Selasa, 25 Oktober 2011

Ada ceret dan teko di dalam Kabah

oleh : Akhmad Kusaeni *

Mekkah (ANTARA News) - Semua orang muslim pernah melihat Kabah. Yang beruntung bisa menyaksikannya dengan mata kepala sendiri saat melakukan ibadah haji atau umroh.

Saya, Alhamdulillah, untuk ketiga kalinya saya bisa melihat Kabah dengan mata dan kepala sendiri.

Bersama-sama dengan Naib Amirul Haj, yaitu mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi dan Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mukti, Senin pagi saya tawaf keliling Kabah untuk mengambil umroh sebelum haji nanti pada 10 Dzulhijah yang Insya Allah jatuh pada 6 Nopember 2011.

Setiap kali melihat Kabah hati ini selalu bergetar. Ada perasaan relijius yang bergejolak di dada yang susah dituliskan dalam kata-kata.

Bagi yang belum beruntung dan belum pernah ke Tanah Suci Mekkah paling tidak pernah melihat gambar atau lukisan Kabah di mesjid, sajadah atau di bendera partai.

Kabah yang dikenal setiap Muslim adalah bangunan segi empat di tengah Masjidil Haram. Kabah diselimut kain penutup hitam atau kiswah. Kabah adalah arah menghadap setiap muslim di seluruh penjuru dunia ketika melakukan shalat.

Namun apa yang ada di dalam Kabah tetap sebuah misteri. Jutaan muslim meninggal dunia tanpa tahu ada apa di dalam Kabah, padahal lima kali dalam sehari sepanjang hayatnya mereka shalat menghadap kiblat.

Benda-benda apakah yang ada di dalam Kabah? Bagaimana dinding dan interiornya? Bagaimana susunan arsitekturnya? Adakah kuburan atau benda-benda sejarah disimpan di situ?

Semuanya hanya bisa menduga. Informasi dan ceritanya hanya berdasarkan "katanya, katanya?". Namun tak ada yang yakin seyakin-yakinnya, karena dari 1,6 miliar muslim sedunia hanya segelintir saja yang bisa masuk ke dalam Kabah.

Hanya Raja-Raja Arab Saudi, keluarga kerajaan dan pejabat negara yang bisa masuk ke dalam Kabah saat dicuci dan penutupnya diganti.


Saksikan Kabah dicuci

Pada upacara pencucian Kabah pada 2 Januari 2008, Wakil Presiden Jusuf Kalla termasuk yang diundang untuk menghadiri.

Sebagai wartawan yang ikut rombongan Jusuf Kalla, saya tersanjung bisa menyaksikan prosesi langka itu. Saya memang tidak bisa masuk ke dalam Kabah, tapi saya bisa menyaksikan pencucian Kabah itu dari jarak sangat dekat, yaitu sekitar dua meter saja dari pintu masuk Kabah.

Jadi saya bisa melihat pejabat dan tamu keluar masuk dan sedikit-sedikit mengintip ada apa di dalam Kabah.

Gubernur Mekkah Khalid Al-Faisal memimpin pencucian Kabah dihadiri oleh para ulama terkemuka, pejabat Arab Saudi dan para diplomat yang bertugas di Arab Saudi.

Pemerintah Indonesia diwakili oleh Kuasa Usaha Ad Interim Kedubes RI di Riyadh Sukanto sementara Wapres Jusuf Kalla diundang untuk menyaksikan.

Kabah dicuci dua kali dalam satu tahun, yakni pada tanggal 15 Sha`ban (bulan sebelum bulan puasa, Ramadhan) dan pada pertengahan Muharam , yakni bulan setelah Zulhijah dimana umat Islam menunaikan rukun ke lima Islam untuk naik haji.

Ritual pencucian Kabah dimulai dengan shalat sunnat dua rakaat di dalam Kabah.

Saat berada di dalam Kabah, jemaah boleh shalat menghadap ke mana saja.

Bagian dalamnya lalu dibersihkan dengan kain putih yang dibasahi air mawar, wewangian khas Arab beraroma kayu oud dan parfum beraroma musk, yaitu minyak kelenjar rusa.

Air zamzam dipercikkan ke lantai Kabah kemudian lantai dipel dengan tangan kosong dan daun kurma.

