Jumat, 19 September 2008

BUKIT PARA SYUHADA

Oleh Akhmad Kusaeni

Jakarta, 15/9 (ANTARA) - Salah satu tempat yang dikunjungi masyarakat kota Baku, Azerbaijan, pada masa ramadhan dan menjelang lebaran adalah Bukit Para Syuhada.

Di bukit itu dimakamkan ratusan korban pembantaian tentara Uni Soviet menjelang keruntuhannya.

20 Januari 1990 adalah hari yang akan melekat dalam sejarah rakyat Azerbaijan, negeri kaya minyak bekas bagian Uni Soviet di tepi Laut Kaspia.

Pada hari itu terjadi "pembantaian" yang dilakukan oleh mesin militer Uni Soviet terhadap rakyat Azerbaijan.

"Itu lembaran hitam yang tak pernah bisa dilupakan sebagai kejahatan kemanusiaan yang paling biadab," kata Direktur Jenderal Kantor Berita Azertac Aslan Aslanov ketika membawa rombongan wartawan dari kawasan Asia Pasifik ke bukit itu awal ramadhan.

Di bukit dengan bangunan mesjid di halaman depannya itu ratusan orang yang terbunuh atau terluka akibat pembantaian dikenang. Para korban adalah rakyat Azerbaijan yang berusaha menyampaikan aspirasi untuk menjadi negara yang bebas merdeka.

"Ini kejahatan kemanusiaan dari rejim Uni Soviet yang terancam bubar dan pecah," kata Aslan.

Pasukan tentara Soviet dengan mesin perang mereka masuk ke Baku, ibukota Azerbaijan, tanpa diduga. Mereka, jumlahnya sekitar 60.000 orang, mendapatkan latihan militer, termasuk latihan kejiwaan, sebelum operasi "pemberangusan".

Dalam laporan resmi kelompok pejuang hak asasi manusia disebutkan bahwa komandan tentara memberi perintah kepada pasukan yang akan berangkat untuk melakukan pembantaian.

"Kalian dikirim ke Baku untuk melindungi orang-orang Rusia, karena rakyat setempat dengan brutal membasmi orang Rusia," katanya.

Si komandan menjelaskan bahwa para ekstrimis telah menempatkan penembak jitu di setiap atap gedung. Apartemen dan setiap bangunan dipenuhi pemberontak dari Popular Front of Azerbaijan.

Mereka siap menanti kedatangan kalian dengan senjata mesin mereka, demikian doktrin yang ditanamkan kepada para tentara Soviet ketika itu.

Kartu Rusia
Kepemimpinan Uni Soviet di bawah Mikhail Gorbachev mengambil keuntungan dengan memanfaatkan kartu "Rusia dan Armenia" dengan jitu.

Tentara dikirim ke Baku dengan alasan untuk melindungi orang-orang Rusia dan Armenia, yang punya sejarah panjang permusuhan dengan bangsa Azerbaijan.

Tentara juga diminta untuk melindungi para pegawai negeri yang loyal kepada Uni Soviet dan menumpas pemberontak nasionalis yang didituding bakal melakukan kudeta.

"Dalam kenyataannya, itu hanya alasan dan kebohongan yang telanjang," kata Mammadov, warga Baku.

Katakanlah apa yang ditudingkan Kremlin itu benar, kata Mammadov, itu pun tidak memerlukan pengerahan pasukan Uni Soviet sebanyak itu.

Ketika itu di Baku hanya terdapat 11.500 tentara lokal dan mereka hanya mempunyai persenjataan yang terbatas.

Gorbachev menandatangani maklumat bahwa pada 20 Januari 1990 dinyatakan sebagai situasi darurat di Baku.

Namun, Komando Alfa KGB sudah sehari sebelumnya menghancurkan generator listrik TV Azerbaijan untuk menghentikan siaran televisi lokal itu, yakni pada pukul 19.27.

Dalam keadaan gelap gulita dan tanpa siaran televisi, pasukan Uni Soviet menginvasi kota Baku. Rakyat sama sekali tidak tahu adanya rencana pengumuman situasi darurat, sehingga mereka tidak menyangka bakal diserbu dan ditembaki.

Sembilan warga terbunuh bahkan sebelum maklumat Gorbachev berlaku pada jam 00.00 pada 20 Januari 1990.

