Minggu, 23 Oktober 2011

"Soft power" dan masa depan industri strategis

"Soft power" dan masa depan industri strategis
oleh : Akhmad Kusaeni


Jakarta (ANTARA News) - Komisi VI DPR menyetujui alokasi dana sebesar Rp3 triliun pada APBN 2012 untuk mengembangkan industri strategis.

Dana berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) itu sebanyak Rp1 triliun dialokasikan bagi PT Dirgantara Indonesia, sedangkan sisanya diperuntukkan bagi empat BUMN lainnya seperti PT Pal Indonesia, PT Pindad, PT Merpati Nusantara dab PT Industri Kapal Indonesia. Masing-masing BUMN "strategis" itu kebagian sekitar Rp500 miliar.

Sementara, Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara yang juga berada di bawah koordinasi Deputi Menteri BUMN bidang Industri Strategis terancam tidak mendapat dana PMN.

Konon tidak dialokasikannya dana PMN untuk Perum Antara, karena kantor berita nasional yang didirikan oleh para pendiri bangsa itu dianggap "bukan industri strategis" atau "belum betul-betul strategis".

Inilah salah kaprah dalam membaca masa depan industri strategis. Pengalokasian dana PMN tersebut jelas menunjukkan bahwa kita masih melihat dan mengutamakan industri strategis itu sebagai "hard power", dan bukan sebagai "soft power".

Padahal, masa depan industri strategis terletak bukan lagi pada kekuatan militer dan senjata, tetapi kepada kekuatan penguasaan informasi dan penyebarluasan ide, gagasan, nilai-nilai, dan kebudayaan.

Guru Besar Ilmu Politik Internasional dari Universitas Harvard Joseph S. Nye Jr membedakan antara kekuatan keras ("hard power") dan kekuatan lembut ("soft power"). "Hard power" adalah kekuatan memaksa pihak lain untuk mengikuti keinginan kita dengan kekuatan senjata. Sedangkan "soft power" adalah kekuatan untuk menarik pihak lain untuk mengikuti keinginan kita dengan sukarela tanpa paksaan dan tekanan.

Nye mengatakan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi perilaku pihak lain sesuai kemauan kita. Ada sejumlah cara untuk mempengaruhi perilaku pihak lain. Kita bisa memaksa mereka dengan ancaman. Kita bisa membeli pengaruh dengan memberi bantuan. Atau kita bisa menarik dan mengkooptasi mereka.

Kadang-kadang kita bisa mempengaruhi perilaku orang lain tanpa memerintahkannya sama sekali. Jika orang percaya bahwa tujuan kita benar, maka kita bisa mempengaruhi pihak lain tanpa ancaman atau bujukan dan pemberian bantuan.

Sebagai contoh, Muslim radikal tertarik dengan Osama bin Laden bukan karena ancaman atau bujukan, tapi mereka percaya apa yang diperjuangkan Obama itu benar.


"Hard power" telah gagal

Satu hal yang tidak dimengerti AS adalah fakta bahwa negeri itu merupakan satu-satu adidaya di dunia pada 2001, namun AS tidak berdaya mencegah serangan 11 September. Artinya: kekuatan militer, kekuatan senjata, yang disebut sebagai "hard power", telah gagal untuk membendung kebencian terhadap bangsa Amerika.

Oleh karena itu, setelah 9/11 banyak pihak menoleh pada kekuatan non-militer dan non-persenjataan untuk bisa meredam permusuhan terhadap AS. Para pengambil kebijakan dan para pakar kemudian mencari cara tidak langsung agar pihak-pihak yang memusuhi AS bisa dikooptasi.

Cara tidak langsung itu sering disebut sebagai "wajah lain dari kekuatan", bukan yang keras, tapi yang lembut.

Sebuah negara bisa memberi pengaruh di dunia untuk mengikutinya karena negara-negara lain memuja nilai-nilai, karakter, dan budayanya yang dianggap ideal dan menarik untuk diteladani. Itulah yang kemudian dikenal sebagai "soft power", yakni bagaimana pihak lain mengikuti apa yang kita inginkan dengan cara mengkooptasi mereka dan bukannya dengan memaksa mereka.

Pada era globalisasi sekarang ini peran "soft power" makin meningkat ketimbang "hard power". Siapapun yang ingin memenangi abad informasi harus memiliki dan menguasai berbagai macam saluran komunikasi untuk membantu mengemas isu dan mengembangkan agenda.

