Oleh : Akhmad Kusaeni
Jakarta, 4/8 (ANTARA) – Tak ada cendikiawan yang paling vokal menyuarakan Asia kecuali Prof. Kishore Mahbubani. Ia adalah diplomat Singapura keturunan India yang sudah menulis sekian banyak buku tentang bangsa-bangsa di Timur, termasuk yang provokatif seperti “Dapatkah Bangsa Asia Berfikir?”.
Namanya sangat dikenal di berbagai lembaga dunia sebagai penyuara Asia disamping Dr. Mahathir Muhammad dari Malaysia. Mahbubani juga pernah jadi Wakil Tetap Singapura di PBB yang sangat dihormati karena pandangan-pandangannya yang kritis dan jenius.
Hari-hari ini Mahbubani sedang road show ke Asia, termasuk ke Indonesia, mengkampanyekan bukunya yang terbaru “The New Asian Hemisphere”. Ia menjadi pembicara utama dalam Presidential Lecture di Istana Negara bersama-sama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hari Jumat (1/8), Dekan Lee Kuan Yew School of Public Policy, Universitas Nasional Singapura itu, berdiskusi di Universitas Paramadina.
“Tolong jangan panggil saya lagi Tuan Duta Besar. Saya sudah lama pensiun dari diplomat dan tidak bekerja di pemerintahan lagi. Saya lebih senang dipanggil professor, karena kemerdekaan akademik saya lebih terjamin dengan atribut itu,” katanya kepada Rektor Universitas Paramadina Anis Baswedan yang terus saja memanggilnya ”Mr. Ambassador”.
Bersama civitas akademika Universitas Paramadina, Mahbubani berdiskusi membahas topik ”Mengapa Asia Bangkit?”. Berkemeja batik, Mahbubani dengan sangat meyakinkan menjelaskan thesisnya mengenai kebangkitan Asia dan perlunya Barat mulai menyesuaikan diri dengan pudarnya dominasi mereka di dunia.
”Kita memasuki era baru dalam sejarah dunia, yaitu berakhirnya dominasi Barat dan datangnya abad Asia,” katanya dengan mantap dan tegas.
Abad Asia
Abad 21 adalah abad Asia. Inilah inti kampanye dan keyakinan Mahbubani yang dituangkan dalam berbagai diskusi dan artikel di media massa internasional, termasuk ”The Making of Modern Asia” di majalah Time, edisi 7 Agustus 2005.
Sebagai anak dari imigran miskin India yang tumbuh tahun 1950-an di koloni Inggris, Singapura, Mahbubani bersama-sama teman sekelasnya tidak pernah menyangka bahwa Abad Asia akan datang pada sisa hidupnya.
”Kami dulu percaya bahwa Inggris adalah pusat dunia, bahkan seorang teman sering mengatakan jalan-jalan dan taman di London dipagari bersepuh emas. Sedangkan Cina dan India waktu itu dibelenggu kemiskinan yang sepertinya akan abadi,” kenangnya.
Kini, katanya bersemangat, bangsa-bangsa Asia telah bangkit. Abad Asia sudah dimulai. Yang membuat Asia bangkit tak bisa dibendung adalah keberhasilan Cina dan India. Cina sukses sebagai dinamo ekonomi dan India berhasil sebagai kampium demokrasi. Negara-negara Asia lain seperti Jepang, Korea Selatan, mengadopsi demokrasi dan pasar bebas yang digelindingkan Barat. Mereka mengimitasi Barat.
Prinsip-prinsip ekonomi yang mendorong kebangkitan Asia berasal dari Adam Smith. Ideologi politik Asia yang berkembang berasal dari pemikir Barat dari John Locke sampai Karl Marx. Lembaga-lembaga multilateral internasional yang membentuk ekonomi politik Asia, seperti PBB, Bank Dunia, IMF dan WTO, adalah hasil kreasi Barat. Pendek kata, bangsa Asia telah mendapat manfaat besar dari posisinya sebagai ”penumpang” dalam bus globalisasi yang dijalankan Barat.
”Saatnya mereka harus jadi sopir. Bangsa Asia tidak bisa selamanya menjadi penumpang. Asia harus mengendalikan arah perkembangan ekonomi politik dunia sebagaimana Barat telah melakukannya selama ini,” katanya lagi.