Sebelum memasuki Kabah, Pangeran Khalid melakukan tawaf keliling Kabah tujuh kali dan menyentuh hajar aswad, yaitu batu hitam yang dibawa malaikat dari surga.

Sesudah Pangeran Khalid masuk, baru kemudian tamu-tamu negara menyusul memasuki bagian dalam bangunan berbentuk kubus itu.

Mantan Menteri Agama Tarmizi Taher yang sudah 13 kali mendapat kesempatan memasuki Kabah, pernah mengatakan bahwa dinding dalam Kabah, atap, lantai, serta tiga tiangnya biasa saja seperti dinding batu lainnya.

"Ada ceret dan teko di dalam Kabah. Itu hadiah dari raja, khalifah dan sultan," katanya.

Sisi bagian timur Kabah tingginya l4 meter, sementara sisi barat dan selatan l2,11 meter dan 11,28 meter dari sisi utara.

Lantai bagian dalam dilapisi keramik berwarna, sementara atapnya ditunjang tiga pilar kayu, masing-masing berdiameter 44 cm.

Struktur atap terdiri atas dua lapisan, bagian atas dan bawah, sementara dinding bagian dalam ditutup dengan layar terbuat dari beludru hijau yag diganti tiap tiga tahun sekali.

Pada atap bagian teratas terdapat ventilasi dengan panjang 127 cm dan lebar l04 cm untuk memberikan kesempatan bagi cahaya matahari masuk. Ventilasi ditutup dengan kaca penguat yang dibuka saat acara pencucian.


Dilapisi emas murni

Pintu Kabah yang berada pada 225 cm di atas permukaan tanah, tingginya 310 cm, lebar 40 cm dan panjang 190 cm, terbuat dari kayu yang dilapisi 280 kg emas murni

Pada dinding sebelah Barat yang berhadapan dengan pintu Kabah digantungkan sembilan pigura yang terbuat dari marmer dan bertuliskan nama-nama khalifah yang telah memperbaiki dan memperbarui Kabah yang agung. Kesemuanya itu tertulis setelah Abad 6H.

Sisi Kabah yang lain dilapisi marmer putih setinggi dua meter dan diatasnya ditutupi dengan hordeng warna merah dari kain sutera yang bertuliskan "Syahadatain" dan Asma ul-Husna dalam bentuk angka 8 atau 7 Arab berselang-seling. Kaligrafi tersebut hadiah dari Raja Fahd.

Diantara tiga tiang di dalam Kabah ada tempat untuk meletakkan barang yang terbuat dari perak murni untuk menyimpan barang, seperti antara lain : teko-teko , ceret, pajangan , dan barang-barang bersejarah lainnya yang terbuat dari emas dan perak yang telah berusia puluhan bahkan ratusan tahun lalu.

Barang-barang itu merupakan hadiah dari raja-raja, khalifah dan para sultan.


Harganya Rp50 miliar

Kain penutup Kabah seharga Rp50 miliar ini berukuran panjang 14 meter dan lebar 47 meter. Beratnya tak tanggung-tanggung, mencapai 650 kilogram. Ada lima bagian kiswah, yaitu empat bagian yang menutupi keempat sisi Kabah dan satu sisinya menutup pintu Ka`bah.

Biasanya, kiswah dibuat di Mesir dan India, dan diberikan kepada pemerintah Saudi sebagai hadiah.

Di balik kiswah hitam, terdapat kain berwarna putih yang disebut Bithana Kiswah. Gunanya, untuk meresap uap dari dinding Ka`bah dan menghalangi panas yang diserap dari kain kiswah yang berwarna hitam. Tak hanya itu, kain putih ini juga dapat mencegah dinding Ka`bah retak.

Jika ditilik sejarahnya, semasa Nabi Muhammad SAW, Rasulullah pernah menghadiahkan kiswah Al-washail, sekaligus mengiswahi Ka`bah untuk pertama kalinya.

Cara ini kemudian diteruskan oleh Khulafaurrasyidin, seperti Umar Bin Al-Khatab dan Utsman Bin Affan serta beberapa khalifah Bani Umayyah.

Sekarang, banyak jemaah yang berusaha untuk menggunting sepotong kain penutup Kabah itu untuk berbagai alasan, minimal sebagai souvenir dan kenang-kenangan.