Informasi adalah kekuatan dan saat ini sebagian besar masyarakat sudah mendapat akses terhadap kekuatan itu. Kemajuan teknologi membawa kepada pengurangan yang dramatik dari biaya tranmisi informasi. Komunikasi dan informasi menjadi murah dan terjangkau. Akibatnya terjadi ledakan informasi dan melahirkan apa yang disebut "paradox of plenty".

Manakala masyarakat dibanjiri informasi yang melimpah ruah, mereka sulit untuk fokus. Informasi melimpah ruah namun perhatian malah yang kini menjadi susah dan langka. Mereka yang bisa membedakan mana informasi yang bernilai dari riuh rendahnya informasi sampah, maka dialah yang memperoleh kekuatan.

Pada titik itu, maka peran dari kantor berita Antara yang bisa memilah informasi yang bernilai dari sampah informasi yang membludak menjadi sangat penting.

Selama ini kita menjadi bangsa yang gaduh dan ribut. "Agenda setting" media dan ruang publik didominasi oleh aktor-aktor yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan nasional. Media cetak, online, radio dan televisi riuh rendah mengangkat persoalan-persoalan yang sepertinya masalah besar, genting dan krusial, namun tidak menyentuh kepentingan rakyat di berbagai peloksok Tanah Air.

Kita menjadi bangsa yang senang memperolok pemimpinnya sendiri, menghujat lembaga-lembaga negara, mengatakan kejaksaan, kepolisian, pengadilan sebagai bobrok dan tidak dipercaya. Kalau rakyat tidak percaya lagi kepada pemerintah, DPR, pengadilan atau KPK, mau jadi bangsa apa kita. Mungkin saja ada pejabat yang korupsi, hakim yang disuap, atau jaksa yang dibeli. Tapi masih banyak pejabat, hakim dan jaksa yang bersih namun itu tidak diceritakan sehingga masyarakat menggeneralisir.


Antara adalah soft power

Di sinilah letak penting Kantor Berita Antara untuk menceritakan yang tidak diceritakan. Di sinilah strategisnya Kantor Berita Antara untuk menyampaikan apa-apa yang sudah dicapai dan belum dicapai oleh semua pemangku kepentingan negara ini dari mulai eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Sebaliknya juga mendengar dan melaporkan apa yang hidup dalam suasana kebatinan masyarakat, apa kebutuhan mereka, masalah mereka, aspirasi mereka.

Disitulah letak strategisnya Kantor Berita Antara sebagai "soft power" yang bisa menjembatani hubungan antar lembaga negara, pemerintah dan rakyat, menjaga kohesi bangsa, persatuan dan kesatuan. Dengan menyajikan informasi berita teks, foto, video dengan titik pandang kepentingan nasional dan NKRI sebagai harga mati.

Sebagai kantor berita nasional, kebijakan redaksi Kantor Berita Antara adalah "mission-driven", yaitu Antara akan menyiarkan kabar baik, tapi bukan yang baik-baik saja.

Jadi, mengabaikan peranan Kantor Berita Antara sebagai industri strategis adalah sebuah kekeliruan. Kantor Berita Antara adalah kekuatan lembut yang makin penting peranannya di masa kini dan masa depan.

Dahulu kekuatan politik di dunia didasarkan pada hukum besi bahwa siapa yang kuat secara militer dan ekonomi dia yang menang. Kini, pertarungan politik di abad informasi akan didasarkan pada hukum besi: cerita siapa yang menang. Pendek kata, di abad informasi "soft power" lebih efektif daripada "hard power"!

Kekuatan militer dan senjata AS memang bisa malang melintang menyerang Afghanistan dan Irak. Tapi justru "hard power" tersebut membuat kekuatan lembut AS (nilai-nilai, karakter, budaya) yang disebut "soft power" itu anjlok.

AS menjadi negara yang paling dibenci dan paling banyak menjadi sasaran teroris.

Inilah paradok kekuatan Amerika Serikat. Kekuatan militernya sudah tidak dipertanyakan lagi: pasukan AS digelar di 130 negara di seluruh penjuru dunia. Tidak ada kekuatan tentara lain yang berani menantang untuk perang dengan AS. Namun, sejalan dengan kekuatan militer AS yang terus meningkat, kemampuan AS untuk memberikan pengaruh justru pada titik paling nadir di banyak bagian dunia, bahkan di negara-negara sekutunya sendiri.

Untuk mengoreksi kesalahannya tersebut, kini AS berpaling mengembangkan kekuatan lembutnya. Jika AS merombak kebijakannya dari "hard power" ke "soft power", mengapa Indonesia justru lebih mengembangkan "hard power" ketimbang "soft power"-nya.