Di Asia, ungkap Kishore, terdapat separuh jumlah penduduk dunia. Asia menghasilkan lebih dari sepertiga hasil ekonomi global. Asia menggerakkan sejumlah besar simpanan dunia. Tengok saja halaman terakhir setiap terbitan The Economist. Di situ terdapat daftar negara-negara dengan cadangan devisa tertinggi. Sebagian di antaranya negara-negara Asia.
Wake up call
Dunia tampaknya harus belajar terhadap tanggungjawab baru yang harus diemban bangsa-bangsa Asia. Pertanyaannya adalah apakah negara-negara Barat, terutama yang berkuasa di Washington, akan terbangun dengan ”wake up call” dari realitas baru ini. Realitas yang menunjukan tanda-tanda kebangkitan Asia dan pudarnya dominasi Barat di dunia.
Ketika Presiden baru Amerika Serikat dilantik bulan Januari tahun depan, menurut Mahbubani, akankah dia berkata,”Hentikan kunjungan ke Eropa. Kirimkan saya ke Pasifik, bukan ke Atlantik. Negara-negara maju G-8 diambang terbenam. Biarkan saya fokus ke fajar baru yang siap menyingsing di Asia”.
Barat sudah mendominasi sejarah dunia selama 200 tahun terakhir. Tetapi janganlah lupa bahwa dari tahun 1 sampai tahun 1820, sebagaimana dikemukakan oleh sejarawan Inggris Angus Maddison, yang menjadi raksasa ekonomi dunia adalah Cina dan India. ”Jarum jam sejarah akan berputar kembali di abad 21,” ujar Mahbubani.
Sebuah kajian yang dilakukan oleh Goldman Sachs tahun 2003 secara meyakinkan telah memprediksi bahwa pada 2050, empat negara raksasa ekonomi di dunia secara berurutan kebesarannya adalah Cina, Amerika Serikat, India dan Jepang. Kajian terbaru Goldman Sachs menunjukan bahwa prediksi itu bisa terjadi lebih cepat lagi dan ekonomi India akan melampaui AS pada tahun 2043.
”Perubahan akan sangat dramatis dan terjadi begitu cepat,” katanya.
Lawrence Summers, ekonom yang mantan Menteri Keuangan AS, mengatakan pada masa Revolusi Industri peningkatan standar hidup melonjak 50 persen sepanjang usia hidup manusia. Pertumbuhan Asia sekarang menunjukan lonjakan luar biasa yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah kemanusiaan, yaitu standar hidup naik 100 kali lipat atau 10.000 persen sepanjang usia hidup seseorang.
Namun, tidak semua pakar di Barat seperti Lawrence Summer. Alfred Balitzer dari Pascasarjana Universitas Claremont, AS, meragukan thesis Mahbubani. Dulu pada awal 1980-an, kata Balitzer, Mahbubani mengacu pada ”Asian Values” yang menjadi pendorong kuat keajaiban ekonomi Asia. Nilai-nilai Asia dianggap lebih tinggi ketimbang ”Western Values”, wabilkhusus ”American Values”.
”Argumentasi itu mati diam-diam dengan datangnya krisis ekonomi Asia tahun 1997-1998,” kata Balitzer yang meresensi buku Mahbubani di koran Straits Times beberapa waktu lalu.
Prof. Mahbubani berhak untuk bangga dengan kemajuan ekonomi Cina, India dan ASEAN. Ia juga benar bahwa Asia harus mendapat perhatian lebih besar dari AS dan bangsa-bangsa Asia harus memainkan peranan yang besar di lembaga-lembaga internasional.
”Tapi, ia salah, bahkan salah besar, dalam prediksinya tentang siapa yang bangkit dan siapa yang pudar. Asia memang bangkit, tapi bukan berarti Barat runtuh,” katanya.
Balitzer menyindir bahwa mungkin saja Abad 21 itu jadi Abad Asia, tapi sejarah tentang itu belum ditulis. Hanya dengan perjuangan dan kerja keras, bangsa-bangsa Asia bisa menentukan nasibnya dan menulis sejarahnya.
Waktu jua yang akan membuktikan bahwa kebangkitan Asia hanya wacana atau sesuatu yang nyata. Sejarah sudah mencatat Pax Romawi, Pax Britanica, dan kini Pax Americana. Mungkinkah Pax Asia berikutnya?
