darwin "mungkin tidak begitu pas".

"It may not be quite appropriate," begitu sopan santun diplomasi Kementerian Luar Negeri Cina.

Tapi koran-koran Cina tak memerlukan tatakrama diplomasi untuk mengkritik kebijakan baru AS di Pasifik tersebut. Sebuah koran milik Partai Komunis Cina dengan garang memperingatkan bahwa Australia jangan menganggap Cina sebagai orang bodoh dan pandir.

"Jika Australia menggunakan pangkalan militernya untuk membantu AS mengancam kepentingan Cina, maka Australia sendiri akan berhadap-hadapan dengan Cina dalam posisi saling mengokang senjata," begitu gertak media Cina.

Wah ... wah ... wah .... Sikap galak Cina atas Australia seperti itu bisa juga dialamatkan ke Indonesia jika Jakarta salah-salah bersikap. Ini yang bikin pusing para pejabat dan pengambil keputusan di Indonesia.

Pangkalan militer AS di Darwin akan memerlukan akses ke pangkalan-pangkalan AS lainnya seperti di Filipina, Jepang, dan Korea Selatan. Pasukan-pasukan AS di Darwin memerlukan jalur yang mau tidak mau harus melewati perairan Indonesia.

Kalau tidak dikasih izin, AS marah. Kalau dikasih izin, Cina yang marah. Indonesia betul-betul terjepit dalam pilihan yang sulit. Jika dua gajah berantem, pelanduk yang berdiri di tengah bisa jadi korban terinjak-injak dua gajah.

Padahal, kebijakan politik luar negeri AS selalu memberi garis demarkasi yang jelas dan tegas: "Are you with us or with else." Kalau kamu sahabatku, kamu harus bersamaku. Kalau tidak mau, berarti kamu bersama musuhku. Itu seperti memilih buah simalakama.

Jalan terbaik bagi Indonesia untuk terhindar dari simalakama adalah berdoa agar rakyat Australia bisa memutuskan pilihannya dengan arif dan bijaksana soal kehadiran pasukan mariner AS itu di rumahnya yang berada di ujung gang rumah Indonesia. Apakah pangkalan mariner AS di Darwin itu sebuah ide yang baik bagi Australia.

Untung sejauh ini rakyat Australia menilai itu bukan suatu gagasan yang baik.

Profesor Robin Tennant-Wood dari Universitas Canberra, misalnya, menganggap pangkalan militer AS yang permanen di Darwin akan melahirkan konsekuensi yang berbahaya bagi masyarakat Darwin sendiri. Alasan bahwa kehadiran pasukan AS itu akan meningkatkan ekonomi Negara Bagian Nothern Territory dan memperkuat aliansi AS-Australia dinilai terlalu "lebay" alias mengada-ada.

Darwin adalah kota kecil yang hanya berpenduduk 130.000 jiwa dan hanya 10 persen dari populasi itu yang asli orang Australia. Lainnya adalah orang-orang imigran dari Cina, Vietnam, Indonesia dan Asia lainnya. Kalau mariner AS berada di Darwin, maka akan menambah 8 persen orang asing di kota itu.

Robin mengkhawatirkan apa yang terjadi di pangkalan AS di Okinawa (35.000 orang) dan Korea Selatan (29.000 orang) akan terjadi di Darwin. Di Okinawa, misalnya, terjadi 200.000 insiden dan kecelakaan pada periode 1952-2004 yang menewaskan 11.000 penduduk sipil Jepang. Rata-rata terdapat sekitar 21 warga sipil Jepang yang terbunuh setiap tahun, sebagian besar atau 90 persen terkait dengan kecelakaan lalulintas.

Yang paling mengkhawatirkan, menurut Prof. Robin, tindak kriminal yang dilakukan oleh tentara AS atau pendukung sipilnya di Okinawa mencapai sepertiga dari total tindak kriminal di kota berpenduduk 1,3 juta orang itu. Robin tidak setuju jika Darwin seperti Okinawa.