Mereka membawa gunting saat tawaf, ketika berhasil mendekati Kabah, mereka mengguntingnya. Lalu menyelipkan potongan itu dibalik kain ihram. Tukang gunting kiswah umumnya berasal dari Iran, Pakistan atau negara-negara Afrika.

"Yang dari Indonesia juga ada," kata Naib Amirul Haj Abdul Mukti.

(*Akhmad Kusaeni adalah Wakil Pemimpin Redaksi )

Minggu, 23 Oktober 2011

Doa cepat dapat jodoh yang mustajab

oleh : Akhmad Kusaeni *


Jeddah (ANTARA News) - Multazam adalah tempat dimana doa ijabah. Setiap doa yang diucapkan di tempat itu akan dikabulkan. Itu janji Allah.

Maka setiap kesempatan ke Tanah Suci, untuk umroh atau haji seperti sekarang ini, saya niatkan untuk ke Multazam. Pengalaman membuktikan beberapa doa yang saya ucapkan di tempat ini dikabulkan. Termasuk doa cepat dapat jodoh yang, Alhamdulillah, mustajab.

Multazam adalah bagian dinding Kabah antara batu hitam dan pintu Kabah. Multazam dalam bahasa Arab berarti bersandar atau menempel. Pada saat Nabi Muhammad SAW menaklukkan Mekkah, Rasulullah bersama para sahabatnya masuk ke Kabah. Di antara batu hitam (hajar aswad) dan pintu masuk Kabah, Nabi menempelkan badan, wajah, tangan dan jari-jarinya ke dinding Kabah. Di sana Nabi dan para sahabat berdoa.

Itulah asal mula mengapa tempat itu kemudian disebut Multazam atau "place of clinging" dalam Bahasa Inggris. Di sana para jemaah haji boleh berdoa apa saja sesuka hati dan Allah menjanjikan akan mengabulkannya.

Tidak ada doa khusus yang harus dibacakan oleh jemaah haji. Buku panduan manasik haji tidak spesifik merujuk kepada doa apa yang harus dibacakan di Multazam. Padahal di tempat-tempat lain, seperti Safa Marwa, Mina, Arafah, ada doa-doa khusus yang dianjurkan dibaca jemaah.

Artinya, di Multazam jemaah boleh minta naik pangkat, murah rejeki, sampai enteng jodoh. Allah berfirman: "Berdoalah padaku, maka akan kukabulkan".

Pada waktu umroh tahun 2008, saya berkesempatan untuk berada di Multazam dengan leluasa. Meskipun jemaah umroh yang sedang tawaf bejubel, oleh karena saya ikut rombongan Wakil Presiden Jusuf Kalla, maka untuk beberapa menit askar mengamankan lokasi Multazam khusus untuk rombongan kami.

Saya dengan mudah merengkuh Kabah. Saya tempelkan badan di dindingnya. Saya cium kiswah seraya merentangkan kedua tangan dan 10 jari menyentuh kain penutup Kabah. Saya berdoa sebanyak-banyaknya. Semua keinginan saya tumpahkan. Apa saja yang terlintas di kepala, saya ucapkan dalam doa. Oleh karena diyakini sebagai tempat yang mustajab, maka saya panjatkan keinginan dengan sungguh-sungguh. Sekhusuk-khusuknya.


Titip doa

Uniknya, dasar wartawan suka nyeleneh, habis berdoa untuk kepentingan sendiri, saya telepon ponakan saya di Jakarta untuk ikut berdoa. Ia gadis yang baru saja putus sama pacarnya yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Waktu mau berangkat umroh, ponakan saya titip agar didoakan di depan Kabah untuk segera dapat jodoh.

"Saya bosan pacaran Oom, doakan saya enteng jodoh ya. Saya mau cepat nikah saja," kata si ponakan. Tak usahlah saya sebut namanya.

Saya teringat pesan ponakan saya itu dan segera saya meneleponnya. Ketika nyambung, saya sampaikan bahwa saya sedang berada di Multazam, sebuah tempat dimana semua doa ijabah. Saya minta si ponakan untuk berdoa sendiri. Saya aktifkan speakerphone . Saya dengar ia berdoa dengan sepenuh hati dan dengan suara bergetar minta agar mendapat pasangan hidup yang baik.