Senin, 04 Agustus 2008
Kamis, 10 Juli 2008
INDONESIA : NEGERI TANPA MERK
Oleh Akhmad Kusaeni
Jakarta, 9/7 (ANTARA) – Indonesia adalah negeri tanpa merk. Padahal, merk atau brand sangat menentukan citra negeri ini.
Di era persaingan global sekarang ini, merk sangat penting dalam strategi pencitraan dan pemasaran supaya orang bisa tahu keunikan negeri ini: apakah sebagai tujuan wisata, pusat produksi barang tertentu, atau tempat yang menguntungkan untuk investasi.
Ahli branding Randal Frost mengatakan, ”Bayangkan Prancis tanpa mode, Jerman tanpa produk mobil mewah, dan Jepang tanpa produk elektronik yang menjadi keunggulannya dari bangsa lain”.
Prancis, Jerman dan Jepang adalah contoh negeri yang bisa mencitrakan dirinya berbeda dengan bangsa lain. Prancis identik dengan dunia fashion. Jerman dengan Mercedes Bentz. Jepang dengan Sony, Toshiba, atau LG.
Negara-negara tetangga juga sudah lebih baik mencitrakan dirinya. Malaysia dan Singapura telah berhasil membangun identitas nasionalnya dan menjualnya dengan gegap gempita. Dengan slogan ”Malaysia is truly Asia”, negeri jiran itu sukses mencitrakan diri sebagai negara yang memiliki resort yang indah dan negara dengan multikultural yang rukun.
Hampir tiap bulan wartawan-wartawan Indonesia diundang ke Kuala Lumpur, Johor atau Genting oleh Badan Pelancongan Malaysia. Merekapun menuliskan laporannya di media masing-masing bagaimana indahnya Kuala Lumpur dilihat dari puncak Menara Petronas, enaknya ”mie rebus Haji Wahid di Johor” atau bagaimana maraknya suasana Genting, pusat perjudian di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu. Semuanya diagendakan untuk menarik perhatian turis agar berkunjung ke Malaysia.
Sementara Singapura dengan slogan ”Uniquely Singapore” juga berhasil membangun merk-nya sebagai surga untuk belanja di Asia. Orang-orang Indonesia, apalagi pada saat liburan sekolah sekarang ini, tumplek blek ke Negeri Singa itu karena terpincut iklan ”Singapore’s Great Sale”. Tiket pesawat dibuat murah, dengan harapan sesampainya di negara kota itu, para turis bisa menghabiskan uang mereka untuk belanja dan membayar biaya akomodasi yang mahal.
”Ini ironi yang merisaukan. Saat kita mengkampanyekan ’Visit Indonesia year 2008”, pers nasional mengajak liburan ke negeri tetangga,” kata Sekjen PR Society of Indonesia, Ahmed Kurnia Suriawidjaja.
Cukup bagus
Ahmed Kurnia menyebut kegagalan bangsa ini dalam pencitraan dirinya. Padahal, dulunya, merk Indonesia cukup bagus sebagai ”Keajaiban Asia” (Asia Miracle) yang dipuja-puji lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia atau Badan Pangan PBB. Akibat krisis ekonomi tahun 1998, semuanya terpuruk. Citra dan merk Indonesia hancur.
Jadilah, Indonesia negeri tanpa merk. Tidak ada satu pihakpun yang memikirkan branding, karena semua energi bangsa terkuras menghadapi krisis. Keperluan untuk pencitraan terkalahkan oleh tekanan untuk segera keluar dari krisis dan memulihkan perekonomian nasional.
Oleh karena Indonesia tidak sempat memikirkan citra, maka pihak lainlah yang memberikan merk kepada negeri ini. Ketika dunia sedang memerangi terorisme, maka Indonesia dicap sebagai negara pelindung teroris (harboring terrorism). Transparancy International memberi label Indonesia sebagai salah satu negara terkorup.
Travel warning yang dikeluarkan Amerika Serikat dan Australia memberi stigma Indonesia sebagai negara tidak aman dan berbahaya. Sementara pegiat HAM internasional “menggoreng” kasus terbunuhnya Munir dengan menuding Indonesia sebagai negara pelanggar hak asasi manusia dan membiarkan terjadinya pembunuhan politik.