Mudah-mudahan orang-orang Australia seperti Robin bersuara keras dan didengar oleh pemerintah Australia dan pemimpinnya. Jika rakyat Australia mengatakan tidak, itu lebih baik buat Indonesia. Jakarta tidak perlu repot-repot berdemo menentang kehadiran koboi Amerika di ujung gang.

http://www.antaranews.com/berita/285450/koboi-amerika-di-ujung-gang

Perang Uhud: Kalah karena tergoda harta dan wanita

Oleh : Akhmad Kusaeni

Jakarta (ANTARA News) - Keganasan Perang Uhud masih terbayang-bayang meski saya sudah kembali dari Tanah Suci.

Sewaktu mampir ke Madinah, saya sempat ke Gunung Uhud, tempat berlangsungnya perang paling berdarah antara pasukan Rasulullah dan tentara kafir Quraish pada tanggal 19 Maret 625.

Saya tercekat di depan makam Hamzah, paman Nabi Muhamaad saw., yang gugur dengan tubuh yang tercabik tercerai-berai.

Ratusan lagi tentara Nabi syahid dan dimakamkan di sekitar Gunung Uhud tanpa batu nisan. Sebagai syuhada, mereka dimakamkan begitu saja; dengan baju bersimbah darah, usus yang terburai, kepala terpenggal, atau sekadar hidung dan kuping termutilasi.

Penguburan massal dilakukan malam itu juga sebelum pasukan kembali ke Madinah. Yang diberi tanda cuma makam Hamzah bin Abdul Mutalib, seorang panglima perang gagah berani yang dijuluki "Singa Allah". Dalam perang Badar setahun sebelumnya, Hamzah dan pasukannya berhasil mengalahkan tentara Quraish yang jumlah orang dan persenjataannya lebih banyak.

Namun, Hamzah juga manusia biasa. Bagaimanapun perkasanya di medan perang, ia tak bisa lolos dari muslihat Washi bin Harb, budak hitam asal Ethiopia, yang ditugaskan khusus oleh Hindun untuk mengintai, menyelinap, dan membunuh Hamzah. Hindun, panglima perang wanita suku Quraish, begitu dendamnya atas Hamzah yang telah membunuh dua saudaranya pada Perang Badar.

Setiap gerakan Hamzah diamati betul oleh Washi. Ia terus-menerus mencari kesempatan untuk melemparkan tombak tajamnya ke ulu hati Hamzah. Saat Hamzah mengangkat pedangnya ke langit, dadanya terbuka. Saat itulah tombak Washi menghujam dan tepat mengenai sasaran. Hamzah terpental, pedangnya terlempar, mulutnya memuntahkan darah.

Terhuyung-huyung Hamzah menjaga keseimbangan. Matanya jalang berusaha mencari siapa yang melempar tombak yang kini bersarang di dadanya. Namun mata itu akhirnya terpejam berbareng dengan ambruknya tubuh di padang pasir. Tangannya masih berusaha memegang gagang tombak. Seperti berusaha untuk mencabutnya. Langit yang terik menjadi gelap. Hamzah meregang nyawa dan akhirnya mati tak bergerak.

Pasukan Quraish segera mengabarkan kematian Hamzah. Hindun dengan garang memburu tubuh Hamzah yang tak berdaya tergeletak di tanah. Wanita yang dilanda dendam kesumat membara itu mencabik-cabik tubuh Hamzah.

Ia potong hidungnya, kupingnya diiris, hancurkan wajahnya. Ia bongkar isi tubuh Hamzah, ambil hatinya. Di angkatnya tinggi-tinggi untuk diperlihatkan kepada serdadu Quraish. Tidak puas dengan semua itu, Hindun memasukkan hati yang berdarah segar itu ke mulutnya. Wanita itu memakan mentah-mentah hati Hamzah!

Saya tercekat di pusara Hamzah. Drama Perang Uhud seperti itu dengan kolosal digambarkan oleh Moustapha Akkad pada tahun 1976 dalam film "Mohammad, Messenger of God". Aktor kawakan Anthony Quin dengan luar biasa menghayati dan memerankan seorang Hamzah. Gagah. Berani. Pandai memainkan pedang. Namun, tak kuasa menghindar dari serangan dan tusukan dari belakang.