Alhamdulillah wa syukurillah. Doa si ponakan terkabul. Enam bulan kemudian ia menikah tanpa pacaran yang berarti. Sekarang ia dan suaminya hidup berbahagia dengan satu orang puteri berusia tiga tahun yang cantik dan pintar. Dalam waktu dekat, mereka akan hijrah untuk bermukim di Dubai, karena si suami mendapat tugas baru di perusahan ternama di Uni Emirat Arab. Berkah. Mustajab.

Mustajab berarti terkabul. Banyak tempat yang diyakini orang sebagai tempat yang mustajab dimana jika orang berdoa di tempat tersebut maka doanya pasti dikabulkan. Selain di Multazam, ada lagi di Raudah, yaitu di sekitar makam Nabi Muhammad SAW di kompleks Mesjid Nabawi, Madinah.

Saya katakan kepada ponakan saya bahwa meskipun ada janji Allah bahwa setiap doa akan dikabulkan di Multazam dan Raudah, sesungguhnya doa yang paling dikabulkan adalah doa dari orang yang dianiaya, yang berikhtiar, dan bersih dari dosa-dosa besar.

Jadi, kalau orang yang berdoa itu tidak pernah ikhtiar, apalagi tidak pernah benar-benar tobat dari kebiasaan buruknya, mau ke Multazam atau Raudhah setiap haripun tidak ada gunanya.


Bukit Kasih Sayang

Khusus untuk minta jodoh, sebetulnya ada tempat yang jemaah haji biasa menyampaikan hasrat agar memperoleh pasangan yang baik atau bagi yang sudah bersuami/ beristeri berdoa agar kehidupan mereka kekal sampai maut memisahkan mereka. Tempatnya di Jabal Rahmah yang arti harfiahnya adalah Bukit Kasih Sayang.

Jika Jabal Nur dengan Gua Hira adalah tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, maka Jabal Rahmah adalah tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa, pasangan manusia pertama, setelah berpisah di dunia selama 200 tahun.

Jabal Rahmah berbentuk tugu di atas sebuah bukit. Saya sering mendengar cerita keajaiban mengenai orang-orang yang mendapat jodoh setelah menuliskan namanya di tugu kasih sayang itu. Mungkin mirip dengan jembatan cinta di Rusia dan Eropa dimana para pasangan dan pengantin menulis nama mereka di sebuah gembok yang digantungkan di tiang besi jembatan.

Sewaktu dua kali umroh pada 2006 dan 2008, saya tidak sempat ke Jabal Rahmah. Tapi pada musim haji sekarang ini, saya bersemangat sekali untuk bisa datang ke Bukit Kasih Sayang itu. Ada dua alasan mengapa saya harus ke Jabal Rahmah.

Pertama, staf saya di kantor minta saya menuliskan di tugu itu namanya dan nama pacarnya dengan lambang hati di tengahnya.

"Jangan lupa ya pak. Tulis X LOVE Y. Biar kita cepet nikah," kata si staf itu. Lagi-lagi nggak perlu saya tulis namanya.

Kedua, saya juga ingin menuliskan: "OE LOVE TANTI". Itu

"nickname" saya dan nama isteri saya persis seperti yang tertulis di kartu undangan perkawinan kami pada 3 Oktober 1993, atau sekitar 18 tahun lalu.

Ustadz pemandu haji sering mengatakan jika perkawinan kita ingin langgeng; ingin sakinah, mawaddah dan rahmah sampai kakek-nenek; ingin hidup "happily ever after" seperti akhir cerita dongeng Hans Christian Andersen; maka tulislah nama kita dan pasangan kita di tugu itu.

"Niscaya perkawinan akan bahagia selama-lamanya dan kita akan menjadi pasangan dunia dan akhirat,? kata sang Ustadz.

Amiiinnn?

(*Akhmad Kusaeni adalah Wakil Pemimpin Redaksi Antara)

Wartawan naik haji

oleh : Akhmad Kusaeni*

Jakarta (ANTARA News) - Seruan Nabi Ibrahim untuk melakukan ibadah haji terjawab tahun ini. Saya akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci Mekkah, Sabtu, setelah dua kali gagal memenuhi seruan itu pada tahun 1997 dan 2002.

Sebagai wartawan yang selama dua tahun berturut-turut mengikuti Safari Ramadhan dan Temu Kader Ketua Umum Golkar Harmoko ke lebih 350 kabupaten di Tanah Air, saya dihadiahi tiket untuk pergi haji tahun 1997. Umur saya waktu itu 33 tahun, masih sangat muda, dan belum kepikir untuk dipanggil dan menjalani hidup selayaknya "Pak Haji".

