oleh : Akhmad Kusaeni *
Jeddah (ANTARA News) - Multazam adalah tempat dimana doa ijabah. Setiap doa yang diucapkan di tempat itu akan dikabulkan. Itu janji Allah.
Maka setiap kesempatan ke Tanah Suci, untuk umroh atau haji seperti sekarang ini, saya niatkan untuk ke Multazam. Pengalaman membuktikan beberapa doa yang saya ucapkan di tempat ini dikabulkan. Termasuk doa cepat dapat jodoh yang, Alhamdulillah, mustajab.
Multazam adalah bagian dinding Kabah antara batu hitam dan pintu Kabah. Multazam dalam bahasa Arab berarti bersandar atau menempel. Pada saat Nabi Muhammad SAW menaklukkan Mekkah, Rasulullah bersama para sahabatnya masuk ke Kabah. Di antara batu hitam (hajar aswad) dan pintu masuk Kabah, Nabi menempelkan badan, wajah, tangan dan jari-jarinya ke dinding Kabah. Di sana Nabi dan para sahabat berdoa.
Itulah asal mula mengapa tempat itu kemudian disebut Multazam atau "place of clinging" dalam Bahasa Inggris. Di sana para jemaah haji boleh berdoa apa saja sesuka hati dan Allah menjanjikan akan mengabulkannya.
Tidak ada doa khusus yang harus dibacakan oleh jemaah haji. Buku panduan manasik haji tidak spesifik merujuk kepada doa apa yang harus dibacakan di Multazam. Padahal di tempat-tempat lain, seperti Safa Marwa, Mina, Arafah, ada doa-doa khusus yang dianjurkan dibaca jemaah.
Artinya, di Multazam jemaah boleh minta naik pangkat, murah rejeki, sampai enteng jodoh. Allah berfirman: "Berdoalah padaku, maka akan kukabulkan".
Pada waktu umroh tahun 2008, saya berkesempatan untuk berada di Multazam dengan leluasa. Meskipun jemaah umroh yang sedang tawaf bejubel, oleh karena saya ikut rombongan Wakil Presiden Jusuf Kalla, maka untuk beberapa menit askar mengamankan lokasi Multazam khusus untuk rombongan kami.
Saya dengan mudah merengkuh Kabah. Saya tempelkan badan di dindingnya. Saya cium kiswah seraya merentangkan kedua tangan dan 10 jari menyentuh kain penutup Kabah. Saya berdoa sebanyak-banyaknya. Semua keinginan saya tumpahkan. Apa saja yang terlintas di kepala, saya ucapkan dalam doa. Oleh karena diyakini sebagai tempat yang mustajab, maka saya panjatkan keinginan dengan sungguh-sungguh. Sekhusuk-khusuknya.
Titip doa
Uniknya, dasar wartawan suka nyeleneh, habis berdoa untuk kepentingan sendiri, saya telepon ponakan saya di Jakarta untuk ikut berdoa. Ia gadis yang baru saja putus sama pacarnya yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Waktu mau berangkat umroh, ponakan saya titip agar didoakan di depan Kabah untuk segera dapat jodoh.
"Saya bosan pacaran Oom, doakan saya enteng jodoh ya. Saya mau cepat nikah saja," kata si ponakan. Tak usahlah saya sebut namanya.
Saya teringat pesan ponakan saya itu dan segera saya meneleponnya. Ketika nyambung, saya sampaikan bahwa saya sedang berada di Multazam, sebuah tempat dimana semua doa ijabah. Saya minta si ponakan untuk berdoa sendiri. Saya aktifkan speakerphone . Saya dengar ia berdoa dengan sepenuh hati dan dengan suara bergetar minta agar mendapat pasangan hidup yang baik.
Alhamdulillah wa syukurillah. Doa si ponakan terkabul. Enam bulan kemudian ia menikah tanpa pacaran yang berarti. Sekarang ia dan suaminya hidup berbahagia dengan satu orang puteri berusia tiga tahun yang cantik dan pintar. Dalam waktu dekat, mereka akan hijrah untuk bermukim di Dubai, karena si suami mendapat tugas baru di perusahan ternama di Uni Emirat Arab. Berkah. Mustajab.
Mustajab berarti terkabul. Banyak tempat yang diyakini orang sebagai tempat yang mustajab dimana jika orang berdoa di tempat tersebut maka doanya pasti dikabulkan. Selain di Multazam, ada lagi di Raudah, yaitu di sekitar makam Nabi Muhammad SAW di kompleks Mesjid Nabawi, Madinah.
Saya katakan kepada ponakan saya bahwa meskipun ada janji Allah bahwa setiap doa akan dikabulkan di Multazam dan Raudah, sesungguhnya doa yang paling dikabulkan adalah doa dari orang yang dianiaya, yang berikhtiar, dan bersih dari dosa-dosa besar.
Jadi, kalau orang yang berdoa itu tidak pernah ikhtiar, apalagi tidak pernah benar-benar tobat dari kebiasaan buruknya, mau ke Multazam atau Raudhah setiap haripun tidak ada gunanya.
Bukit Kasih Sayang
Khusus untuk minta jodoh, sebetulnya ada tempat yang jemaah haji biasa menyampaikan hasrat agar memperoleh pasangan yang baik atau bagi yang sudah bersuami/ beristeri berdoa agar kehidupan mereka kekal sampai maut memisahkan mereka. Tempatnya di Jabal Rahmah yang arti harfiahnya adalah Bukit Kasih Sayang.
Jika Jabal Nur dengan Gua Hira adalah tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, maka Jabal Rahmah adalah tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa, pasangan manusia pertama, setelah berpisah di dunia selama 200 tahun.