Pengumuman situasi darurat militer di Baku baru disiarkan oleh radio lokal pada 07.00 pagi pada 20 Januri 1990. "Saat itu, sudah lebih dari 100 warga terbunuh," kata Mammadov.

"Saya heran mengapa Gorbachev (yang memerintahkan penyerangan terhadap Baku) kemudian mendapat penghargaan Nobel Perdamaian. Tangannya berlumuran darah rakyat yang tak berdosa," katanya.

Hancurkan apa saja
Tank dan mesin perang Uni Soviet menghancurkan apa saja yang ditemukan di jalan menuju Baku.

Tentara menembak secara membabi buta tanpa diskriminatif. Peluru tajam bukan hanya menerjang warga yang ada di jalan raya, tapi juga yang ada di dalam bus dan mobil mereka.

Bahkan, warga yang berada di dalam apartemen juga ditembaki. Termasuk ambulan yang membawa korban juga dihajar. Begitu juga dokter dan perawat.

Hasilnya, 137 warga terbunuh, 700 luka-luka dan 800 orang ditahan tanpa dosa.
"Mereka adalah syuhada," begitu tertulis di pintu gerbang pemakaman itu.
Tapi, kebiadaban pembantaian 20 Januari 1990 gagal menghapus hasrat rakyat Azerbaijan untuk mencapai kemerdekaan.

Anak-anak bangsa yang terbunuh hari itu telah menulis sejarah gemilang dalam sejarah Azerbaijan. Mereka melapangkan jalan bagi gerakan pembebasan nasional mencapai kemerdekaan.
Mereka dimakamkan di tempat paling tinggi di Baku, di sebuah bukit tempat para peziarah bisa memandangi seluruh kota Baku dengan jelas.

Kini lembah itu dinamakan Bukit Syuhada.
Foto-foto para syuhada di pahat di batu nisan dengan catatan kecil tentang bagaimana mereka terbunuh:
Meyerovich, mati tertembak oleh 21 peluru;
Rustamov, tewas dihajar 23 peluru;
Yefimtsev, syahid ditusuk pisau bayonet.

Di pusara para syuhada itu sanak keluarga, warga biasa, dan rakyat Azarbaijan membungkuk meletakan bunga.

Kamis, 11 September 2008

TURKI: BUKA PUASA DI KIRI, MINUM BIR DI KANAN

Oleh Akhmad Kusaeni

Jakarta, 10/9 (ANTARA) – Inilah cerita tentang kota Istanbul, Turki, di bulan Ramadhan. Di sepanjang jalan kawasan Kodikoy Carsi banyak sekali restoran dan cafe bernuansa perpaduan Eropa dan Asia.

Orang berlalu lalang dengan macam ragam penampilan. Ada wanita cantik berpakaian seronok berjalan glendotan dengan lelaki berkaos oblong dan bercelana jeans belel. Ada yang anggun berjilbab beriringan dengan pria berjanggut berbaju gamis. Turis-turis asing juga hilir mudik disana.

Menjelang adzan maghrib, inilah yang hanya terjadi di Turki: Muslim yang berbuka puasa harus berbaur dengan kelompok sekuler di restoran kawasan Kodikoy.

Restoran yang menyediakan iftar (hidangan buka puasa) juga menyajikan bir, anggur dan minuman keras lainnya. Yang buka puasa di meja kiri, yang minum bir di meja kanan.
”Inilah keunikan negeri kami,” kata Erhan Takepe, warga Turki yang menjadi staf lokal KBRI Ankara.

Ini menarik karena di Turki, seperti dikemukakan wartawan Turkish Daily News Mustafa Akyol, iftar and minuman keras mewakili dua hal yang berbeda 180 derajat, bahkan mendorong terjadinya konflik budaya.

Muslim Turki yang taat menganggap alkohol haram, bukan hanya meminumnya, tapi sekedar menggunakan minyak wangi beralkohol juga dijauhi. Tapi, warga Turki lain yang sekuler, menganggap minum minuman keras, termasuk di bulan Ramadhan, adalah hal yang lumrah saja. Hanya sedikit yang berhenti minum-minum untuk menghormati warga yang puasa.
Dari 70 juta penduduk Turki, mayoritas beragama Islam, meskipun sebagian hanya ”Islam KTP”.