Memang, belakangan ada upaya untuk kembali memikirkan perbaikan citra.
”Indonesia pernah membuat pencitraan, namun selalu berubah-ubah,” kata Ketua Indonesia Brand Entourage Handito Hadi Joewono.
Handito menyebut slogan-slogan yang pernah ada dikembangkan pasca lengsernya Soeharto, seperti "Indonesia, just a smile away", "Indonesia, The color of life", "Indonesia endless beauty of diversity" dan "Celebrating 100 Years of National Awakening".
“Tapi upaya itu sepertinya “gak nendang”,” katanya.
”Gak nendang” adalah istilah gaul untuk menyebut sesuatu yang tidak mengena sasaran atau sesuatu yang tak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Citra baru
Handito menekankan pentingnya dikembangkan citra baru atau "re-branding of Indonesia". Citra negeri yang merosot merupakan pendorong paksa perbubahan merk Indonesia.
Ia mengatakan saat ini terjadi krisis pencitraan atau "brand crisis". Untuk itu diperlukan sebuah "re-branding" untuk menciptakan citra Indonesia baru.
Dalam istilah hukum dikenal adanya "rehabilitasi nama baik" berupa dipulihkannya nama baik seseorang yang terbukti tidak bersalah atas kasus hukum terntentu.
"Rehabilitasi nama baik merupakan contoh kongkrit dari re-branding," katanya.
Masalahnya, mau diberi merk apa Indonesia ke depan?
Apapun merknya, yang penting brand Indonesia itu merupakan keunggulan bangsa Indonesia yang unik dan tidak dimiliki bangsa lain. Begitu juga apakah Indonesia itu akan dicitrakan sebagai tujuan wisata, penghasil produk unggul tertentu, atau tempat investasi yang baik, adalah subyek untuk diputuskan oleh semua stakeholders bangsa ini.
Intinya Indonesia perlu re-branding. Sampai kapan negeri ini tanpa merk?
Jakarta, 9/7 (ANTARA) – Indonesia adalah negeri tanpa merk. Padahal, merk atau brand sangat menentukan citra negeri ini.
Di era persaingan global sekarang ini, merk sangat penting dalam strategi pencitraan dan pemasaran supaya orang bisa tahu keunikan negeri ini: apakah sebagai tujuan wisata, pusat produksi barang tertentu, atau tempat yang menguntungkan untuk investasi.
Ahli branding Randal Frost mengatakan, ”Bayangkan Prancis tanpa mode, Jerman tanpa produk mobil mewah, dan Jepang tanpa produk elektronik yang menjadi keunggulannya dari bangsa lain”.
Prancis, Jerman dan Jepang adalah contoh negeri yang bisa mencitrakan dirinya berbeda dengan bangsa lain. Prancis identik dengan dunia fashion. Jerman dengan Mercedes Bentz. Jepang dengan Sony, Toshiba, atau LG.
Negara-negara tetangga juga sudah lebih baik mencitrakan dirinya. Malaysia dan Singapura telah berhasil membangun identitas nasionalnya dan menjualnya dengan gegap gempita. Dengan slogan ”Malaysia is truly Asia”, negeri jiran itu sukses mencitrakan diri sebagai negara yang memiliki resort yang indah dan negara dengan multikultural yang rukun.
Hampir tiap bulan wartawan-wartawan Indonesia diundang ke Kuala Lumpur, Johor atau Genting oleh Badan Pelancongan Malaysia. Merekapun menuliskan laporannya di media masing-masing bagaimana indahnya Kuala Lumpur dilihat dari puncak Menara Petronas, enaknya ”mie rebus Haji Wahid di Johor” atau bagaimana maraknya suasana Genting, pusat perjudian di negara berpenduduk mayoritas Muslim itu. Semuanya diagendakan untuk menarik perhatian turis agar berkunjung ke Malaysia.
Sementara Singapura dengan slogan ”Uniquely Singapore” juga berhasil membangun merk-nya sebagai surga untuk belanja di Asia. Orang-orang Indonesia, apalagi pada saat liburan sekolah sekarang ini, tumplek blek ke Negeri Singa itu karena terpincut iklan ”Singapore’s Great Sale”. Tiket pesawat dibuat murah, dengan harapan sesampainya di negara kota itu, para turis bisa menghabiskan uang mereka untuk belanja dan membayar biaya akomodasi yang mahal.