Jabal Rahmah berbentuk tugu di atas sebuah bukit. Saya sering mendengar cerita keajaiban mengenai orang-orang yang mendapat jodoh setelah menuliskan namanya di tugu kasih sayang itu. Mungkin mirip dengan jembatan cinta di Rusia dan Eropa dimana para pasangan dan pengantin menulis nama mereka di sebuah gembok yang digantungkan di tiang besi jembatan.
Sewaktu dua kali umroh pada 2006 dan 2008, saya tidak sempat ke Jabal Rahmah. Tapi pada musim haji sekarang ini, saya bersemangat sekali untuk bisa datang ke Bukit Kasih Sayang itu. Ada dua alasan mengapa saya harus ke Jabal Rahmah.
Pertama, staf saya di kantor minta saya menuliskan di tugu itu namanya dan nama pacarnya dengan lambang hati di tengahnya.
"Jangan lupa ya pak. Tulis X LOVE Y. Biar kita cepet nikah," kata si staf itu. Lagi-lagi nggak perlu saya tulis namanya.
Kedua, saya juga ingin menuliskan: "OE LOVE TANTI". Itu
"nickname" saya dan nama isteri saya persis seperti yang tertulis di kartu undangan perkawinan kami pada 3 Oktober 1993, atau sekitar 18 tahun lalu.
Ustadz pemandu haji sering mengatakan jika perkawinan kita ingin langgeng; ingin sakinah, mawaddah dan rahmah sampai kakek-nenek; ingin hidup "happily ever after" seperti akhir cerita dongeng Hans Christian Andersen; maka tulislah nama kita dan pasangan kita di tugu itu.
"Niscaya perkawinan akan bahagia selama-lamanya dan kita akan menjadi pasangan dunia dan akhirat,? kata sang Ustadz.
Amiiinnn?
(*Akhmad Kusaeni adalah Wakil Pemimpin Redaksi Antara)
Minggu, 23 Oktober 2011
Wartawan naik haji
oleh : Akhmad Kusaeni*
Jakarta (ANTARA News) - Seruan Nabi Ibrahim untuk melakukan ibadah haji terjawab tahun ini. Saya akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci Mekkah, Sabtu, setelah dua kali gagal memenuhi seruan itu pada tahun 1997 dan 2002.
Sebagai wartawan yang selama dua tahun berturut-turut mengikuti Safari Ramadhan dan Temu Kader Ketua Umum Golkar Harmoko ke lebih 350 kabupaten di Tanah Air, saya dihadiahi tiket untuk pergi haji tahun 1997. Umur saya waktu itu 33 tahun, masih sangat muda, dan belum kepikir untuk dipanggil dan menjalani hidup selayaknya "Pak Haji".
Waktu itu saya masih semangat-semangatnya menikmati "dunia" dan belum sepenuhnya mempersiapkan soal "akhirat".
Padahal, saya masih punya ibu yang sudah tua dan belum berhaji (Ayah saya almarhum sudah berhaji beberapa tahun sebelumnya). Lalu saya datang ke Harmoko dan meminta izin agar tiket haji yang diberikan kepada saya dialihkan ke Siti Manisah, ibu saya. Harmoko yang waktu itu juga Menteri Penerangan menyatakan ok, tidak keberatan. Maka berangkatlah ibu saya ke Tanah Suci berbekal tiket hadiah untuk saya.
Seruan kedua untuk pergi ke Baitullah datang pada tahun 2002. Wakil Ketua DPR A.M.Fatwa mengundang untuk mengikuti kunjungan kerja DPR ke Amerika Serikat, Kuba dan juga ke Saudi Arabia untuk melakukan ibadah haji. Kali itu saya menyambut seruan berhaji itu dengan gegap gempita. Umur saya sudah makin tua, 38 tahun. Saya sudah lebih relijius dan mulai memikirkan persiapan "akhirat".
Saya senang karena sudah bisa menunaikan rukun Islam yang kelima itu sebelum umur 40 tahun.
Namun apa daya tangan tak sampai. Seruan Nabi Ibrahim gagal terpenuhi. Saya terdampar di Havana, Kuba, karena persoalan visa. Dari San Fransisco, Amerika Serikat, rombongan DPR memang singgah ke Havana, Kuba. Dari situ mereka kembali ke San Fransisco dalam perjalanan menuju Saudi Arabia. Celakanya, visa saya ke Amerika Serikat hanya untuk satu kali masuk (one entry), sementara A.M. Fatwa dan rombongan DPR lainnya dapat visa masuk berkali-kali (multiple entries).
Terdampar di Kuba
Maka terdamparlah saya beberapa hari di negeri Fidel Castro tersebut. Atas bantuan diplomat dari KBRI Havana saya memang bisa masuk kembali ke Amerika Serikat. Namun masa haji sudah tak terkejar. Saya hanya bisa melakukan shalat Iedul Adha di Mesjid Indonesia New York, tempat saya menjadi salah satu pengurusnya pada periode 1998-2001 saat saya menjabat Kepala Biro Antara di Markas Besar PBB.
Sementara para jemaah haji tawaf di Masjidil Haram, saya tawaf di Times Square untuk mengenang masa-masa kejayaan "my good old days in the U.S.A.". Saya berkeliling di pusat hiburan itu sambil bersenandung lagu Frank Sinatra "New York, New York" pada saat para jemaah haji keliling Kabah dan mengucapkan talbiyah "Labaik Allahuma Labaik".