Terakhir, saya ingin mengutip kata-kata bijak dari Joseph S. Nye Jr berikut ini: "Pemimpin harus membuat keputusan krusial mengenai tipe kekuatan yang mereka gunakan".

Dalam berbagai kesempatan, futurolog ini selalu mengatakan: "Ini eranya soft power bung!"

*) Akhmad Kusaeni adalah Wakil Pemimpin Redaksi LKBN Antara.

(T.A017/010)
Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2011

Senin, 25 Juli 2011

Sudi Di Mata Presiden

Jakarta (ANTARA News) - Salah satu orang terdekat Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono setelah Ibu Negara Ani Yudhoyono adalah Sudi Silalahi.

Menteri Sekretaris Negara itu selalu tampak hadir pada setiap acara SBY. Ia nyaris bagaikan bayangan Kepala Negara. Di mana ada SBY, di situ ada Sudi.

Sering terdengar sindiran orang yang mengatakan bahwa Sudi dipilih menjadi pembantu dekat Presiden karena "menempel terus". Ia selalu siap menjadi bemper-nya SBY.

Ada juga yang menuding kedekatan Jenderal Batak itu dengan Presiden karena Sudi adalah sosok "pembebek", hanya Asal SBY Senang (ABS). Apakah benar demikian? Bagaimana sebetulnya pandangan SBY terhadap Sudi Silalahi?

Ternyata di mata SBY, Sudi adalah sosok pekerja keras, relijius dan setia.

"Mas Sudi bukan tipe pembebek. Pandangan itu keliru, dan juga menyakitkan," begitu tulis SBY dalam kata pengantar buku biografi Sudi Silalahi yang berjudul "Jenderal Batak dari Tanah Jawa".

Buku setebal 302 halaman itu diluncurkan Sabtu malam (16/7), di rumah dinas Sudi, di Jl.Widya Chandra, Jakarta dan dihadiri oleh keluarga, kerabat dekat dan para sahabatnya.

Keistimewaan tersendiri buku ini adalah diberi kata pengantar oleh Presiden. Tidak banyak buku yang punya kemewahan seperti buku Sudi ini. Tidak banyak pula kemewahan bagi Presiden yang super sibuk jadwal acaranya masih meluangkan waktu untuk menulis kata pengantar.

"Bahkan ketika Mas Sudi sebenarnya tidak meminta untuk itu, karena takut dipolitikkan atau dicurigai macam-macam, saya sampaikan bahwa secara moral wajib bagi saya untuk memberikan pengantar dalam buku ini," kata SBY.

Pernyataan tersebut membuktikan betapa dekat seorang Sudi dengan Presiden.

Presiden pertama kali mengenal sosok Sudi Silalahi ketika SBY masih menjadi Taruna Akademi Militer 40 tahun yang lalu. Waktu itu SBY seorang sersan taruna, sedangkan Sudi sudah berpangkat sersan mayor dua taruna, atau satu tingkat lebih tinggi dari pangkat SBY.

Saat itu, "kuliah" di Akademi Militer masih empat tahun, belakangan cuma tiga tahun saja. Sejak saat itu, SBY dan Sudi ditakdirkan untuk sering menjalankan tugas dan amanah secara bersama.



Merasa cocok

Dalam kata pengantar yang ditulis di Cikeas pada 3 Juli 2011 itu, SBY menjelaskan mengapa dia merasa cocok dan klop bekerja dengan Sudi Silalahi.

Pertama, keduanya merasa memiliki idealisme dan impian indah tentang negara ini. Mereka, sebagaimana rakyat Indonesia, ingin betul negeri ini terus berkembang menjadi negara yang maju, modern, adil dan makmur.

"Kami tahu perjalanan ke arah itu akan sangat panjang, serta rintangan dan tantangannya pun amat berat. Tapi kami merasa yakin, dengan ikhtiar dan pertolongan Allah kita akan sampai pada Indonesia yang kita cita-citakan itu," tutur SBY.

Kedua, SBY melihat pribadi Sudi sebagai pribadi yang setia, yang tidak memiliki agenda tersembunyi. Dalam politik dan pemerintahan, kesetiaan sebagai elemen dari integritas seseorang adalah sungguh sangat penting.

"Mas Sudi bukan tipe 'pembebek', karena sesungguhnya juga seorang yang rasional. Oleh karena itu, ketika mas Sudi sungguh meyakini bahwa keputusan, solusi dan kebijakan yang saya ambil dalam berbagai bidang adalah tepat dan realistik, maka tidak pernah saya lihat keraguan ataupun niat untuk tidak menjalankannya," kata SBY yang memanggil Sudi yang orang Batak dengan panggilan "mas" (panggilan kepada orang Jawa).