Kekalahan yang memalukan

Saya mendoakan paman Nabi Muhammad saw. itu. Cukup lama saya tertunduk. Perang Uhud bukan hanya cerita kematian sangat mengerikan dari Hamzah. Akan tetapi juga kekalahan pasukan Nabi dalam perang melawan kafir Quraish.

Bahkan Rasulullah sendiri nyaris terbunuh. Nabi terluka parah. Badannya terluka. Giginya rontok. Korban tewas pada pasukan Nabi jauh lebih banyak dari yang mati pada pasukan Quraish. Ini kekalahan yang memalukan. Akibat komando Nabi Muhammad sebagai panglima perang diabaikan. Akibat nafsu untuk mengumpulkan harta rampasan perang, termasuk di antaranya wanita-wanita Quraish yang suami atau ayahnya dikalahkan.

Perang Uhud terjadi kurang lebih setahun setelah Perang Badar. Pasukan Quraish dari Mekah berniat membalas dendam atas kekalahan mereka pada Perang Badar. Mereka menyiapkan pasukan secara besar-besaran dengan kekuatan lebih dari 3000 orang. Sementara tentara Islam yang bertahan di Gunung Uhud--dekat Madinah--hanya berjumlah 700 orang.

Tentara Islam dipimpin langsung oleh Rasulullah, sedangkan tentara kafir Quraish dipimpin oleh Abu Sufyan dan istrinya, bernama Hindun yang penuh dendam kesumat terhadap Hamzah. Disebut Perang Uhud karena terjadi di dekat Gunung Uhud yang terletak empat mil dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah.

Sebagai panglima perang, Nabi sebetulnya lebih menginginkan pasukan bertahan di Madinah. Namun, kelompok tentara muda tidak ingin berperang secara bertahan. Masih dalam eforia Perang Badar dan keyakinan menang karena didukung Allah, tentara muda maunya ofensif, menyerang. Nabi memberikan toleransi dengan membiarkan pasukan bergerak beberapa mil dari kota Madinah.

Sebagai strategi menahan pergerakan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar, Rasulullah menugaskan 51 pemanah untuk mengambil posisi di bukit batu sebelah barat pasukan Islam. Sementara sebelah kirinya, pasukan terlindungi oleh Gunung Uhud. Kepada para pemanah, Rasullah wanti-wanti agar tetap di posisinya walau apa pun yang terjadi.

Kepada pasukan pemanah, Nabi memerintahkan agar mereka memanah kavaleri musuh. Sebisa-bisanya pasukan berkuda itu dijauhkan dari tentara Islam.

"Selama kalian tetap di tempat, bagian belakang kita aman. Jangan sekali-sekali kalian meninggalkan posisi ini. Jika kalian melihat kami menang, jangan bergabung. Sebaliknya, jika kalian melihat kami kalah, jangan datang untuk menolong kami meskipun burung bangkai memakan daging dari kepala kami yang binasa," kata Nabi Muhammad.

Dimulai dengan duel

Perang frontal yang ganas dan berdarah dimulai dengan ajakan duel. Abu Talhah, jagoan perang dari Quraish, menantang kepada tentara Muslim: "Anda berani duel dengan saya?"

Ali bin Abu Thalib, jagoan perang tentara Islam, langsung meladeni. Hanya dengan satu kali sabetan pedang, kepala Abu Talhah copot menggelundung.

Muncul lagi ke arena duel lelaki bernama Abu Saad bin Abu Talhah, saudaranya Abu Talhah yang tewas. Ia menantang Ali dengan sesumbar bahwa para sahabat Nabi, seperti Ali, adalah pembohong.

"Kalian bilang jika mati kalian masuk surga sementara kami mati masuk neraka. Jika kalian yakini itu, ayo lawan aku. Kita buktikan siapa masuk surga siapa ke neraka," tantang Abu Saad.