”Ini ironi yang merisaukan. Saat kita mengkampanyekan ’Visit Indonesia year 2008”, pers nasional mengajak liburan ke negeri tetangga,” kata Sekjen PR Society of Indonesia, Ahmed Kurnia Suriawidjaja.
Cukup bagus
Ahmed Kurnia menyebut kegagalan bangsa ini dalam pencitraan dirinya. Padahal, dulunya, merk Indonesia cukup bagus sebagai ”Keajaiban Asia” (Asia Miracle) yang dipuja-puji lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia atau Badan Pangan PBB. Akibat krisis ekonomi tahun 1998, semuanya terpuruk. Citra dan merk Indonesia hancur.
Jadilah, Indonesia negeri tanpa merk. Tidak ada satu pihakpun yang memikirkan branding, karena semua energi bangsa terkuras menghadapi krisis. Keperluan untuk pencitraan terkalahkan oleh tekanan untuk segera keluar dari krisis dan memulihkan perekonomian nasional.
Oleh karena Indonesia tidak sempat memikirkan citra, maka pihak lainlah yang memberikan merk kepada negeri ini. Ketika dunia sedang memerangi terorisme, maka Indonesia dicap sebagai negara pelindung teroris (harboring terrorism). Transparancy International memberi label Indonesia sebagai salah satu negara terkorup.
Travel warning yang dikeluarkan Amerika Serikat dan Australia memberi stigma Indonesia sebagai negara tidak aman dan berbahaya. Sementara pegiat HAM internasional “menggoreng” kasus terbunuhnya Munir dengan menuding Indonesia sebagai negara pelanggar hak asasi manusia dan membiarkan terjadinya pembunuhan politik.
Memang, belakangan ada upaya untuk kembali memikirkan perbaikan citra.
”Indonesia pernah membuat pencitraan, namun selalu berubah-ubah,” kata Ketua Indonesia Brand Entourage Handito Hadi Joewono.
Handito menyebut slogan-slogan yang pernah ada dikembangkan pasca lengsernya Soeharto, seperti "Indonesia, just a smile away", "Indonesia, The color of life", "Indonesia endless beauty of diversity" dan "Celebrating 100 Years of National Awakening".
“Tapi upaya itu sepertinya “gak nendang”,” katanya.
”Gak nendang” adalah istilah gaul untuk menyebut sesuatu yang tidak mengena sasaran atau sesuatu yang tak membuahkan hasil seperti yang diharapkan.
Citra baru
Handito menekankan pentingnya dikembangkan citra baru atau "re-branding of Indonesia". Citra negeri yang merosot merupakan pendorong paksa perbubahan merk Indonesia.
Ia mengatakan saat ini terjadi krisis pencitraan atau "brand crisis". Untuk itu diperlukan sebuah "re-branding" untuk menciptakan citra Indonesia baru.
Dalam istilah hukum dikenal adanya "rehabilitasi nama baik" berupa dipulihkannya nama baik seseorang yang terbukti tidak bersalah atas kasus hukum terntentu.
"Rehabilitasi nama baik merupakan contoh kongkrit dari re-branding," katanya.
Masalahnya, mau diberi merk apa Indonesia ke depan?
Apapun merknya, yang penting brand Indonesia itu merupakan keunggulan bangsa Indonesia yang unik dan tidak dimiliki bangsa lain. Begitu juga apakah Indonesia itu akan dicitrakan sebagai tujuan wisata, penghasil produk unggul tertentu, atau tempat investasi yang baik, adalah subyek untuk diputuskan oleh semua stakeholders bangsa ini.
Intinya Indonesia perlu re-branding. Sampai kapan negeri ini tanpa merk?
Kamis, 05 Juni 2008
ABG GENERASI "CLICK FIVE"
Oleh Akhmad Kusaeni
Jakarta, 5/6 (ANTARA) – Generasi apakah gerangan para remaja belasan tahun yang berjingkrak histeris menonton konser ”The Click Five” di Istora Senayan, Jakarta, Rabu malam, 4 Juni 2008?
Mereka adalah anak-anak baru gede yang biasa disebut ABG. Mungkin duduk di bangku SMP, atau SMA. Nonton pun masih harus didampingi orang tua. Tapi mereka, kebanyakan cewek, punya hasrat dan energi yang luar biasa.