SBY mengakui, banyak saran mas Sudi yang ia perhatikan dan dengarkan. "Tetapi, ketika keputusan sudah saya ambil, saya ketahui mas Sudi baik sebagai Sesmenko Polkam, sebagai Seskab maupun sebagai Mensesneg, segera menjalankannya dengan sepenuh hati," kata SBY lagi.

Sebagai seorang menteri, Sudi tahu bahwa setelah sebuah masalah diputuskan dan ditentukan solusinya, maka tanggung jawab telah beralih ke Presiden.

Dalam menjalankan instruksi, keputusan, dan kebijakan SBY, Sudi tidak pernah menghitung untung-rugi, termasuk dari segi politik untuk dirinya.

"Ini sesungguhnya, merupakan etika politik yang mesti dimiliki oleh siapapun yang menjadi pembantu Presiden," puji SBY.



Pekerja keras

Kelebihan Sudi yang lain menurut SBY adalah sikapnya yang responsif dan pekerja keras.

Jam berapa pun SBY hubungi, entah subuh atau tengah malam, keduanya selalu bisa berkomunikasi. Ketika SBY minta untuk menyelesaikan sesuatu, atau menyampaikan sesuatu kepada anggota Kabinet yang lain, tanpa menunggu waktu, tugas itu langsung dilaksanakan. Semua pekerjaaan selesai dengan tuntas. Konklusif.

"Soal bekerja keras, kami berdua ini seperti dalam bahasa Jawa: 'tumbu oleh tutup' yang artinya cocok atau klop," SBY mengakui.

SBY merasa sreg bekerja dengan Sudi karena cocok dalam pengelolaan administrasi, utamanya administrasi keuangan.

"Doktrin kami berdua keras soal ini. Satu rupiah pun kalau uang negara harus dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya," kata SBY lagi.

Tentu saja, SBY juga mengakui sebagai manusia tentu Sudi ada kekurangan dan ketidaksempurnaannya. Tetapi, dengan tulus SBY mengatakan bahwa seorang Jenderal Batak dari Tanah Jawa, yang bernama Sudi Silalahi, memang punya banyak kelebihan.

"Saya bersyukur sebagai sahabat dekat Mas Sudi," demikian kata SBY di akhir Kata Pengantarnya.

COPYRIGHT © 2011

http://www.antaranews.com/berita/1311153687/sudi-di-mata-presiden

Minggu, 24 April 2011

Justin Bieber : Kemashuran via Youtube

Jakarta (ANTARA News) - Internet, khususnya YouTube, berada dibalik kemashuran penyanyi Justin Bieber yang baru saja menghibur sepuluh ribu penggemarnya di Indonesia dalam My World Tour konser di Sentul International Convention Center, Sabtu malam (23/4).

Video rumahan buatan ibunya di tahun 2007 adalah awal mula perjalananan karir penyanyi remaja asal Kanada ini. Seperti rekaman yang ditayangkan di tiga layar besar di tengah konser, Justin sejak umur dua tahun sudah senang menyanyi, menabuh drum, memetik gitar dan tentu saja berjoget dengan gerakan-gerakan lincah dan lucu ala seorang bocah.

Di kelas kelompok bermain para bocah, Justin tampak sudah merdu sekali menyanyikan lagu "ABCD EFG". Ia tampak senang bernyanyi di depan sorotan kamera amatir ibunya.

"Mama, aku mau tampil di televisi," katanya dengan suara cadel menggemaskan kepada ibunya Patricia Lynn Mallette.


Justin lahir di Strartford, Ontario, Kanada, 1 Maret 1994.

Pada usia 12 tahun, Justin mengikuti kontes menyanyi di kotanya, Stratford, dan memenangkan juara kedua. Sejak itu sang ibu mulai mendokumentasikan penampilannya dan mengunggahnya di YouTube, untuk teman-teman, saudara dan handai taulan yang tak sempat melihatnya tampil.

Pada beberapa videonya, Justin menyanyikan lagu-lagu beberapa penyanyi ternama seperti Usher, Justin Timberlake, Ne-Yo, Chris Brown, dan Stevie Wonder dengan versinya sendiri.

Video amatir yang tadinya untuk kerabat dan keluarga diunduh hingga jutaan kali. Ketagihan, Justin dan ibunya terus mengupload video ke Internet. Semuanya jadi hits di You Tube.