Waktu itu saya masih semangat-semangatnya menikmati "dunia" dan belum sepenuhnya mempersiapkan soal "akhirat".

Padahal, saya masih punya ibu yang sudah tua dan belum berhaji (Ayah saya almarhum sudah berhaji beberapa tahun sebelumnya). Lalu saya datang ke Harmoko dan meminta izin agar tiket haji yang diberikan kepada saya dialihkan ke Siti Manisah, ibu saya. Harmoko yang waktu itu juga Menteri Penerangan menyatakan ok, tidak keberatan. Maka berangkatlah ibu saya ke Tanah Suci berbekal tiket hadiah untuk saya.

Seruan kedua untuk pergi ke Baitullah datang pada tahun 2002. Wakil Ketua DPR A.M.Fatwa mengundang untuk mengikuti kunjungan kerja DPR ke Amerika Serikat, Kuba dan juga ke Saudi Arabia untuk melakukan ibadah haji. Kali itu saya menyambut seruan berhaji itu dengan gegap gempita. Umur saya sudah makin tua, 38 tahun. Saya sudah lebih relijius dan mulai memikirkan persiapan "akhirat".

Saya senang karena sudah bisa menunaikan rukun Islam yang kelima itu sebelum umur 40 tahun.

Namun apa daya tangan tak sampai. Seruan Nabi Ibrahim gagal terpenuhi. Saya terdampar di Havana, Kuba, karena persoalan visa. Dari San Fransisco, Amerika Serikat, rombongan DPR memang singgah ke Havana, Kuba. Dari situ mereka kembali ke San Fransisco dalam perjalanan menuju Saudi Arabia. Celakanya, visa saya ke Amerika Serikat hanya untuk satu kali masuk (one entry), sementara A.M. Fatwa dan rombongan DPR lainnya dapat visa masuk berkali-kali (multiple entries).


Terdampar di Kuba

Maka terdamparlah saya beberapa hari di negeri Fidel Castro tersebut. Atas bantuan diplomat dari KBRI Havana saya memang bisa masuk kembali ke Amerika Serikat. Namun masa haji sudah tak terkejar. Saya hanya bisa melakukan shalat Iedul Adha di Mesjid Indonesia New York, tempat saya menjadi salah satu pengurusnya pada periode 1998-2001 saat saya menjabat Kepala Biro Antara di Markas Besar PBB.

Sementara para jemaah haji tawaf di Masjidil Haram, saya tawaf di Times Square untuk mengenang masa-masa kejayaan "my good old days in the U.S.A.". Saya berkeliling di pusat hiburan itu sambil bersenandung lagu Frank Sinatra "New York, New York" pada saat para jemaah haji keliling Kabah dan mengucapkan talbiyah "Labaik Allahuma Labaik".

Begitu juga saat jemaah haji wukuf di Padang Arafah, saya malah wukuf di kawasan pecinan, Queens. Saya pernah malang melintang di Queens dan menjadi "King of the Hill" selama sekitar tiga tahun (1998-2001) di situ. Makanya tidak heran, jika orang dapat haji mabrur, saya dapat haji kabur.

Tapi, sekali lagi, saya orang yang beruntung. Setelah kegagalan berhaji tersebut, saya berkesempatan untuk dua kali melakukan ibadah umroh saat Ramadhan pada tahun 2006 dan 2008. Dua-duanya bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pada 2006, Jusuf Kalla mengadakan kunjungan ke Amerika Serikat dan pulangnya mampir ke Mekkah untuk berumroh. Inilah untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Subhanallah. Hati saya bergetar saat dengan mata kepala sendiri melihat Kabah yang selama ini hanya bisa saya lihat di gambar dan lukisan. Saya menangis ketika saya bisa memeluk Kabah dan tangan saya memegang kiswah, kain selimut Kabah. Konon setiap tahun kiswah itu diganti saat Kabah dicuci. Kain hitam bertuliskan huruf Arab dengan benang warna emas itu dipesan pemerintah Arab Saudi seharga sekitar Rp50 miliar.