Ali mengayunkan kembali pedangnya. Nasib Abu Saad tidak jauh beda dengan saudaranya. Lalu muncul sejumlah lelaki Quraish lain bangkit menantang Ali. Mereka juga terbunuh di ujung ketajaman pedang Ali. Dalam beberapa detik berikutnya, Ali berhasil membunuh Artat bin Sharhabil, Suresh bin Qaridh dan budaknya bernama Shawab.

Dalam duel yang lain, Hamzah dengan sabetan pedangnya juga menewaskan Othman bin Talhah.

Menyadari para jagoan perangnya terbunuh, pasukan Quraish terancam demoralisasi. Mereka mulai lari lintang pukang. Aura kemenangan mulai tercium sehingga sebagian pasukan Islam mulai tidak bisa mengendalikan diri.

Para pemanah yang diminta siaga di bukit, satu per satu tergoda turun dari posisinya. Mereka mengabaikan perintah Nabi setelah melihat musuh berhasil dipukul mundur, pasukan Quraish kocar-kacir, dan para wanitanya berlari menyelamatkan diri dengan mengangkat roknya tinggi-tinggi.

Saat pasukan pemanah itu terbuai mengumpulkan barang jarahan, Khalid bin Walid, panglima pasukan berkuda Quraish, dengan cepat memerintahkan kavalerinya berputar ke balik bukit yang ditinggalkan para pemanah. Situasi perang berubah drastis.

Kavaleri Khalid bin Walid mengepung dari arah belakang sementara pasukan Quraish yang tadinya kocar-kacir kembali balik arah. Tentara Islam menjadi terkurung dari arah depan dan belakang, sementara kiri dan kanan terhalang oleh dua gunung. Tidak ada tempat untuk melarikan diri. Banyak tentara Muslim yang tewas mengenaskan dalam perang paling brutal sepanjang sejarah nabi.

Alquran surah Ali Imran ayat 152-152 menjelaskan mengapa tentara Islam sampai kalah dalam Perang Uhud. "Tanpa peduli akan perintah Muhammad, mereka meninggalkan tempat jaga mereka dan lalu mengejar wanita-wanita (Quraish) ini. Oleh karena itulah Allah mengizinkan kaum Quraish membunuhi para muslim yang meninggalkan kedudukannya sebagai suatu ujian".

Kesimpulannya, seperti dijelaskan pada Ayat 165: "Tentara Muslim kalah karena salah mereka sendiri".

Inilah pelajaran terbesar dari Perang Uhud. Umat Islam kalah karena mengabaikan komando pemimpinnya dan tergoda oleh harta dan wanita.

Jumat, 11 November 2011

Ditawari hajar jahanam di Pasar Seng

oleh : Akhmad Kusaeni

Masjidil Haram, Mekkah (ANTARA News) - "It`s shopping time!," kata teman saya mengajak berbelanja ke Pasar Seng, yaitu pasar kaki lima yang letaknya di belakang Masjidil Haram, Mekkah Al Mukaramah. Setelah menunaikan rukun ibadah haji, memang saatnya bagi jemaah haji berburu cenderamata sebelum kembali ke Tanah Air.

Sebelumnya beredar kabar kalau Pasar Seng sudah tidak ada lagi karena dibongkar untuk perluasan Masjidil Haram. Pasar cenderamata yang dulu hanya dipagari dengan seng ini begitu terkenal di kalangan jemaah haji Indonesia. Setelah tawaf dan itikaf di Masjidil Haram, jemaah haji biasa melipir ke belakang untuk "tawaf di Pasar Seng".

Bukan untuk belanja atau cari cenderamata saja, tapi juga sekadar untuk minum teh, minum kopi, atau cari makanan. Di sekitar Pasar Seng banyak penjual makanan dan minuman. Ada kebab Turki, nasi "biryani", nasi "buhori", sate Arab, atau bakso Solo Indonesia. Di dekat Pasar Seng ada perpustakaan yang dulunya adalah rumah tempat lahir Nabi Muhammad SAW. Di situ juga jemaah antre mengisi jerigen air zamzam untuk dibawa pulang.