Mereka menyanyi, mereka berjingkrak, mereka berteriak, mengelu-elukan grup band asal Boston, Amerika Serikat, yang lima personil nya muda usia. Kece-kece pula. Sahutan “Kyle, I love you!” untuk si vokalis imut-imut (juga “I love you, Joey” untuk si drumer keren) seakan tak pernah berhenti berkumandang selama dua jam pertunjukan.
Siapakah gerangan para ABG yang malam itu, sambil bernyanyi dan berjingkrak, masih sempat memotret, menelepon di tengah kebisingan musik pop-rock, dan ber-SMS ria dalam kerumunan penonton?
Mereka adalah anak-anak kelas menengah kota yang membeli tiket seharga Rp250.000 sampai Rp350.000 lewat Internet atau online banking. Lalu datang ke tempat konser, umumnya dengan sejumlah kawan, dengan membawa sendiri mobil macam Honda Jazz, Suzuki Swift, atau sejenis city car lainnya. Yang lain diantar orang tua, atau sopir, dengan mobil yang lebih mewah lagi.
Mereka adalah generasi post-modern yang sekolah di International School yang berpengantar Bahasa Inggris dan tumbuh menjamur di seantero Ibukota. Paling tidak, mereka belajar di sekolah favorite mahal, mengambil kursus bahasa asing, atau pernah tinggal di luar negeri, sehingga gaya mereka bicara persis Cinta Laura. Artis remaja blasteran Indo-Jerman itu dikenal suka bicara ”campur sari” Indonesia-Inggris. Kalimat Cinta Laura yang terkenal adalah “Mana hujan, becek, gak ada ojek... So, I call my parent untuk menjemput”.
Anak-anak global
Mereka, meminjam istilah Thomas L.Friedman dalam buku “The Lexus and the Olive Tree”, adalah anak-anak masa depan yang dibentuk oleh budaya global yang didominasi oleh tiga M, yaitu Mc Donald, MTV, dan Macintosh.
Anak-anak global diwarnai gaya hidup dan budaya massa global. Mereka menggemari rantai makanan fast food waralaba internasional, memiliki perilaku dan gaya hidup yang dipengaruhi idolanya di MTV, serta terbiasa menggunakan teknologi komunikasi canggih seperti Internet, blogs, dan friendster.
Oleh Steven D.Zink dari Universitas Nevada, Amerika Serikat, anak-anak global tersebut disebut “Net Generation”. Mereka lahir dan besar pada saat meruaknya teknologi Internet dengan world wide web (WWW)-nya. Net Generation hanya memerlukan satu alat, sebut saja hand phone, untuk melakukan apa saja yang diinginkannya: menelepon, menonton, chatting, browsing, downloading, main game, memotret, memesan dan membeli barang.
Dira, siswi kelas 2 SMP Labschool, Rawamangun, Jakarta Timur, termasuk ”Net Generation”. Setiap hari merasa harus ”nginternet” satu atau dua jam. Di depan komputer, ia melakukan berbagai aktivitas sekaligus. Mendengarkan musik, mengirim dan membalas email, chatting, searching, downloading lagu, posting foto, dan updating blogs miliknya: dirasblogandlyrics.multiply.com.
Ia memiliki 500-an teman di friendster dari berbagai negara, menjadi anggota fans The Click Five bersama jutaan remaja di seluruh dunia lainnya, membeli ticket konser di Detik.Com atau memesan buku lewat Amazon.com. Ia juga mencari data untuk karya tulis dan PR sekolah di Google dan menganggap Wikipedia sebagai guru yang bisa menjawab apapun yang ingin diketahuinya.
Dunia yang berbeda
Anak-anak global atau Net Generation jelas sangat berbeda dengan generasi orang tuanya. Menurut Thomas Friedman, kebanyakan orang tua sekarang hidup dalam era Perang Dingin, sedangkan Net Generation lahir dan besar dalam era pasca Perang Dingin atau era globalisasi.
Pola pikir orang tua adalah pola pikir Perang Dingin. Yang kuat adalah yang memiliki senjata dan bom lebih banyak. Dunia terbelah menjadi Barat dan Timur, komunis dan kapitalis, kawan dan musuh. Presiden pertama Indonesia Soekarno pernah melarang musik ”ngak-ngik-ngok” dimainkan di Tanah Air, hanya karena musik itu berasal dari Barat. Soekarno pulalah yang pernah menyatakan ”Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”.