Begitu juga saat jemaah haji wukuf di Padang Arafah, saya malah wukuf di kawasan pecinan, Queens. Saya pernah malang melintang di Queens dan menjadi "King of the Hill" selama sekitar tiga tahun (1998-2001) di situ. Makanya tidak heran, jika orang dapat haji mabrur, saya dapat haji kabur.
Tapi, sekali lagi, saya orang yang beruntung. Setelah kegagalan berhaji tersebut, saya berkesempatan untuk dua kali melakukan ibadah umroh saat Ramadhan pada tahun 2006 dan 2008. Dua-duanya bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pada 2006, Jusuf Kalla mengadakan kunjungan ke Amerika Serikat dan pulangnya mampir ke Mekkah untuk berumroh. Inilah untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Subhanallah. Hati saya bergetar saat dengan mata kepala sendiri melihat Kabah yang selama ini hanya bisa saya lihat di gambar dan lukisan. Saya menangis ketika saya bisa memeluk Kabah dan tangan saya memegang kiswah, kain selimut Kabah. Konon setiap tahun kiswah itu diganti saat Kabah dicuci. Kain hitam bertuliskan huruf Arab dengan benang warna emas itu dipesan pemerintah Arab Saudi seharga sekitar Rp50 miliar.
Kabah ternyata hanya sebuah bangunan persegi dan kosong. Menurut Dr. Ali Shariati, bangunan ini terbuat dari batu-batu hitam keras yang tersusun dengan cara sangat sederhana, sedang sebagai penutup celah-celahnya dipergunakan kapur putih. Di dalam Kabah tidak ada keahlian arsitektural, keindahan, seni, atau prasasti kolosal.
Ketika berada di dekat Kabah, imajinasi-imajinasi visual saya tentang Kabah sebelumnya sangat berbeda dengan apa senyatanya yang saya saksikan. Saya pernah membayangkan Kabah itu seperti mahakarya arsitektur yang indah, dimana di dalamnya terkubur seorang tokoh manusia yang penting. Barangkali seorang pahlawan, seorang raja, jenius atau bahkan mungkin seorang nabi.
Ternyata di dalam Kabah itu tidak ada kuburan. Ternyata Kabah itu kosong belaka di dalamnya. Meminjam istilah Shariati, Kabah hanyalah sebuah tonggak penunjuk jalan. Arah dimana Muslim di seluruh dunia berpegang dalam menentukan kemana harus menghadap saat shalat. Kabah adalah arah kiblat. Itu saja.
Yang istimewa ada di sekitar Kabah adalah batu hitam yang disebut sebagai hajar aswad. Setiap muslim yang melakukan tawaf keliling Kabah selalu bermimpi dan berusaha untuk bisa mencium batu hitam itu. Ratusan ribu orang berebut untuk mendekati hajar aswad. Tidak setiap orang bisa mencium dan meraih batu tersebut.
Mencium hajar aswad
Pada kesempatan umrah kedua bersama Jusuf Kalla tahun 2008, saya beruntung bisa mendekati dan mencium hajar aswad dengan leluasa. Maklum saya termasuk rombongan Wakil Presiden yang menjadi tamu undangan Raja Saudi.
Askar-askar menjaga dan membantu kami satu persatu mendekat dan mencium batu hitam itu. Berkahnya lagi, ada fotografer yang diperbolehkan mengabadikan momen penting bersejarah, relijius dan emosional itu. Dengan bangga saya posting foto saya mencium hajar aswad itu di facebook. Juga di blog saya akusaeni.blogspot.com. Betul-betul narsis!
Di Multazam, antara pintu Kabah dan hajar aswad, dimana Allah menjanjikan semua doa yang dipanjatkan disitu ijabah, saya berdoa agar bisa kembali ke Baitullah pada musim haji beberapa tahun ke depan. Kalau bisa, gratis ya Allah. (Inilah pikiran nakal wartawan: kalau bisa cuma-cuma, kenapa mesti bayar sendiri).
Namun, hati saya haqul yakin kalau Allah akan mengabulkan doa "agak nakal" saya. Bukankah saya berdoa di Multazam, tempat dimana semua doa akan ijabah? Termasuk doa minta naik haji gratis?
Betul saja. Doa saya makbul. Allah memberi jalan agar saya, kini dalam usia 47 tahun, bisa menjawab seruan nabi Ibrahim tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri. Tahun ini, saya mewakili LKBN Antara untuk menjadi pengarah media Amirul Hajj, yaitu Menteri Agama Suryadharma Ali. Untuk itu saya ke Tanah Suci atas biaya dinas. Sebagai Haji Abidin (Atas Biaya Dinas), saya tetap harus bekerja. Saya bertugas membantu dan mengarahkan Media Center Haji (MCH) yang diperkuat sekitar 30 wartawan dari berbagai media.
Tidak banyak orang yang bisa menjadi pengarah media bagi Amirul Hajj. Musim haji tahun 2011 ini hanya tiga orang, yaitu Staf Ahli Menkominfo Dr. Henry Subiyakto, Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kementerian Agama Zubaidi, dan saya; Wakil Pemimpin Redaksi Perum LKBN Antara.
Sebagai wartawan saya wajib membuat berita dan menulis artikel selama perjalanan ibadah ini. Sepulang haji nanti, selain menjadi haji mabrur, saya juga berniat untuk membukukan berita dan artikel tersebut. Saya sudah punya judul bagus untuk buku itu. Kalau budayawan Danarto menulis buku ?Orang Jawa Naik Haji?, maka buku saya akan berjudul ?Wartawan Naik Haji?. Keren nggak?.