Di Pasar Seng yang ramai dan hingar bingar bisa dilihat bagaimana globalisasi sesungguhnya berjalan. Pasar tumpah ala Tanah Abang Jakarta itu menyediakan barang-barang cenderamata yang mayoritas produksi China. Pernik-pernik hiasan Arab, pakaian, tasbih, sajadah, mukena, peci, parfum dan minyak wangi, nyaris semuanya "Made in China".

Para pedagangnya kebanyakan berasal dari Asia Selatan, seperti dari India, Pakistan, atau Bangladesh, meskipun satu-dua ada yang berasal dari Arab. Itupun bukan dari Arab Saudi melainkan dari Yaman atau Sudan.

Pembelinya hampir 90 persen dari Indonesia! Kemana mata memandang, pasti terlihat muka Melayu. Jemaah Indonesia, tahun ini sebanyak 221.000 orang, termasuk yang paling ditunggu para pedagang Pasar Seng. Selain jumlahnya paling banyak, jemaah Indonesia terkenal sebagai tukang belanja yang royal. Suka memborong dan jarang yang "ngeyel" kalau menawar.

Oleh sebab itu para pedagang itu lancar berbahasa Indonesia. Sambil tersenyum atau menepuk bahu jemaah yang lewat, pedagang mengajak masuk ke tokonya. "Ayo masuk saja, Mas. Murah-murah. Halal," kata Sanat Kumar Biswas, pedagang asal Bangladesh kepada saya yang melewati tokonya.

Ketika saya menghentikan langkah, ia segera menarik tangan saya dan menunjukkan "kafiye" yang dijualnya. "Indonesia bagus... bagus... Thoyib...thoyib...," katanya membujuk.

Mau tak mau saya lihat tumpukan "kafiye", penutup kepala yang biasa dikenakan oleh almarhum pemimpin Palestina Yasser Arafat itu. Ada kafiye warna merah, hitam, coklat, dan hijau. Harganya barang produksi China paling murah 15 riyal per satu lembar yang kira-kira Rp50.000 jika dirupiahkan. Ada juga produksi Bangladesh atau India. Produk yang mahal adalah buatan Jepang karena bahan dasar kainnya lebih bagus dan halus. Namun harganya di atas 50 riyal.

"Kalau untuk teman yang 15 riyal bagus, tapi untuk bos yang pakai kotak ini, 60 riyal," kata Sanat Kumar yang tampaknya mengerti betul keperluan orang Indonesia mencari cenderamata. Sampai-sampai dia tahu kenang-kenangan untuk dibagi teman, pakai sendiri atau untuk atasan.

Saya membeli sejumlah "kafiye" dan melongok toko yang lain. Kali ini saya melihat-lihat toko baju muslim Arab hitam-hitam yang disebut "abaya". Saya berniat membelikan oleh-oleh untuk ibu saya di kampung. Dua orang penjaga langsung melayani saya sambil tak hentinya membujuk, "Bagus...bagus dan Murah...murah". Saya membeli dua "abaya" masing-masing seharga 100 riyal.


Kuat seperti Arab

Tiba-tiba salah satu penjaga yang mengaku bernama Firoz itu membisiki saya. Ia menawarkan obat kuat Arab yang sangat terkenal, yaitu hajar jahanam.

"Mau hajar jahanam? Bisa bikin kuat seperti orang Arab," katanya sambil mengangkat tangan kanannya seperti orang binaragawan memperlihatkan otot bisepnya.

Saya pura-pura tidak mengerti dan bertanya apakah yang dimaksud itu raja jahanam. Apakah benda itu batu semacam hajar aswad, batu hitam yang menempel di Kabah? Jika dilihat dari kata-katanya maka hajar adalah batu, aswad adalah hitam.

"Kalau hajar aswad berarti batu hitam, maka hajar jahanam itu batu neraka dong," kata saya menebak sekenanya.

Si pedagang asal Arab bilang kalau hajar jahanam bukan batu dalam artian sebenarnya. Hajar jahanam dihasilkan dari getah semacam pohon jeruk yang hanya tumbuh di jazirah Arab, khususnya di Mesir. Karena getah itu dipadatkan, maka ia menyerupai batu.