Menurut Mustafa Akyol, sebanyak 60 persen dari total populasi Muslim Turki menjalankan puasa. Artinya, 40 persen lainnya bebas makan minum di bulan Ramadhan.
Yang berpuasa dan tidak berpuasa bisa jalan beriringan. Inilah hebatnya atau anehnya Turki. Kalau di Indonesia, orang makan minum di jalan waktu ramadhan pasti sudah ditonjok, paling tidak ditegur.

”Di Turki, yang berpuasa dan yang tidak puasa, saling tidak peduli,” kata Erhan yang sudah hampir 15 tahun bekerja di KBRI.

Tak ada pembatas
Necmi Oscan, pelayan restoran Kofte & Balikevi, mengatakan pihaknya selain menyajikan iftar bagi yang puasa, juga menjual minuman keras dari mulai bir, wine, sampai vodka. Pengunjung restoran bisa duduk dimana saja mereka suka. Tidak ada pembatasan ruangan untuk yang Muslim dan yang sekuler.

”Di Turki tidak ada masalah. Yang puasa silahkan berbuka, sementara temannya menenggak bir. Mereka duduk di meja yang sama. Tidak peduli, semua senang. Ini Turki kawan, bukan Indonesia,” kata Oscan.

Turki sampai saat ini masih sangat kuat memegang sekularisme. Terhitung, sejak ambruknya Khilafah Islamiyah Turki tahun 1924, negeri itu menjadi simbol sekulerisme dipelopori pendiri Turki sekuler, Mushtafa Kamal Ataturk.

Di negeri itu, masalah agama dipisahkan dari masalah kenegaraan dan kemasyarakatan. Agama menjadi wilayah pribadi sehingga tidak penting bagi negara dan pemerintah mengurusi pelaksanaan ibadah puasa atau haji.

Oleh karena itu di Istanbul, misalnya, tidak pernah ada aturan dari kantor walikota untuk menutup tempat-tempat hiburan atau melarang penjualan minuman keras selama ramadhan. Tidak pula ada kelompok massa yang merusak bar, pub, karaoke, panti pijat, atau diskotik.
Tapi tidak ada pula yang meramaikan bulan suci secara berlebihan dengan spanduk-spanduk ”marhaban ya ramadhan”, televisi-televisi yang hingar bingar dengan acara bernuansa ramadhan atau orang-orang di kampung yang membangunkan sahur dengan menabuh beduk, kentongan atau tiang listrik.

Itulah suasana bulan ramadhan di Istanbul, Turki. Apa yang terjadi di kawasan Kadikoy Carsi mungkin bisa menunjukkan prototipe Turki sekarang ini. Seperti dikemukakan Adnan Oktar, cendikiawan Muslim yang di dunia lebih dikenal dengan nama pena Harun Yahya, Turki kini berada di persimpangan jalan.

Apakah negeri itu akan kembali meraih kejayaan Ottoman Empire di masa lalu atau melesat menjadi bangsa Barat yang bebas di masa depan. ”Islam kembali bangkit di Turki, dan negeri ini siap mendorong renaissance Muslim di Eropa,” katanya.

Sangat khawatir
Bagi kaum sekularis, mereka makin banyak melihat wanita-wanita berjilbab di tempat umum dan sangat khawatir Turki akan menjadi Iran atau Arab Saudi. Sebaliknya, kaum Muslim konservatif, terus menerus mengeluh adanya erosi moral dan nilai-nilai keluarga serta berkembangnya budaya hedonisme di masyarakat Turki.

Mustafa Akyol melihat Turki sekarang berada di tengah-tengah. Negeri itu belum seperti Teheran, bukan pula seperti Amsterdam. Turki kini menjadi, meminjam istilah kolumnis Haluk Sahim, sebuah ”strangeland”. Negeri yang unik dan aneh, negeri yang bukan ini dan bukan itu.
Yang jelas, Turki masa kini adalah sebuah negeri yang memiliki masyarakat heterogen dan penuh warna, yang mengalami kehidupan bersama (Islam, Nasrani, Yahudi) secara damai selama 500 tahun.

Kodikoy Carsi adalah miniatur Turki yang memanifestasikan kehidupan damai antar warga yang berbeda serta berlainan agama. Hanya di Kodikoy Carsi santri dan abangan bisa berdampingan. Hanya di Kodikoy Carsi yang beriman dan pendosa, fundamentalis dan sekularis, bisa bersendagurau.

Karena hanya di Kodikoy Carsi di masa ramadhan ini, orang bisa buka puasa dengan hidmat tanpa terganggu dengan pendosa yang menenggak minuman keras. Iftar di kiri, bir di kanan, tidaklah menjadi masalah. Ini Turki, bung!