*(Akhmad Kusaeni adalah Wakil Pemimpin Redaksi LKBN Antara)
(A017/A011)
Jakarta (ANTARA News) - Seruan Nabi Ibrahim untuk melakukan ibadah haji terjawab tahun ini. Saya akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci Mekkah, Sabtu, setelah dua kali gagal memenuhi seruan itu pada tahun 1997 dan 2002.
Sebagai wartawan yang selama dua tahun berturut-turut mengikuti Safari Ramadhan dan Temu Kader Ketua Umum Golkar Harmoko ke lebih 350 kabupaten di Tanah Air, saya dihadiahi tiket untuk pergi haji tahun 1997. Umur saya waktu itu 33 tahun, masih sangat muda, dan belum kepikir untuk dipanggil dan menjalani hidup selayaknya "Pak Haji".
Waktu itu saya masih semangat-semangatnya menikmati "dunia" dan belum sepenuhnya mempersiapkan soal "akhirat".
Padahal, saya masih punya ibu yang sudah tua dan belum berhaji (Ayah saya almarhum sudah berhaji beberapa tahun sebelumnya). Lalu saya datang ke Harmoko dan meminta izin agar tiket haji yang diberikan kepada saya dialihkan ke Siti Manisah, ibu saya. Harmoko yang waktu itu juga Menteri Penerangan menyatakan ok, tidak keberatan. Maka berangkatlah ibu saya ke Tanah Suci berbekal tiket hadiah untuk saya.
Seruan kedua untuk pergi ke Baitullah datang pada tahun 2002. Wakil Ketua DPR A.M.Fatwa mengundang untuk mengikuti kunjungan kerja DPR ke Amerika Serikat, Kuba dan juga ke Saudi Arabia untuk melakukan ibadah haji. Kali itu saya menyambut seruan berhaji itu dengan gegap gempita. Umur saya sudah makin tua, 38 tahun. Saya sudah lebih relijius dan mulai memikirkan persiapan "akhirat".
Saya senang karena sudah bisa menunaikan rukun Islam yang kelima itu sebelum umur 40 tahun.
Namun apa daya tangan tak sampai. Seruan Nabi Ibrahim gagal terpenuhi. Saya terdampar di Havana, Kuba, karena persoalan visa. Dari San Fransisco, Amerika Serikat, rombongan DPR memang singgah ke Havana, Kuba. Dari situ mereka kembali ke San Fransisco dalam perjalanan menuju Saudi Arabia. Celakanya, visa saya ke Amerika Serikat hanya untuk satu kali masuk (one entry), sementara A.M. Fatwa dan rombongan DPR lainnya dapat visa masuk berkali-kali (multiple entries).
Terdampar di Kuba
Maka terdamparlah saya beberapa hari di negeri Fidel Castro tersebut. Atas bantuan diplomat dari KBRI Havana saya memang bisa masuk kembali ke Amerika Serikat. Namun masa haji sudah tak terkejar. Saya hanya bisa melakukan shalat Iedul Adha di Mesjid Indonesia New York, tempat saya menjadi salah satu pengurusnya pada periode 1998-2001 saat saya menjabat Kepala Biro Antara di Markas Besar PBB.
Sementara para jemaah haji tawaf di Masjidil Haram, saya tawaf di Times Square untuk mengenang masa-masa kejayaan "my good old days in the U.S.A.". Saya berkeliling di pusat hiburan itu sambil bersenandung lagu Frank Sinatra "New York, New York" pada saat para jemaah haji keliling Kabah dan mengucapkan talbiyah "Labaik Allahuma Labaik".
Begitu juga saat jemaah haji wukuf di Padang Arafah, saya malah wukuf di kawasan pecinan, Queens. Saya pernah malang melintang di Queens dan menjadi "King of the Hill" selama sekitar tiga tahun (1998-2001) di situ. Makanya tidak heran, jika orang dapat haji mabrur, saya dapat haji kabur.
Tapi, sekali lagi, saya orang yang beruntung. Setelah kegagalan berhaji tersebut, saya berkesempatan untuk dua kali melakukan ibadah umroh saat Ramadhan pada tahun 2006 dan 2008. Dua-duanya bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pada 2006, Jusuf Kalla mengadakan kunjungan ke Amerika Serikat dan pulangnya mampir ke Mekkah untuk berumroh. Inilah untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Subhanallah. Hati saya bergetar saat dengan mata kepala sendiri melihat Kabah yang selama ini hanya bisa saya lihat di gambar dan lukisan. Saya menangis ketika saya bisa memeluk Kabah dan tangan saya memegang kiswah, kain selimut Kabah. Konon setiap tahun kiswah itu diganti saat Kabah dicuci. Kain hitam bertuliskan huruf Arab dengan benang warna emas itu dipesan pemerintah Arab Saudi seharga sekitar Rp50 miliar.
Kabah ternyata hanya sebuah bangunan persegi dan kosong. Menurut Dr. Ali Shariati, bangunan ini terbuat dari batu-batu hitam keras yang tersusun dengan cara sangat sederhana, sedang sebagai penutup celah-celahnya dipergunakan kapur putih. Di dalam Kabah tidak ada keahlian arsitektural, keindahan, seni, atau prasasti kolosal.
Ketika berada di dekat Kabah, imajinasi-imajinasi visual saya tentang Kabah sebelumnya sangat berbeda dengan apa senyatanya yang saya saksikan. Saya pernah membayangkan Kabah itu seperti mahakarya arsitektur yang indah, dimana di dalamnya terkubur seorang tokoh manusia yang penting. Barangkali seorang pahlawan, seorang raja, jenius atau bahkan mungkin seorang nabi.