Kabah ternyata hanya sebuah bangunan persegi dan kosong. Menurut Dr. Ali Shariati, bangunan ini terbuat dari batu-batu hitam keras yang tersusun dengan cara sangat sederhana, sedang sebagai penutup celah-celahnya dipergunakan kapur putih. Di dalam Kabah tidak ada keahlian arsitektural, keindahan, seni, atau prasasti kolosal.

Ketika berada di dekat Kabah, imajinasi-imajinasi visual saya tentang Kabah sebelumnya sangat berbeda dengan apa senyatanya yang saya saksikan. Saya pernah membayangkan Kabah itu seperti mahakarya arsitektur yang indah, dimana di dalamnya terkubur seorang tokoh manusia yang penting. Barangkali seorang pahlawan, seorang raja, jenius atau bahkan mungkin seorang nabi.

Ternyata di dalam Kabah itu tidak ada kuburan. Ternyata Kabah itu kosong belaka di dalamnya. Meminjam istilah Shariati, Kabah hanyalah sebuah tonggak penunjuk jalan. Arah dimana Muslim di seluruh dunia berpegang dalam menentukan kemana harus menghadap saat shalat. Kabah adalah arah kiblat. Itu saja.

Yang istimewa ada di sekitar Kabah adalah batu hitam yang disebut sebagai hajar aswad. Setiap muslim yang melakukan tawaf keliling Kabah selalu bermimpi dan berusaha untuk bisa mencium batu hitam itu. Ratusan ribu orang berebut untuk mendekati hajar aswad. Tidak setiap orang bisa mencium dan meraih batu tersebut.


Mencium hajar aswad

Pada kesempatan umrah kedua bersama Jusuf Kalla tahun 2008, saya beruntung bisa mendekati dan mencium hajar aswad dengan leluasa. Maklum saya termasuk rombongan Wakil Presiden yang menjadi tamu undangan Raja Saudi.

Askar-askar menjaga dan membantu kami satu persatu mendekat dan mencium batu hitam itu. Berkahnya lagi, ada fotografer yang diperbolehkan mengabadikan momen penting bersejarah, relijius dan emosional itu. Dengan bangga saya posting foto saya mencium hajar aswad itu di facebook. Juga di blog saya akusaeni.blogspot.com. Betul-betul narsis!

Di Multazam, antara pintu Kabah dan hajar aswad, dimana Allah menjanjikan semua doa yang dipanjatkan disitu ijabah, saya berdoa agar bisa kembali ke Baitullah pada musim haji beberapa tahun ke depan. Kalau bisa, gratis ya Allah. (Inilah pikiran nakal wartawan: kalau bisa cuma-cuma, kenapa mesti bayar sendiri).

Namun, hati saya haqul yakin kalau Allah akan mengabulkan doa "agak nakal" saya. Bukankah saya berdoa di Multazam, tempat dimana semua doa akan ijabah? Termasuk doa minta naik haji gratis?

Betul saja. Doa saya makbul. Allah memberi jalan agar saya, kini dalam usia 47 tahun, bisa menjawab seruan nabi Ibrahim tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri. Tahun ini, saya mewakili LKBN Antara untuk menjadi pengarah media Amirul Hajj, yaitu Menteri Agama Suryadharma Ali. Untuk itu saya ke Tanah Suci atas biaya dinas. Sebagai Haji Abidin (Atas Biaya Dinas), saya tetap harus bekerja. Saya bertugas membantu dan mengarahkan Media Center Haji (MCH) yang diperkuat sekitar 30 wartawan dari berbagai media.

Tidak banyak orang yang bisa menjadi pengarah media bagi Amirul Hajj. Musim haji tahun 2011 ini hanya tiga orang, yaitu Staf Ahli Menkominfo Dr. Henry Subiyakto, Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kementerian Agama Zubaidi, dan saya; Wakil Pemimpin Redaksi Perum LKBN Antara.

Sebagai wartawan saya wajib membuat berita dan menulis artikel selama perjalanan ibadah ini. Sepulang haji nanti, selain menjadi haji mabrur, saya juga berniat untuk membukukan berita dan artikel tersebut. Saya sudah punya judul bagus untuk buku itu. Kalau budayawan Danarto menulis buku ?Orang Jawa Naik Haji?, maka buku saya akan berjudul ?Wartawan Naik Haji?. Keren nggak?.


*(Akhmad Kusaeni adalah Wakil Pemimpin Redaksi LKBN Antara)

(A017/A011)