Sedangkan pola pikir Net Generation adalah pola pikir globalisasi. Kalau masa Perang Dingin pertanyaannya adalah seberapa banyak rudal anda, maka pada era globalisasi pertanyaannya adalah seberapa banyak bandwith anda? Seberapa kuat sinyal ponsel anda?
Kalau pada Perang Dingin dunia ditandai keterpisahan (NATO versus Pakta Warsawa), maka era globalisasi ditandai ketersatuan dan integrasi (WTO, Organisasi Perdagangan Dunia). Tidak ada lagi Barat-Timur, Komunis-Kapitalis, tapi satu dunia.
Dalam kampung dunia (global village) semua memiliki peluang dan hak yang sama. Anak-anak di Indonesia, asal memiliki akses ke tiga M (McDonald, MTV dan Macintosh), akan tumbuh sama dan sebangun dengan anak-anak di belahan dunia lain, di benua Amerika, Eropa atau Afrika.
Anak-anak global bisa menyukai jenis makanan yang sama, memiliki idola yang sama, dan gaya hidup yang sama. Fenomena inilah yang tampak pada konser The Click Five di mana saja: di Amerika, Jepang, Cina, Malaysia, atau Indonesia. Anak-anak kulit putih, kuning, hitam, dan sawo matang bisa bernyanyi bersama, jingkrak-jingkrak bersama, dan memuja idola yang sama.
Mereka adalah generasi ”Click Five” (Click atau klik adalah bunyi tombol komputer ketika ditekan). Mereka adalah Net Generation yang hidup dalam ”alam pikiran modern dan masa-masa menyenangkan”, sebagaimana bunyi tajuk tur The Click Five 2008: "Modern Minds and Great Times”.
Jakarta, 5/6 (ANTARA) – Generasi apakah gerangan para remaja belasan tahun yang berjingkrak histeris menonton konser ”The Click Five” di Istora Senayan, Jakarta, Rabu malam, 4 Juni 2008?
Mereka adalah anak-anak baru gede yang biasa disebut ABG. Mungkin duduk di bangku SMP, atau SMA. Nonton pun masih harus didampingi orang tua. Tapi mereka, kebanyakan cewek, punya hasrat dan energi yang luar biasa.
Mereka menyanyi, mereka berjingkrak, mereka berteriak, mengelu-elukan grup band asal Boston, Amerika Serikat, yang lima personil nya muda usia. Kece-kece pula. Sahutan “Kyle, I love you!” untuk si vokalis imut-imut (juga “I love you, Joey” untuk si drumer keren) seakan tak pernah berhenti berkumandang selama dua jam pertunjukan.
Siapakah gerangan para ABG yang malam itu, sambil bernyanyi dan berjingkrak, masih sempat memotret, menelepon di tengah kebisingan musik pop-rock, dan ber-SMS ria dalam kerumunan penonton?
Mereka adalah anak-anak kelas menengah kota yang membeli tiket seharga Rp250.000 sampai Rp350.000 lewat Internet atau online banking. Lalu datang ke tempat konser, umumnya dengan sejumlah kawan, dengan membawa sendiri mobil macam Honda Jazz, Suzuki Swift, atau sejenis city car lainnya. Yang lain diantar orang tua, atau sopir, dengan mobil yang lebih mewah lagi.
Mereka adalah generasi post-modern yang sekolah di International School yang berpengantar Bahasa Inggris dan tumbuh menjamur di seantero Ibukota. Paling tidak, mereka belajar di sekolah favorite mahal, mengambil kursus bahasa asing, atau pernah tinggal di luar negeri, sehingga gaya mereka bicara persis Cinta Laura. Artis remaja blasteran Indo-Jerman itu dikenal suka bicara ”campur sari” Indonesia-Inggris. Kalimat Cinta Laura yang terkenal adalah “Mana hujan, becek, gak ada ojek... So, I call my parent untuk menjemput”.
Anak-anak global
Mereka, meminjam istilah Thomas L.Friedman dalam buku “The Lexus and the Olive Tree”, adalah anak-anak masa depan yang dibentuk oleh budaya global yang didominasi oleh tiga M, yaitu Mc Donald, MTV, dan Macintosh.