Ternyata di dalam Kabah itu tidak ada kuburan. Ternyata Kabah itu kosong belaka di dalamnya. Meminjam istilah Shariati, Kabah hanyalah sebuah tonggak penunjuk jalan. Arah dimana Muslim di seluruh dunia berpegang dalam menentukan kemana harus menghadap saat shalat. Kabah adalah arah kiblat. Itu saja.
Yang istimewa ada di sekitar Kabah adalah batu hitam yang disebut sebagai hajar aswad. Setiap muslim yang melakukan tawaf keliling Kabah selalu bermimpi dan berusaha untuk bisa mencium batu hitam itu. Ratusan ribu orang berebut untuk mendekati hajar aswad. Tidak setiap orang bisa mencium dan meraih batu tersebut.
Mencium hajar aswad
Pada kesempatan umrah kedua bersama Jusuf Kalla tahun 2008, saya beruntung bisa mendekati dan mencium hajar aswad dengan leluasa. Maklum saya termasuk rombongan Wakil Presiden yang menjadi tamu undangan Raja Saudi.
Askar-askar menjaga dan membantu kami satu persatu mendekat dan mencium batu hitam itu. Berkahnya lagi, ada fotografer yang diperbolehkan mengabadikan momen penting bersejarah, relijius dan emosional itu. Dengan bangga saya posting foto saya mencium hajar aswad itu di facebook. Juga di blog saya akusaeni.blogspot.com. Betul-betul narsis!
Di Multazam, antara pintu Kabah dan hajar aswad, dimana Allah menjanjikan semua doa yang dipanjatkan disitu ijabah, saya berdoa agar bisa kembali ke Baitullah pada musim haji beberapa tahun ke depan. Kalau bisa, gratis ya Allah. (Inilah pikiran nakal wartawan: kalau bisa cuma-cuma, kenapa mesti bayar sendiri).
Namun, hati saya haqul yakin kalau Allah akan mengabulkan doa "agak nakal" saya. Bukankah saya berdoa di Multazam, tempat dimana semua doa akan ijabah? Termasuk doa minta naik haji gratis?
Betul saja. Doa saya makbul. Allah memberi jalan agar saya, kini dalam usia 47 tahun, bisa menjawab seruan nabi Ibrahim tersebut tanpa harus mengeluarkan biaya sendiri. Tahun ini, saya mewakili LKBN Antara untuk menjadi pengarah media Amirul Hajj, yaitu Menteri Agama Suryadharma Ali. Untuk itu saya ke Tanah Suci atas biaya dinas. Sebagai Haji Abidin (Atas Biaya Dinas), saya tetap harus bekerja. Saya bertugas membantu dan mengarahkan Media Center Haji (MCH) yang diperkuat sekitar 30 wartawan dari berbagai media.
Tidak banyak orang yang bisa menjadi pengarah media bagi Amirul Hajj. Musim haji tahun 2011 ini hanya tiga orang, yaitu Staf Ahli Menkominfo Dr. Henry Subiyakto, Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kementerian Agama Zubaidi, dan saya; Wakil Pemimpin Redaksi Perum LKBN Antara.
Sebagai wartawan saya wajib membuat berita dan menulis artikel selama perjalanan ibadah ini. Sepulang haji nanti, selain menjadi haji mabrur, saya juga berniat untuk membukukan berita dan artikel tersebut. Saya sudah punya judul bagus untuk buku itu. Kalau budayawan Danarto menulis buku ?Orang Jawa Naik Haji?, maka buku saya akan berjudul ?Wartawan Naik Haji?. Keren nggak?.
*(Akhmad Kusaeni adalah Wakil Pemimpin Redaksi LKBN Antara)
(A017/A011)
"Soft power" dan masa depan industri strategis
"Soft power" dan masa depan industri strategis
oleh : Akhmad Kusaeni
Jakarta (ANTARA News) - Komisi VI DPR menyetujui alokasi dana sebesar Rp3 triliun pada APBN 2012 untuk mengembangkan industri strategis.
Dana berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) itu sebanyak Rp1 triliun dialokasikan bagi PT Dirgantara Indonesia, sedangkan sisanya diperuntukkan bagi empat BUMN lainnya seperti PT Pal Indonesia, PT Pindad, PT Merpati Nusantara dab PT Industri Kapal Indonesia. Masing-masing BUMN "strategis" itu kebagian sekitar Rp500 miliar.
Sementara, Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara yang juga berada di bawah koordinasi Deputi Menteri BUMN bidang Industri Strategis terancam tidak mendapat dana PMN.
Konon tidak dialokasikannya dana PMN untuk Perum Antara, karena kantor berita nasional yang didirikan oleh para pendiri bangsa itu dianggap "bukan industri strategis" atau "belum betul-betul strategis".
Inilah salah kaprah dalam membaca masa depan industri strategis. Pengalokasian dana PMN tersebut jelas menunjukkan bahwa kita masih melihat dan mengutamakan industri strategis itu sebagai "hard power", dan bukan sebagai "soft power".
Padahal, masa depan industri strategis terletak bukan lagi pada kekuatan militer dan senjata, tetapi kepada kekuatan penguasaan informasi dan penyebarluasan ide, gagasan, nilai-nilai, dan kebudayaan.
Guru Besar Ilmu Politik Internasional dari Universitas Harvard Joseph S. Nye Jr membedakan antara kekuatan keras ("hard power") dan kekuatan lembut ("soft power"). "Hard power" adalah kekuatan memaksa pihak lain untuk mengikuti keinginan kita dengan kekuatan senjata. Sedangkan "soft power" adalah kekuatan untuk menarik pihak lain untuk mengikuti keinginan kita dengan sukarela tanpa paksaan dan tekanan.