Senin, 04 Agustus 2008

MAHBUBANI DAN KEBANGKITAN ASIA

Oleh : Akhmad Kusaeni

Jakarta, 4/8 (ANTARA) – Tak ada cendikiawan yang paling vokal menyuarakan Asia kecuali Prof. Kishore Mahbubani. Ia adalah diplomat Singapura keturunan India yang sudah menulis sekian banyak buku tentang bangsa-bangsa di Timur, termasuk yang provokatif seperti “Dapatkah Bangsa Asia Berfikir?”.

Namanya sangat dikenal di berbagai lembaga dunia sebagai penyuara Asia disamping Dr. Mahathir Muhammad dari Malaysia. Mahbubani juga pernah jadi Wakil Tetap Singapura di PBB yang sangat dihormati karena pandangan-pandangannya yang kritis dan jenius.

Hari-hari ini Mahbubani sedang road show ke Asia, termasuk ke Indonesia, mengkampanyekan bukunya yang terbaru “The New Asian Hemisphere”. Ia menjadi pembicara utama dalam Presidential Lecture di Istana Negara bersama-sama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hari Jumat (1/8), Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy, Universitas Nasional Singapura itu, berdiskusi di Universitas Paramadina.

“Tolong jangan panggil saya lagi Tuan Duta Besar. Saya sudah lama pensiun dari diplomat dan tidak bekerja di pemerintahan lagi. Saya lebih senang dipanggil professor, karena kemerdekaan akademik saya lebih terjamin dengan atribut itu,” katanya kepada Rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan yang terus saja memanggilnya ”Mr. Ambassador”.

Bersama civitas akademika Universitas Paramadina, Mahbubani berdiskusi membahas topik ”Mengapa Asia Bangkit?”. Berkemeja batik, Mahbubani dengan sangat meyakinkan menjelaskan thesisnya mengenai kebangkitan Asia dan perlunya Barat mulai menyesuaikan diri dengan pudarnya dominasi mereka di dunia.

”Kita memasuki era baru dalam sejarah dunia, yaitu berakhirnya dominasi Barat dan datangnya abad Asia,” katanya dengan mantap dan tegas.

Abad Asia
Abad 21 adalah abad Asia. Inilah inti kampanye dan keyakinan Mahbubani yang dituangkan dalam berbagai diskusi dan artikel di media massa internasional, termasuk ”The Making of Modern Asia” di majalah Time, edisi 7 Agustus 2005.

Sebagai anak dari imigran miskin India yang tumbuh tahun 1950-an di koloni Inggris, Singapura, Mahbubani bersama-sama teman sekelasnya tidak pernah menyangka bahwa Abad Asia akan datang pada sisa hidupnya.

”Kami dulu percaya bahwa Inggris adalah pusat dunia, bahkan seorang teman sering mengatakan jalan-jalan dan taman di London dipagari bersepuh emas. Sedangkan Cina dan India waktu itu dibelenggu kemiskinan yang sepertinya akan abadi,” kenangnya.

Kini, katanya bersemangat, bangsa-bangsa Asia telah bangkit. Abad Asia sudah dimulai. Yang membuat Asia bangkit tak bisa dibendung adalah keberhasilan Cina dan India. Cina sukses sebagai dinamo ekonomi dan India berhasil sebagai kampium demokrasi. Negara-negara Asia lain seperti Jepang, Korea Selatan, mengadopsi demokrasi dan pasar bebas yang digelindingkan Barat. Mereka mengimitasi Barat.

Prinsip-prinsip ekonomi yang mendorong kebangkitan Asia berasal dari Adam Smith. Ideologi politik Asia yang berkembang berasal dari pemikir Barat dari John Locke sampai Karl Marx. Lembaga-lembaga multilateral internasional yang membentuk ekonomi politik Asia, seperti PBB, Bank Dunia, IMF dan WTO, adalah hasil kreasi Barat. Pendek kata, bangsa Asia telah mendapat manfaat besar dari posisinya sebagai ”penumpang” dalam bus globalisasi yang dijalankan Barat.
”Saatnya mereka harus jadi sopir. Bangsa Asia tidak bisa selamanya menjadi penumpang. Asia harus mengendalikan arah perkembangan ekonomi politik dunia sebagaimana Barat telah melakukannya selama ini,” katanya lagi.