Anak-anak global diwarnai gaya hidup dan budaya massa global. Mereka menggemari rantai makanan fast food waralaba internasional, memiliki perilaku dan gaya hidup yang dipengaruhi idolanya di MTV, serta terbiasa menggunakan teknologi komunikasi canggih seperti Internet, blogs, dan friendster.
Oleh Steven D.Zink dari Universitas Nevada, Amerika Serikat, anak-anak global tersebut disebut “Net Generation”. Mereka lahir dan besar pada saat meruaknya teknologi Internet dengan world wide web (WWW)-nya. Net Generation hanya memerlukan satu alat, sebut saja hand phone, untuk melakukan apa saja yang diinginkannya: menelepon, menonton, chatting, browsing, downloading, main game, memotret, memesan dan membeli barang.
Dira, siswi kelas 2 SMP Labschool, Rawamangun, Jakarta Timur, termasuk ”Net Generation”. Setiap hari merasa harus ”nginternet” satu atau dua jam. Di depan komputer, ia melakukan berbagai aktivitas sekaligus. Mendengarkan musik, mengirim dan membalas email, chatting, searching, downloading lagu, posting foto, dan updating blogs miliknya: dirasblogandlyrics.multiply.com.
Ia memiliki 500-an teman di friendster dari berbagai negara, menjadi anggota fans The Click Five bersama jutaan remaja di seluruh dunia lainnya, membeli ticket konser di Detik.Com atau memesan buku lewat Amazon.com. Ia juga mencari data untuk karya tulis dan PR sekolah di Google dan menganggap Wikipedia sebagai guru yang bisa menjawab apapun yang ingin diketahuinya.
Dunia yang berbeda
Anak-anak global atau Net Generation jelas sangat berbeda dengan generasi orang tuanya. Menurut Thomas Friedman, kebanyakan orang tua sekarang hidup dalam era Perang Dingin, sedangkan Net Generation lahir dan besar dalam era pasca Perang Dingin atau era globalisasi.
Pola pikir orang tua adalah pola pikir Perang Dingin. Yang kuat adalah yang memiliki senjata dan bom lebih banyak. Dunia terbelah menjadi Barat dan Timur, komunis dan kapitalis, kawan dan musuh. Presiden pertama Indonesia Soekarno pernah melarang musik ”ngak-ngik-ngok” dimainkan di Tanah Air, hanya karena musik itu berasal dari Barat. Soekarno pulalah yang pernah menyatakan ”Inggris kita linggis, Amerika kita setrika”.
Sedangkan pola pikir Net Generation adalah pola pikir globalisasi. Kalau masa Perang Dingin pertanyaannya adalah seberapa banyak rudal anda, maka pada era globalisasi pertanyaannya adalah seberapa banyak bandwith anda? Seberapa kuat sinyal ponsel anda?
Kalau pada Perang Dingin dunia ditandai keterpisahan (NATO versus Pakta Warsawa), maka era globalisasi ditandai ketersatuan dan integrasi (WTO, Organisasi Perdagangan Dunia). Tidak ada lagi Barat-Timur, Komunis-Kapitalis, tapi satu dunia.
Dalam kampung dunia (global village) semua memiliki peluang dan hak yang sama. Anak-anak di Indonesia, asal memiliki akses ke tiga M (McDonald, MTV dan Macintosh), akan tumbuh sama dan sebangun dengan anak-anak di belahan dunia lain, di benua Amerika, Eropa atau Afrika.
Anak-anak global bisa menyukai jenis makanan yang sama, memiliki idola yang sama, dan gaya hidup yang sama. Fenomena inilah yang tampak pada konser The Click Five di mana saja: di Amerika, Jepang, Cina, Malaysia, atau Indonesia. Anak-anak kulit putih, kuning, hitam, dan sawo matang bisa bernyanyi bersama, jingkrak-jingkrak bersama, dan memuja idola yang sama.
Mereka adalah generasi ”Click Five” (Click atau klik adalah bunyi tombol komputer ketika ditekan). Mereka adalah Net Generation yang hidup dalam ”alam pikiran modern dan masa-masa menyenangkan”, sebagaimana bunyi tajuk tur The Click Five 2008: "Modern Minds and Great Times”.
Langganan:
Postingan (Atom)