Nye mengatakan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku pihak lain sesuai kemauan kita. Ada sejumlah cara untuk mempengaruhi perilaku pihak lain. Kita bisa memaksa mereka dengan ancaman. Kita bisa membeli pengaruh dengan memberi bantuan. Atau kita bisa menarik dan mengkooptasi mereka.
Kadang-kadang kita bisa mempengaruhi perilaku orang lain tanpa memerintahkannya sama sekali. Jika orang percaya bahwa tujuan kita benar, maka kita bisa mempengaruhi pihak lain tanpa ancaman atau bujukan dan pemberian bantuan.
Sebagai contoh, Muslim radikal tertarik dengan Osama bin Laden bukan karena ancaman atau bujukan, tapi mereka percaya apa yang diperjuangkan Obama itu benar.
"Hard power" telah gagal
Satu hal yang tidak dimengerti AS adalah fakta bahwa negeri itu merupakan satu-satu adidaya di dunia pada 2001, namun AS tidak berdaya mencegah serangan 11 September. Artinya: kekuatan militer, kekuatan senjata, yang disebut sebagai "hard power", telah gagal untuk membendung kebencian terhadap bangsa Amerika.
Oleh karena itu, setelah 9/11 banyak pihak menoleh pada kekuatan non-militer dan non-persenjataan untuk bisa meredam permusuhan terhadap AS. Para pengambil kebijakan dan para pakar kemudian mencari cara tidak langsung agar pihak-pihak yang memusuhi AS bisa dikooptasi.
Cara tidak langsung itu sering disebut sebagai "wajah lain dari kekuatan", bukan yang keras, tapi yang lembut.
Sebuah negara bisa memberi pengaruh di dunia untuk mengikutinya karena negara-negara lain memuja nilai-nilai, karakter, dan budayanya yang dianggap ideal dan menarik untuk diteladani. Itulah yang kemudian dikenal sebagai "soft power", yakni bagaimana pihak lain mengikuti apa yang kita inginkan dengan cara mengkooptasi mereka dan bukannya dengan memaksa mereka.
Pada era globalisasi sekarang ini peran "soft power" makin meningkat ketimbang "hard power". Siapapun yang ingin memenangi abad informasi harus memiliki dan menguasai berbagai macam saluran komunikasi untuk membantu mengemas isu dan mengembangkan agenda.
Informasi adalah kekuatan dan saat ini sebagian besar masyarakat sudah mendapat akses terhadap kekuatan itu. Kemajuan teknologi membawa kepada pengurangan yang dramatik dari biaya tranmisi informasi. Komunikasi dan informasi menjadi murah dan terjangkau. Akibatnya terjadi ledakan informasi dan melahirkan apa yang disebut "paradox of plenty".
Manakala masyarakat dibanjiri informasi yang melimpah ruah, mereka sulit untuk fokus. Informasi melimpah ruah namun perhatian malah yang kini menjadi susah dan langka. Mereka yang bisa membedakan mana informasi yang bernilai dari riuh rendahnya informasi sampah, maka dialah yang memperoleh kekuatan.
Pada titik itu, maka peran dari kantor berita Antara yang bisa memilah informasi yang bernilai dari sampah informasi yang membludak menjadi sangat penting.
Selama ini kita menjadi bangsa yang gaduh dan ribut. "Agenda setting" media dan ruang publik didominasi oleh aktor-aktor yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan nasional. Media cetak, online, radio dan televisi riuh rendah mengangkat persoalan-persoalan yang sepertinya masalah besar, genting dan krusial, namun tidak menyentuh kepentingan rakyat di berbagai peloksok Tanah Air.
Kita menjadi bangsa yang senang memperolok pemimpinnya sendiri, menghujat lembaga-lembaga negara, mengatakan kejaksaan, kepolisian, pengadilan sebagai bobrok dan tidak dipercaya. Kalau rakyat tidak percaya lagi kepada pemerintah, DPR, pengadilan atau KPK, mau jadi bangsa apa kita. Mungkin saja ada pejabat yang korupsi, hakim yang disuap, atau jaksa yang dibeli. Tapi masih banyak pejabat, hakim dan jaksa yang bersih namun itu tidak diceritakan sehingga masyarakat menggeneralisir.
Antara adalah soft power
Di sinilah letak penting Kantor Berita Antara untuk menceritakan yang tidak diceritakan. Di sinilah strategisnya Kantor Berita Antara untuk menyampaikan apa-apa yang sudah dicapai dan belum dicapai oleh semua pemangku kepentingan negara ini dari mulai eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Sebaliknya juga mendengar dan melaporkan apa yang hidup dalam suasana kebatinan masyarakat, apa kebutuhan mereka, masalah mereka, aspirasi mereka.
Disitulah letak strategisnya Kantor Berita Antara sebagai "soft power" yang bisa menjembatani hubungan antar lembaga negara, pemerintah dan rakyat, menjaga kohesi bangsa, persatuan dan kesatuan. Dengan menyajikan informasi berita teks, foto, video dengan titik pandang kepentingan nasional dan NKRI sebagai harga mati.
Sebagai kantor berita nasional, kebijakan redaksi Kantor Berita Antara adalah "mission-driven", yaitu Antara akan menyiarkan kabar baik, tapi bukan yang baik-baik saja.
Jadi, mengabaikan peranan Kantor Berita Antara sebagai industri strategis adalah sebuah kekeliruan. Kantor Berita Antara adalah kekuatan lembut yang makin penting peranannya di masa kini dan masa depan.