Untuk mengumpulkan getah menjadi batu hajar jahanam seberat satu kilogram, katanya, dibutuhkan waktu satu tahun. Hajar jahanam berkhasiat menahan ejakulasi dengan cara membebalkan area-area sensitif sehingga bisa bercinta sampai lama.

"Buktikan kalau anda sayang isteri," katanya seraya memperagakan tangannya yang kuat berotot.

"Harganya 250 riyal sebungkus," ujarnya setelah menjelaskan panjang lebar cara pakainya yang vulgar dan porno banget.

Saya mengangguk-angguk saja. Saya jadi teringat beberapa tahun lalu saat berkunjung ke Mesir bersama kolega saya. Di pasar cenderamata Khan Halilie, Kairo, kami juga ditawari hajar jahanam. Kami dibujuk untuk mendengarkan kekuatan dan kemujaraban batu itu.

Saya tidak tertarik, tapi kolega saya kepincut. Harganya cukup mahal sekitar 50 dolar AS. Oleh karena terbujuk dengan rayuan gombal, kolega saya yang tidak perlu disebutkan namanya itu membelinya. Sepanjang jalan menuju ke hotel, kolega itu tersenyum-senyum sendiri sambil menghafal "aturan pakainya".

Saya katakan untuk mencoba dulu. Jika khasiatnya nyata maka sms atau telpon saya, dan saya akan membelinya. Dia berjanji jika ternyata manjur maka akan menghubungi saya. Bilamana perlu dia akan bagi saya hajar jahanam itu barang seoles dua oles.

Semalaman saya menunggu sms dan telepon dari kolega saya itu. Tapi sampai saya tertidur tidak kunjung ada kontak darinya. Pagi-pagi saat sarapan, saya tanya kolega saya itu, "Gimana? Tokcer?".

Dia menggeleng dan malu-malu mengatakan, "Payah, cuma panas doang".


Jangan tertipu

Kembali ke Pasar Seng, berdasarkan pengalaman tersebut, saya tidak mau tertipu sebagaimana kolega saya di Mesir itu. Saya tinggalkan pedagang itu baik-baik seraya mengatakan kalau saya masih muda dan tidak memerlukan obat kuat apapun, entah itu viagra ataupun hajar jahanam.

Saat kembali ke penginapan, saya ceritakan kisah saya ditawari hajar jahaman di Pasar Seng itu. Kepala Daerah Kerja (Daker) Mekkah Panitia Haji Indonesia Arsyad Hidayat mengatakan apa yang saya lakukan sudah benar karena keaslian hajar jahanam yang diperjualbelikan di Pasar Seng tidak bisa dipertanggungjawabkan.

"Jangan sembarang beli. Saya juga melarang tenaga-tenaga musiman petugas haji untuk menjual hajar jahanam kepada jemaah haji Indonesia," katanya.

Abdul Kholik, pengurus Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) mengatakan bagi warga Arab, hajar jahanam sangat populer. Obat antiloyo tradisional Mesir bagi pria itu diyakini bisa memberi kepuasan bagi pasangan hidupnya.

"Banyak jemaah pernah tertipu dan terbujuk oleh mitos kekuatan hajar jahanam. Setelah mencoba, mereka kecewa," kata mantan Sekretaris Fraksi PKB di zaman Gus Dur itu.

Selain takut ditipu, alasan utama saya tidak tertarik sama sekali dengan hajar jahanam karena alasan medis kedokteran. Menurut literatur kedokteran, fungsi hajar jahanam menjadikan kulit bebal temporer. Menggunakan hajar jahanam sama dengan melakukan anestesi lokal, kata dr. Ramon Gonzalez.

Ramon mengingatkan bagi pengguna obat tradisional Arab Mesir ini harus hati-hati karena dapat menimbulkan efek panas. Bila keliru, pasangan bisa menjadi jadi korban karena harus mendinginkan perkakas suami. Kalau itu sampai terjadi, betul-betul itu batu neraka jahanam.