Fenomena menarik

Video amatir ala Justin ini sebetulnya menjadi fenomena menarik di Indonesia. YouTube telah melambungkan nama-nama yang sama sekali tidak dikenal menjadi terkenal dalam waktu yang sangat singkat. Sinta dan Jojo tiba-tiba saja jadi bahan perbincangan di sosial media setelah mengunggah lagu "Keong Racun". Bona Paputungan, seorang narapidana di penjara, meroket popularitasnya dengan menyanyi lagu "Seandainya Aku Jadi Gayus".

Ada juga orang jalanan bernama Salauddin menjadi terkenal di YouTube setelah menyanyikan lagu "Udin Sedunia". Terakhir, tentu saja Briptu Norman Kamaru. Norman adalah seorang polisi anggota satuan Brimob Polda Gorontalo. Setelah video lipsync "Chaiyya Chaiyya" dan bergaya macam artis India, Shah Rukh Kan, yang diunggah ke YouTube, Norman menjadi terkenal bak selebritis dadakan.

Cuma, nasib Briptu Norman, Salauddin, Bona Paputungan, Sinta dan Jojo, tidak sebagus Justin Bieber. Hal ini karena tidak dilihat oleh Scooter Braun, seorang agen pencari bakat dari Amerika Serikat.

Braun, seorang Marketing Eksekutif dari So So Def, tanpa sengaja menyaksikan penampilan Justin di Youtube. Oleh karena terpesona dengan video Justin, Braun langsung memutuskan terbang ke Toronto untuk menemui remaja multitalenta ini. Braun lalu mempertemukan Justin dengan penyanyi rap Usher dan pemilik Island Records, L.A. Reid, di Atlanta untuk audisi.

Usher dan Reid juga langsung kepincut dan sontak menawarkan kontrak rekaman. Di bawah label Usher, Justin berhasil mengeluarkan sinle pertamanya, One Time, di tahun 2009 dan langsung bertengger di puncak tangga lagu paling digemari di 10 negara.


Penyanyi jalanan

Dalam buku biografi resmi Justin Bieber: My Story, diceritakan bahwa Justin tumbuh di kota kecil Stratford, Ontario, Kanada. Dia belajar menyanyi sendiri di depan cermin dan belajar main gitar secara otodidak. Kadang-kadang, Justin tampil di pertunjukan jalanan di kota kecil kelahirannya. Untung ada ibu yang rajin merekam dan memposting video Justin di YouTube.

"Tak pernah sebelumnya aku bermimpi bisa menjual jutaan keping rekaman, menyanyi di depan Presiden AS Barack Obama dan tour konser ke nyaris seluruh dunia," tutur Justin dalam bukunya.

My World Tour Consert membawa Justin Beiber ke 85 kota di seluruh dunia. Sebelum ke Jakarta, Justin sudah singgah di Tel Aviv, Israel (14 April), Singapura (19 April), dan Kuala Lumpur (21 April). Setelah dari Indonesia, ia dijadwalkan manggung di Boondall, Australia (26 April), Sydney (28-29 April), Melbourne (2-3 Mei) dan kota lainnya.

Sama dengan perjalanan tour dunianya, perjalanan karier Justin sangat mencengangkan. Ia tumbuh dari "zero to hero". Ia berkembang dari seorang penyanyi jalanan di Ontario menjadi penyanyi dunia yang konsernya ditonton jutaan penggemar di seantero jagat.

"Betul-betul impianku jadi kenyataan," kata Justin.

Album "My World" dirilis pada 17 November 2009 dan mendapat penghargaan platinum di Amerika Serikat.

Justin menjadi penyanyi pertama yang memiliki tujuh lagu dari album pertama yang keseluruhannya berhasil mendapat peringkat di Billboard Hot 100, sebuah daftar lagu-lagu terkemuka yang sedang digemari.

Kemashuran Justin Bieber di seluruh dunia dalam waktu singkat dikenal sebagai "Bieber Fever" (Demam Bieber). Walaupun dikenal akan suaranya, namun penyanyi ini juga mampu memainkan keyboards, piano, gitar, drum dan bahkan terompet, yang keseluruhannya dipelajarinya sendiri.

Terimakasih kepada Internet, khususnya YouTube, yang bisa membuat Justin Bieber termashur dan digemari dalam waktu yang sangat singkat. Di usianya yang ke masih belia, 17 tahun, Justin Bieber boleh dikata telah memiliki segalanya: uang dan kemashuran.(*)

http://www.antaranews.com/berita/255567/justin-bieber--kemashuran-via-youtube