Dahulu kekuatan politik di dunia didasarkan pada hukum besi bahwa siapa yang kuat secara militer dan ekonomi dia yang menang. Kini, pertarungan politik di abad informasi akan didasarkan pada hukum besi: cerita siapa yang menang. Pendek kata, di abad informasi "soft power" lebih efektif daripada "hard power"!
Kekuatan militer dan senjata AS memang bisa malang melintang menyerang Afghanistan dan Irak. Tapi justru "hard power" tersebut membuat kekuatan lembut AS (nilai-nilai, karakter, budaya) yang disebut "soft power" itu anjlok.
AS menjadi negara yang paling dibenci dan paling banyak menjadi sasaran teroris.
Inilah paradok kekuatan Amerika Serikat. Kekuatan militernya sudah tidak dipertanyakan lagi: pasukan AS digelar di 130 negara di seluruh penjuru dunia. Tidak ada kekuatan tentara lain yang berani menantang untuk perang dengan AS. Namun, sejalan dengan kekuatan militer AS yang terus meningkat, kemampuan AS untuk memberikan pengaruh justru pada titik paling nadir di banyak bagian dunia, bahkan di negara-negara sekutunya sendiri.
Untuk mengoreksi kesalahannya tersebut, kini AS berpaling mengembangkan kekuatan lembutnya. Jika AS merombak kebijakannya dari "hard power" ke "soft power", mengapa Indonesia justru lebih mengembangkan "hard power" ketimbang "soft power"-nya.
Terakhir, saya ingin mengutip kata-kata bijak dari Joseph S. Nye Jr berikut ini: "Pemimpin harus membuat keputusan krusial mengenai tipe kekuatan yang mereka gunakan".
Dalam berbagai kesempatan, futurolog ini selalu mengatakan: "Ini eranya soft power bung!"
*) Akhmad Kusaeni adalah Wakil Pemimpin Redaksi LKBN Antara.
(T.A017/010)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011
oleh : Akhmad Kusaeni
Jakarta (ANTARA News) - Komisi VI DPR menyetujui alokasi dana sebesar Rp3 triliun pada APBN 2012 untuk mengembangkan industri strategis.
Dana berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) itu sebanyak Rp1 triliun dialokasikan bagi PT Dirgantara Indonesia, sedangkan sisanya diperuntukkan bagi empat BUMN lainnya seperti PT Pal Indonesia, PT Pindad, PT Merpati Nusantara dab PT Industri Kapal Indonesia. Masing-masing BUMN "strategis" itu kebagian sekitar Rp500 miliar.
Sementara, Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara yang juga berada di bawah koordinasi Deputi Menteri BUMN bidang Industri Strategis terancam tidak mendapat dana PMN.
Konon tidak dialokasikannya dana PMN untuk Perum Antara, karena kantor berita nasional yang didirikan oleh para pendiri bangsa itu dianggap "bukan industri strategis" atau "belum betul-betul strategis".
Inilah salah kaprah dalam membaca masa depan industri strategis. Pengalokasian dana PMN tersebut jelas menunjukkan bahwa kita masih melihat dan mengutamakan industri strategis itu sebagai "hard power", dan bukan sebagai "soft power".
Padahal, masa depan industri strategis terletak bukan lagi pada kekuatan militer dan senjata, tetapi kepada kekuatan penguasaan informasi dan penyebarluasan ide, gagasan, nilai-nilai, dan kebudayaan.
Guru Besar Ilmu Politik Internasional dari Universitas Harvard Joseph S. Nye Jr membedakan antara kekuatan keras ("hard power") dan kekuatan lembut ("soft power"). "Hard power" adalah kekuatan memaksa pihak lain untuk mengikuti keinginan kita dengan kekuatan senjata. Sedangkan "soft power" adalah kekuatan untuk menarik pihak lain untuk mengikuti keinginan kita dengan sukarela tanpa paksaan dan tekanan.
Nye mengatakan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku pihak lain sesuai kemauan kita. Ada sejumlah cara untuk mempengaruhi perilaku pihak lain. Kita bisa memaksa mereka dengan ancaman. Kita bisa membeli pengaruh dengan memberi bantuan. Atau kita bisa menarik dan mengkooptasi mereka.
Kadang-kadang kita bisa mempengaruhi perilaku orang lain tanpa memerintahkannya sama sekali. Jika orang percaya bahwa tujuan kita benar, maka kita bisa mempengaruhi pihak lain tanpa ancaman atau bujukan dan pemberian bantuan.
Sebagai contoh, Muslim radikal tertarik dengan Osama bin Laden bukan karena ancaman atau bujukan, tapi mereka percaya apa yang diperjuangkan Obama itu benar.
"Hard power" telah gagal
Satu hal yang tidak dimengerti AS adalah fakta bahwa negeri itu merupakan satu-satu adidaya di dunia pada 2001, namun AS tidak berdaya mencegah serangan 11 September. Artinya: kekuatan militer, kekuatan senjata, yang disebut sebagai "hard power", telah gagal untuk membendung kebencian terhadap bangsa Amerika.
Oleh karena itu, setelah 9/11 banyak pihak menoleh pada kekuatan non-militer dan non-persenjataan untuk bisa meredam permusuhan terhadap AS. Para pengambil kebijakan dan para pakar kemudian mencari cara tidak langsung agar pihak-pihak yang memusuhi AS bisa dikooptasi.
Cara tidak langsung itu sering disebut sebagai "wajah lain dari kekuatan", bukan yang keras, tapi yang lembut.
Sebuah negara bisa memberi pengaruh di dunia untuk mengikutinya karena negara-negara lain memuja nilai-nilai, karakter, dan budayanya yang dianggap ideal dan menarik untuk diteladani. Itulah yang kemudian dikenal sebagai "soft power", yakni bagaimana pihak lain mengikuti apa yang kita inginkan dengan cara mengkooptasi mereka dan bukannya dengan memaksa mereka.