Di Asia, ungkap Kishore, terdapat separuh jumlah penduduk dunia. Asia menghasilkan lebih dari sepertiga hasil ekonomi global. Asia menggerakkan sejumlah besar simpanan dunia. Tengok saja halaman terakhir setiap terbitan The Economist. Di situ terdapat daftar negara-negara dengan cadangan devisa tertinggi. Sebagian di antaranya negara-negara Asia.

Wake up call
Dunia tampaknya harus belajar terhadap tanggungjawab baru yang harus diemban bangsa-bangsa Asia. Pertanyaannya adalah apakah negara-negara Barat, terutama yang berkuasa di Washington, akan terbangun dengan ”wake up call” dari realitas baru ini. Realitas yang menunjukan tanda-tanda kebangkitan Asia dan pudarnya dominasi Barat di dunia.

Ketika Presiden baru Amerika Serikat dilantik bulan Januari tahun depan, menurut Mahbubani, akankah dia berkata,”Hentikan kunjungan ke Eropa. Kirimkan saya ke Pasifik, bukan ke Atlantik. Negara-negara maju G-8 diambang terbenam. Biarkan saya fokus ke fajar baru yang siap menyingsing di Asia”.

Barat sudah mendominasi sejarah dunia selama 200 tahun terakhir. Tetapi janganlah lupa bahwa dari tahun 1 sampai tahun 1820, sebagaimana dikemukakan oleh sejarawan Inggris Angus Maddison, yang menjadi raksasa ekonomi dunia adalah Cina dan India. ”Jarum jam sejarah akan berputar kembali di abad 21,” ujar Mahbubani.

Sebuah kajian yang dilakukan oleh Goldman Sachs tahun 2003 secara meyakinkan telah memprediksi bahwa pada 2050, empat negara raksasa ekonomi di dunia secara berurutan kebesarannya adalah Cina, Amerika Serikat, India dan Jepang. Kajian terbaru Goldman Sachs menunjukan bahwa prediksi itu bisa terjadi lebih cepat lagi dan ekonomi India akan melampaui AS pada tahun 2043.

”Perubahan akan sangat dramatis dan terjadi begitu cepat,” katanya.
Lawrence Summers, ekonom yang mantan Menteri Keuangan AS, mengatakan pada masa Revolusi Industri peningkatan standar hidup melonjak 50 persen sepanjang usia hidup manusia. Pertumbuhan Asia sekarang menunjukan lonjakan luar biasa yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah kemanusiaan, yaitu standar hidup naik 100 kali lipat atau 10.000 persen sepanjang usia hidup seseorang.

Namun, tidak semua pakar di Barat seperti Lawrence Summer. Alfred Balitzer dari Pascasarjana Universitas Claremont, AS, meragukan thesis Mahbubani. Dulu pada awal 1980-an, kata Balitzer, Mahbubani mengacu pada ”Asian Values” yang menjadi pendorong kuat keajaiban ekonomi Asia. Nilai-nilai Asia dianggap lebih tinggi ketimbang ”Western Values”, wabilkhusus ”American Values”.

”Argumentasi itu mati diam-diam dengan datangnya krisis ekonomi Asia tahun 1997-1998,” kata Balitzer yang meresensi buku Mahbubani di koran Straits Times beberapa waktu lalu.
Prof. Mahbubani berhak untuk bangga dengan kemajuan ekonomi Cina, India dan ASEAN. Ia juga benar bahwa Asia harus mendapat perhatian lebih besar dari AS dan bangsa-bangsa Asia harus memainkan peranan yang besar di lembaga-lembaga internasional.

”Tapi, ia salah, bahkan salah besar, dalam prediksinya tentang siapa yang bangkit dan siapa yang pudar. Asia memang bangkit, tapi bukan berarti Barat runtuh,” katanya.
Balitzer menyindir bahwa mungkin saja Abad 21 itu jadi Abad Asia, tapi sejarah tentang itu belum ditulis. Hanya dengan perjuangan dan kerja keras, bangsa-bangsa Asia bisa menentukan nasibnya dan menulis sejarahnya.

Waktu jua yang akan membuktikan bahwa kebangkitan Asia hanya wacana atau sesuatu yang nyata. Sejarah sudah mencatat Pax Romawi, Pax Britanica, dan kini Pax Americana. Mungkinkah Pax Asia berikutnya?