Pada era globalisasi sekarang ini peran "soft power" makin meningkat ketimbang "hard power". Siapapun yang ingin memenangi abad informasi harus memiliki dan menguasai berbagai macam saluran komunikasi untuk membantu mengemas isu dan mengembangkan agenda.
Informasi adalah kekuatan dan saat ini sebagian besar masyarakat sudah mendapat akses terhadap kekuatan itu. Kemajuan teknologi membawa kepada pengurangan yang dramatik dari biaya tranmisi informasi. Komunikasi dan informasi menjadi murah dan terjangkau. Akibatnya terjadi ledakan informasi dan melahirkan apa yang disebut "paradox of plenty".
Manakala masyarakat dibanjiri informasi yang melimpah ruah, mereka sulit untuk fokus. Informasi melimpah ruah namun perhatian malah yang kini menjadi susah dan langka. Mereka yang bisa membedakan mana informasi yang bernilai dari riuh rendahnya informasi sampah, maka dialah yang memperoleh kekuatan.
Pada titik itu, maka peran dari kantor berita Antara yang bisa memilah informasi yang bernilai dari sampah informasi yang membludak menjadi sangat penting.
Selama ini kita menjadi bangsa yang gaduh dan ribut. "Agenda setting" media dan ruang publik didominasi oleh aktor-aktor yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan nasional. Media cetak, online, radio dan televisi riuh rendah mengangkat persoalan-persoalan yang sepertinya masalah besar, genting dan krusial, namun tidak menyentuh kepentingan rakyat di berbagai peloksok Tanah Air.
Kita menjadi bangsa yang senang memperolok pemimpinnya sendiri, menghujat lembaga-lembaga negara, mengatakan kejaksaan, kepolisian, pengadilan sebagai bobrok dan tidak dipercaya. Kalau rakyat tidak percaya lagi kepada pemerintah, DPR, pengadilan atau KPK, mau jadi bangsa apa kita. Mungkin saja ada pejabat yang korupsi, hakim yang disuap, atau jaksa yang dibeli. Tapi masih banyak pejabat, hakim dan jaksa yang bersih namun itu tidak diceritakan sehingga masyarakat menggeneralisir.
Antara adalah soft power
Di sinilah letak penting Kantor Berita Antara untuk menceritakan yang tidak diceritakan. Di sinilah strategisnya Kantor Berita Antara untuk menyampaikan apa-apa yang sudah dicapai dan belum dicapai oleh semua pemangku kepentingan negara ini dari mulai eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Sebaliknya juga mendengar dan melaporkan apa yang hidup dalam suasana kebatinan masyarakat, apa kebutuhan mereka, masalah mereka, aspirasi mereka.
Disitulah letak strategisnya Kantor Berita Antara sebagai "soft power" yang bisa menjembatani hubungan antar lembaga negara, pemerintah dan rakyat, menjaga kohesi bangsa, persatuan dan kesatuan. Dengan menyajikan informasi berita teks, foto, video dengan titik pandang kepentingan nasional dan NKRI sebagai harga mati.
Sebagai kantor berita nasional, kebijakan redaksi Kantor Berita Antara adalah "mission-driven", yaitu Antara akan menyiarkan kabar baik, tapi bukan yang baik-baik saja.
Jadi, mengabaikan peranan Kantor Berita Antara sebagai industri strategis adalah sebuah kekeliruan. Kantor Berita Antara adalah kekuatan lembut yang makin penting peranannya di masa kini dan masa depan.
Dahulu kekuatan politik di dunia didasarkan pada hukum besi bahwa siapa yang kuat secara militer dan ekonomi dia yang menang. Kini, pertarungan politik di abad informasi akan didasarkan pada hukum besi: cerita siapa yang menang. Pendek kata, di abad informasi "soft power" lebih efektif daripada "hard power"!
Kekuatan militer dan senjata AS memang bisa malang melintang menyerang Afghanistan dan Irak. Tapi justru "hard power" tersebut membuat kekuatan lembut AS (nilai-nilai, karakter, budaya) yang disebut "soft power" itu anjlok.
AS menjadi negara yang paling dibenci dan paling banyak menjadi sasaran teroris.
Inilah paradok kekuatan Amerika Serikat. Kekuatan militernya sudah tidak dipertanyakan lagi: pasukan AS digelar di 130 negara di seluruh penjuru dunia. Tidak ada kekuatan tentara lain yang berani menantang untuk perang dengan AS. Namun, sejalan dengan kekuatan militer AS yang terus meningkat, kemampuan AS untuk memberikan pengaruh justru pada titik paling nadir di banyak bagian dunia, bahkan di negara-negara sekutunya sendiri.
Untuk mengoreksi kesalahannya tersebut, kini AS berpaling mengembangkan kekuatan lembutnya. Jika AS merombak kebijakannya dari "hard power" ke "soft power", mengapa Indonesia justru lebih mengembangkan "hard power" ketimbang "soft power"-nya.
Terakhir, saya ingin mengutip kata-kata bijak dari Joseph S. Nye Jr berikut ini: "Pemimpin harus membuat keputusan krusial mengenai tipe kekuatan yang mereka gunakan".
Dalam berbagai kesempatan, futurolog ini selalu mengatakan: "Ini eranya soft power bung!"
*) Akhmad Kusaeni adalah Wakil Pemimpin Redaksi LKBN Antara.
(T.A017/010)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2011
Langganan:
Postingan (Atom)